Minggu, 10 April 2011

TEROR PEMUJA LEAK



Jujur saja. Aku suka ketakutan sendiri, setiap kali berada dalam rumah yang baru sebulan aku tinggali. Meski sejak kecil, keluarga besarku mengajarkan anak-anaknya untuk tidak pernah takut hantu dan sejenisnya, termasuk cuek dengan takhayul toh bulu kuduk ini suka berdiri. Biasanya jelang magrib, Mbak Nur yang bekerja merapikan rumah sudah pulang. Terpaksa aku sendirian, menunggu Mas Fahri pulang kantor.
Aku tidak habis pikir, mengapa laki-laki yang menikahiku setahun yang lalu itu menyukai rumah ini. Katanya, pertamakali dia menginjakkan kaki di rumah berasitektur Bali itu, dia langsung jatuh cinta. Bahkan mati-matian, dia berusaha meyakinkan aku untuk menjual rumah lama kami, lantas pindah ke sini. Memang sih, lebih luas. Kami bisa menghabiskan waktu dengan duduk di teras belakang rumah, sambil memandang sepasang patung penari  yang ada di depan kolam ikan.
“Ngapain takut, Ta… Nggak ada apa-apa. Paling itu perasaanmu saja. Jangan dilebih-lebihkan,” tegur Mas Fahri sore itu, ketika mendengar pengaduanku lagi.
“Ngomong sih gampang, mas…Tapi kita yang mengalaminya yang tidak enak. Bayangkan saja, tiap abis magrib bulu kudukku sering berdiri. Rasanya ada seseorang suka mengamati aku diam-diam, ketika aku sedang menyiapkan makan malam di dapur atau memeriksa pekerjaan kantor di teras belakang.”
“Tapi nggak ada siapa-siapa kan?”
“Masa nunggu aku ketemuan beneran dengan orang itu mas? Kamu nggak mengkhawatirkan istrimu  ini? Kamu menunggu, suatu hari menemukan aku tergeletak karena mati ketakutan?”
Mas Fahri tergelak, mendengar nada suaraku mulai parau. Tanda aku, marah. Ya, bayangin saja. Kita benar-benar takut, eh…orang yang kita harapkan bisa melindungi malah cuek.
“Sudahlah sayang, buang jauh-jauh rasa takutmu itu. Percaya deh, nggak akan ada apa-apa. Mungkin belum terbiasa saja. Namanya juga rumah baru…”
Ya, sudahlah. Berdebat dengan cowok yang pandai menentramkan hatiku itu, tidak ada gunanya. Kami berdua memang nyaris bertolak belakang. Aku tipe orang yang gampang panik, suka ceplas ceplos dan meledak-ledak. Seringkali kata hatiku mengalahkan logika. Sementara Mas Fahri sabar banget. Dia selalu mengutamakan bukti dan logika, daripada feeling.
Sore ini, tenagaku seperti terkuras habis. Gara-gara Mbak Nur tidak masuk, terpaksa semua pekerjaan rumah tangga kukerjakan sendiri, sepulang dari kantor. Memasak, mencuci semua perabot, pakaian, sampai merapikan rumah. Fffuihh! Ternyata nggak mudah…Capek banget!
Sambil membaca koran edisi hari ini di teras belakang, kuselonjorkan kaki di atas kursi. Segelas coklat susu dan sepiring pisang goreng, tergeletak begitu saja di meja. Benar-benar kuingin santai, setelah pusing seharian…
Bbbrr…Astaga! Aroma cendana itu lagi…Tiba-tiba udara dingin terasa meniup tengkukku. Baru kusadar, suasana sore ini benar-benar sunyi. Nggak ada suara musik dari CD player yang biasa kuputar di ruang keluarga. Keheningan begitu menggigit. Tiba-tiba sekilas mataku menangkap bayangan seseorang di dekat kolam. Aduh, kenapa perasaanku jadi nggak enak begini ya?
Plung! Seakan ada sebuah benda yang dilemparkan dalam air kolam. Suaranya jelas banget…tapi tidak ada siapa-siapa. Ah, mungkin saja itu suara kodok atau ikan yang melompat di kolam. Aku berusaha mengusir ketakutanku yang datang tiba-tiba. Padahal, bulu kudukku jelas-jelas berdiri. Aroma cendana makin santer tercium.
Tanpa kusadari, telapak tangan ini sudah basah oleh keringat. Jantungku terasa berdebar makin cepat, apalagi ketika kusadar…pintu yang menghubungkan teras belakang dengan ruang keluarga tiba-tiba tertutup!
“Aduh, Mas Fahri ya…Jangan becanda dong, mas!” tegurku, setengah berteriak. Pasti cowok itu bermaksud menggodaku. Kecurigaanku ini beralasan, karena waktu perploncoan di kampus kami dulu, dia pernah menakut-nakutiku sampai aku pingsan ketakutan.
Tak ada jawaban. Sepi. Kulirik sekelilingku lagi…Ya ampun…Perasaanku mengatakan, dua patung penari itu sepertinya memperhatikan aku dari tadi! Matanya seakan melotot dengan mulut menyeringai, lidahnya menjulur pantang dengan gigi-gigi bertaring…astaga! Rasanya aku melihat wajah patung itu makin menyerupai manusia beneran, tetapi mulutnya mengerikan.
Kakiku lemas. Kuingin lari, tetapi rasanya badan ini terpaku erat di kursi. Persendian lemas. Keringat membanjir. Detak jantungku pun seakan berdetak makin kencang dan tidak beraturan.
“Tolong…tolong, jangan ganggu saya….” Suaraku terpatah-patah, parau. Pusing. Sekujur tubuh seperti lunglai tak bertenaga. Dua patung penari itu….ampun! Bergerak ke arahku. Aku berusaha bangkit sekuat tenaga, lantas berlari masuk ke dalam rumah. Lagi-lagi, aku terhalang pintu yang menghubungkan teras belakang dengan ruang keluarga. Masa pintu itu terkunci sih?
Keringatku membanjir. Mataku sudah pedih kena tetesan keringat yang tak bisa kubendung lagi. Pandangan mengabur, tak jelas…apakah benar yang kulihat. Patung itu benar-benar berjalan, mendekatiku. Dekat…semakin dekat…
Sekuat tenaga, tanganku berusaha mendorong pintu yang terkunci, sekuat tenaga. Tak kuperdulikan lagi, tangan dan kakiku sakit menendang pintu yang terbuat dari jati itu…Hingga tiba-tiba pintu terbuka. Seseorang telah membukanya dari dalam! Ampun, bayangan hitam itu seperti begitu dekat denganku…Tanpa berpikir panjang, kuterjang saja sosok tak jelas di depanku itu, sebelum akhirnya aku pingsan…
****
Kuta,  siang ini memang panas sekali. Meski sudah menggunakan lotion buat melindungi kulit dari teriknya matahari, tapi bisa kupastikan besok-besok kulitku sudah belang lagi. Tanda terbakar. Sepiring nasi campur khas Bali lengkap dengan juice jeruk kesukaanku, sudah tandas kuhabiskan. Mas Fahri belum juga muncul…
Capek juga, duduk-duduk sendiri di kafe ini tanpa ada teman ngobrol. Tapi daripada aku ditinggalin di rumah sendirian, lebih baik aku mencari udara segar di sini. Yup! Sejak kejadian Mas Fahri menemukan aku pingsan di rumah, laki-laki itu lebih berhati-hati. Andai tidak ada teman di rumah, seperti Mbak Nur atau teman kantor yang main ke rumah, pasti dia mengajakku ikutan. Misalnya dia meeting di satu lokasi, aku bisa menunggu dia di kafe dekat tempat dia bekerja.
Siang ini, dia mengajak aku makan siang di kafe ini. Lokasinya memang dekat dengan kantorku, jadi nggak ada kesulitan buatku ke sini. Masalahnya hampir sejak aku menunggu, Mas Fahri tidak muncul juga. BBm dariku pun tidak dia balas…Huh! Padahal seingatku, dia selalu menepati janji…
“Menunggu seseorang nak?” tegur seorang perempuan separuh baya, mengejutkan aku. Kutebak usianya sekitar 50 tahun-an, tapi dandanannya funky sekali. Baju hitam, berumbai-rumbai, full colour dengan kalung dan gelang berderet dari batu-batuan. Garis matanya dia pertegas dengan eye liner, sementara eye shadownya warna terakota. Mmm, ingatanku langsung ke dongeng nenek sihir tempo dulu…
“Jangan bandingkan saya dengan dongeng nenek sihir ya nak? Ibu hanya bisa membaca peruntungan seseorang…”
Deg! Jantungku mau copot. Kok dia bisa membaca isi pikiranku sih? Jangan-jangan…
“Ah, tenang saja…Saya tidak bermaksud jahat sama kamu kok, nak. Tenang saja. Sebaliknya saya berniat baik. Ingin menolong….”
“Menolong? Ibu…maaf, saya panggil Ibu saja ya… Maksud Ibu?” tanyaku terbata-bata. Tanpa disuruh, wanita itu menarik kursi di sampingku, lantas duduk. Aroma melati menusuk penciumanku seketika…Ampun…Sudah tahu, aku paling phobia bau bunga-bunga-an…
“Maaf, kamu nggak suka ya dengan parfum saya?”
Ampunnn! Badanku lemas…Rasanya semua isi otakku, dia tahu.
“Sudahlah, nak. Nggak perlu ketakutan begitu…Ibu hanya ingin membantumu… Panggil saja saya ibu atau nenek, sesuka kamu. Tapi saya belum tua-tua amat kan…” Dia terkekeh, berusaha mengajakku bercanda. Aku menjadi malu sendiri, menyadari sejak tadi kelihatan begitu tegang.
“Ya, Bu…Ibu masih muda, belum pantas dipanggil nenek…”
“Betulll… Kamu memang pandai menjaga hati orang lain. Nggak suka menyakiti sesama, makanya saya ingin membantu kamu…”
“Saya masih bingung…Maksud ibu apa? Dibantu apa?”
Wanita itu menatap mataku dalam-dalam. Tangannya yang mulai keriput itu menggenggam tanganku. Dingin Lantas dia menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala…
“Kamu dalam bahaya, nak…Lebih baik, kamu tinggalkan rumah kamu sekarang. Paling lambat dua purnama dari sekarang. Sementara hindari kebiasaan memancing kehadirannya dengan benda-benda kesukaannya…Ibu mengingatkan saja. Bayangan gelap itu sudah bisa terbaca.”
Aku menggeleng-gelengkan kepala, nggak tahu apa maksud wanita ini. Kehadirannya? Dia siapa? Aku suka memancing kehadirannya? Aduh…
“Lebih baik, secepatnya…Ya, secepatnya. Hindari mengusik kediamannya. Nanti kamu kena tulah juga nak..meski kamu sebenarnya tidak bersalah. Saya kasihan sama kamu…”
“Maksud ibu? Rumah saya tidak bagus saya tinggali? Siapa yang merasa diusik? Kenapa saya dianggap memancing dia muncul?”
Wanita tua itu mengangguk-angguk. Tangannya dia tangkupkan di dada, sepertinya dia membaca mantra. Aneh banget ini orang…Aku jadi curiga. Jangan-jangan aku tertipu dengan orang gila…
“Jangan main-main, nak…Saya serius. Dua purnama saja waktumu, kalau mau selamat. Pergilah…Jangan di situ lagi. Dia tidak suka dengan kehadiran kamu…”
Nafasku tercekat. Benar. Kali ini kulihat wanita itu memang serius. Nggak main-main…Masalahnya, aku tidak tahu bagaimana caranya pindah dari rumah yang baru kami beli? Jelas tidak masuk akal, kalau aku ngotot minta pindah sama Mas Fahri hanya gara-gara mendengar ceracauan orang yang baru aku kenal.
Andaikan Mas Fahri ikutan mendengarkan omongan wanita itu…Huh!
*******
Obrolan dengan perempuan tua di kafe siang itu, nyaris aku lupakan. Dua hari ini Mas Fahri tugas ke Tabanan. Artinya, aku musti tidur sendiri. Mbak Nur sudah kubujukin menginap, tetap saja tidak mau. Ya, jelas saja. Anak-anaknya masih kecil.
Acara televisi malam, membosankan. Baru saja kumatikan. Lantas kuputar CD kesukaanku…Sambil menyelonjorkan kaki di sofa ruang keluarga, aku membaca sebuah novel yang baru kubeli kemarin.
Blar! Astaga…Nyaris aku melompat, kaget. Seakan ada orang yang menghempaskan pintu ruang belakang. Padahal kuyakin banget, sebelum magrib sudah kukunci rapat-rapat. Sejak kejadian aku pingsan, aku memang malas berlama-lama di teras belakang lagi kecuali Mas Fahri menemani.
Tubuhku bergetar. Kurasakan angin dingin meniup tengkukku. Aroma cendana itu jelas tercium Lampu hias yang tergantung di langit-langit rumah, kulihat bergoyang-goyang bersamaan dengan suara  CD playerku yang makin kencang volumenya. Kulihat seperti ada bayangan gelap berkelebat. Tapi ketika kuperhatiin lagi, tak ada siapa-siapa di sana…Kakiku gemetar, seperti tidak memijak lantai. Lantas suara lirih itu terdengar, suaranya begitu jauh tapi jelas…Seperti lolongan…
            Tubuhku serasa limbung. Tanah yang kupijak seakan bergoyang, diikuti semua perabot di rumah ini yang berubah menakutkan. Aku seperti terjebak dalam bangunan tempo dulu, kastil atau rumah tua yang kotor, gelap dan menakutkan. Suara rintihan dan lolongan itu makin jelas terdengar, bersamaan dengan terbukanya pintu belakang secara paksa…Astaga! Bukankah wujudnya itu seperti…. Lidahku kelu, tiba-tiba kuingat cerita masyarakat tentang adanya kuntilanak di tanah Jawa, sementara di Bali kita dengar ada leak yang sering digunakan untuk mencari pesugihan dan balas dendam.
            Ingin rasanya aku teriak, berlari atau melemparkan apa saja ke arahnya, untuk membela diri sendiri. Tapi badan serasa kaku, lidah kelu, tatapan mata memerah dengan lidah menjulur mengerikan itu semakin dekat..dekat dan….kurasa aku sudah terhempas dalam lubang yang sangat dalam. Gelap. Dingin. 
*******
            Tiga hari aku terpaksa menginap di rumah sakit, tanpa diketahui pasti apa jenis sakitku. Dokter yang meminta aku rawat inap pun, bingung. Semua hasil check up bagus, tetapi aku seringkali mengigau dan demam tinggi. Bayangan menakutkan, sosok perempuan dengan lidah terjulur itu selalu datang dalam mimpi. Bahkan rasanya, dia begitu nyata dan dekat, sampai-sampai  Mas Fahri berkonsultasi dengan seorang psikolog untuk meringankan bebanku.
Lewat debat panjang, akhirnya laki-laki yang aku cintai itu angkat tangan, menyerah. Dia setuju juga, kami pindah dari rumah yang nyaris membuatku gila itu. Sebagai pendatang, seharusnya kami memang sejak awal berhati-hati dan mendengarkan nasehat orang tua, sesepuh di daerah masing-masing. Karena belakangan aku ketahui lewat seorang ketua adat, kemungkinan besar makhluk yang aku anggap khayalan itu sebenarnya rangde atau rangda.
            Ingin rasanya aku menutup rapat-rapat cerita ini. Mengingatnya lagi, hanya membuatku dihantui mimpi buruk. Baru kutahu, rumah yang kami tinggali sebelumnya merupakan tempat tinggal sebuah keluarga yang eyang mereka, belajar ilmu leak. Konon penganut ilmu hitam ini harus makan 108 bayi. Semakin banyak bayi yang mereka korbankan, kesaktiannya makin hebat. Mereka tidak hanya bisa mencelakai musuh, tapi juga bisa mengobati orang sakit.  Saat seseorang tengah kemasukan ilmunya, sosoknya bisa berupa rangde. Wanita berambut panjang dengan mulut bertaring, lidah merah terjulur dan kuku-kukunya panjang. Rupanya eyang mereka masih tidak terima, meninggalkan rumah itu. Aku bersyukur…setidaknya, mimpi-mimpi menakutkan itu tidak datang lagi. Keluarga kecilku pun terselamatkan. Apalagi baru kutahu, aku tengah mengandung tiga minggu. Mungkin bawaan bayi…perasaanku lebih peka dari biasanya. (FT: berbagai sumber)

Tidak ada komentar: