Kamis, 09 Desember 2010

Consequences...


It’s a wonderful day…Sambil ngetik, ngedengerin lagu, saya masih bisa ym-an dengan beberapa kawan. Entah, apa yang sedang dilakukan SBY sekarang. Orang nomor satu di negeri ini. Duduk di ruang kerjanya, sambil menerima tamu, membaca setumpuk paper atau meeting dengan petinggi negara…Saya berani taruhan, isi kepala beliau tidak se-fresh saya. Bayangkan saja, sejumlah tuntutan, protes, bahkan caci maki beliau terima setiap hari…Itu yang kelihatan, sementara tidak sedikit orang kita yang suka “ngrundel” di belakang.
Kasihan. Belum tuntas masalah KPK, Bank Century, Gayus, musibah di beberapa kota, muncul lagi masalah kedaulatan Yogya, tuntutan petani di daerah bencana soal ternak mereka yang dijanjikan akan dibeli pemerintah, …etc. Andai sebuah film, pasti soundtracknya lagu milik Project Pop…Capek deh…capek deh…
He’s only a human being…dia hanya manusia biasa. Ya, memang no excuse untuk sebuah tanggungjawab yang sudah bersedia dia pegang. Jujur, saya pun merasakan hal yang sama, ketika memegang tanggungjawab memegang sebuah rubrik. Anytime…protes, pertanyaan, sanggahan, musti diterima dengan lapang dada. Edisi ini, fotonya banyak salah letak. Teks salah cetak, judul-judul tidak menarik, bahan kurang update, bla…bla…bla…Pusinggg…But, itulah konsekuensi setiap pekerjaan. Tuntutan tanggungjawab, tuntutan tampil sempurna dan memenuhi selera banyak kepala.  
Pernah saya merasa “cemburu” dan gemas melihat anak muda sekarang too much excuse. Contoh sederhananya, ketika saya masih “ngantor” di sebuah penerbitan. Ingin menemui nara sumber, alamat dan nomer telponnya ada yang menyiapkan. Rapat redaksi yang dahulu dikatakan “acara paling sakral” alias tidak boleh absen, kini bisa ditinggalkan. Template menulis standar yang berulangkali dijelaskan, tetap saja dilanggar. Foto tidak lengkap. Sementara saya tidak bisa meninggalkan meja kerja saya seenaknya. Baik atau jelek output yang keluar, redakturnya dulu yang dipanggil. Foto kudu sempurna dan lengkap. Sampai-sampai, ketika rasanya semua masalah terkumpul menjadi bola salju yang siap menghancurkan, saya hanya bisa bilang,…tangan saya hanya dua, saya manusia biasa… hahahaha…Setelah saya pikir-pikir lagi, konyol. Kenapa saya musti mencari-cari alasan buat pembenaran? Ya, silahkan telan bulat-bulat semua resikonya, bila kita sudah bersedia menerima tanggungjawab itu. Tidak mencari-cari pembenaran…
Siap atau tidak, ketika kita mengiyakan suatu pekerjaan, tandanya kita siap menjalankan sesuai porsinya. Kini, saya memang bebas memutar musik keras-keras, menonton televisi dan chatting anytime, tanpa memikirkan siapa yang melayout tulisan saya, bagaimana wujudnya saat sudah dicetak atau bagaimana respons pembaca. Namun hati kecil saya justru merindukan, masa-masa saya musti berkutat dengan segudang tanggungjawab, tuntutan mengejar target untuk bisa sempurna. Karena lewat kritikan, tuntutan, teguran, saya terpacu untuk semakin berhati-hati mengerjakan setiap detail pekerjaan saya. Semua tanggungjawab, jabatan, punya konsekuensi. Kalaupun SBY dan SBY-SBY lain, di”hajar” beragam kritik, termasuk kamu…anggap saja, that’s your concequences…Be happy dengan apa pun yang kita jalani dan miliki. (tx to orang-orang yang sudah “membesarkan” saya…)

Tidak ada komentar: