Kamis, 16 Juni 2011

status


            Damn! I’m too excited untuk ngerjain satu tulisan ini, namun kembali “dipatahkan” mood  gw dengan satu pertanyaan, “Pegang desk apa? Di mana?” Nggak gampang, gw musti melepaskan id card yang selama ini dipakai. As a journalist. Wartawan. Bheeeuhh! Mungkin, ada sebagian orang tidak bangga dengan status “wartawan” nya atau sebaliknya, ada orang yang memandang profesi ini nggak penting…but sumpah! It’s my owner be a journalist. Gw bangga memiliki profesi ini… Impian gw waktu SMP, bisa nemuin nara sumber dan tulisan gw dibaca banyak orang.
            Nyesek juga, waktu masih berstatus freelance. Hunting nara sumber, kadang dicuekin, dicurigain sebagai fans gelap, dianggap mau cari tontonan musik gratis. Ya ellahhh… Boro-boro nikmati show mereka. Acara tengah berlangsung aja, gw musti mlipir ke backstage, cari orang-orang yang bisa gw angkat dalam tulisan gw.
Hampir 10 tahun, gw menulis tanpa embel-embel wartawan atau karyawan di media cetak mana pun. Interview, laporan pandangan mata, semuanya… Toh, hasilnya juga ada. Beberapa media cetak sekaligus, malah. Finally, selembar kertas yang menyatakan gw beneran report untuk satu media remaja gw pegang. ID as a journalist gw miliki…but tetap sama kok, intinya gw menulis…
            Gw nggak heran, masih ada orang mengaku-aku wartawan atau sebaliknya…wartawan menyalahgunakan profesinya. Yup. Soalnya seorang jurnalis bisa nemuin nara sumber dari berbagai latar belakang, dapat update data duluan, tahu behind storynya dan bisa “mengangkat” atau bahkan “menjatuhkan” nara sumber lewat tulisannya.
            Gw juga nggak muna, ngerasain “fasilitas” dengan mengantongi ID itu, meski gw tidak minta. Nara sumber pun tidak sedikit yang bersikap lebih “manis” , bahkan tak jarang mereka rela “menghampiri” kita bukan kita yang musti “berkeringat” mengejar mereka. But the point is…gw menulis berdasar fakta, menulis dengan hati, karena gw suka pekerjaan ini…
            So, ketika gw tidak berstatus sebagai karyawan sebuah media mana pun “lagi”, nggak ada salahnya kan? Toh gw tetap bertanggungjawab dengan orang-orang yang gw mintain keterangan…Gw tetap menulis dengan data valid, bukan ngerumpiin atau ngejatuhin seseorang.  Status boleh beda. ID boleh tidak gw kantongi lagi. But gw tetap ngerasa, gw tetap seorang “jurnalis” dan penulis yang selalu menulis apa yang gw lihat, dengar dan rasakan...  (salam buat mereka yang selalu menilai seseorang dari status)

Tidak ada komentar: