Selasa, 07 Juni 2011

SEORANG PENGEMIS DAN TUKANG BECAK

    
            Pagi yang dingin dan basah. Hujan yang sejak subuh tadi mengguyur Semarang, membuat udara pagi ini terasa membekukan. Sungguh, kalau sudah begini cuacanya, aku pengen tidur lagi, sambil memeluk guling dan mimpi indah. Sayang sekali, hari ini bukan hari Sabtu atau Minggu. Artinya, beberapa pekerjaan kantor sudah menunggu. Pasti, kartu absenku berwarna merah, andai datang kesiangan. Alamat bakal ditegur bagian personalia…Bukan masalah tegurannya itu, tetapi malu. Masa karyawan baru, belum ada enam bulan sudah lelet kerjanya?
            Untung. Manusia menemukan minuman yang namanya kopi. Setidaknya, pagi ini segelas kopi mampu membuatku sedikit bersemangat. Sambil menguyah roti bakar, kuambil beberapa lembar koran pagi. Ya, masih ada waktu…Lima menit baca koran dulu.
            Ffuih. Beberapa judul berita di halaman kriminalitas, membuatku bergidik. Orang sekarang, tega-tega. Gimana nggak…Kubaca sepasang suami istri tewas diberondong senjata api, ketika sedang memarkir mobil di garasi rumah mereka sendiri. Untung, anak tunggal mereka yang berada dalam mobil itu juga, hanya luka-luka di bagian kaki. Tapi trauma dan masa depan anak itu, mmm…tidak bisa ketebak.
            Suapan roti kedua, nyaris aku tersedak. Lagi-lagi seorang perempuan separuh baya ditemukan tewas di rumahnya sendiri, gara-gara dirampok. Leher wanita itu terdapat bekas cekikan dan pisau yang membuat isi perutnya terburai, tergeletak tidak jauh dari jenasahnya. Apa nggak bisa ya, perampok itu mengambil saja barang-barang yang dia jarah, lantas pergi? Wanita tua itu cukup diikat atau dikunci dalam kamar…. Aku geleng-geleng kepala, pusing. Kurasa makin banyak manusia stress, sampai tidak bisa menggunakan hati nuraninya.
            Bing! Tanda ada pesan masuk di HP. Ugh. Kiki. Lagi-lagi cowok blasteran Belanda-Manado itu mengingatkanku... Dia memang paling rajin, absen pagi. Sekedar ngingetin sarapan, berkas yang musti kubawa, ngecharge HP lowbatt, sampai memilih jalur alternatif, agar nggak terjebak macet. Awalnya kuanggap dia lebai…Bawel. Gimana nggak, hampir tiap pagi ada saja pesanannya. Tapi realitanya, banyak juga manfaat sms-sms dari Kiki. Entah mengapa, dia ngingetin di saat yang tepat.
Minggu lalu misalnya, dia ngingetin aku musti memilih mengambil jalan pintas yang musti masuk kampung. Padahal biasanya, aku paling malas. Apalagi kalau habis hujan, jalanan di kampung itu becek banget. Banyak anak kecil juga suka jalan seenaknya, tanpa memperhatikan mobil yang lalu lalang, hingga kita musti bawa mobil ekstra hati-hati. Benar juga feeling dia. Esok paginya kubaca di surat kabar, sebuah pohon tumbang di jalan yang biasa aku lewati, hingga lalu lintas macet total.
Jelang penandatanganan sebuah proyek baru di kantor, aku ditugaskan boss mengerjakan beberapa proposal penting, tiga hari lalu. Seingatku, semua berkas sudah kurapikan dalam tas. Untung, sms Kiki pagi-pagi membuatku mengecek ulang isi tasku. Benar saja. Ada satu map tertinggal di laci meja. Padahal map itu berisi surat-surat penting.
            Kiki juga pernah bilang dalam sms, pagi ini sebaiknya aku tidak membeli sarapan pagi. Bikin mie instant saja sendiri, kalau bosan roti bakar tiap hari. Jangan jajan…, katanya. Tapi sms itu aku cuekin. Aku membeli seporsi bubur ayam yang dulu pernah menjadi langganan keluarga. Entah kenapa, belum sempat berangkat kantor, aku langsung diare. Bolak balik ke belakang, sampai badan lemas. Akibatnya hari itu musti ijin, tidak masuk kerja. Ingat sms Kiki, aku jadi menyesal…Andai kupatuhi saja, nasehatnya. Padahal tuh tukang bubur sudah langganan dulu, kok bisa-bisanya aku apes.
            Bing! Sms dari Kiki, masuk lagi. Tadi belum kubalas, pasti dia masih penasaran. Mmm, pesannya pagi ini singkat saja. “Jangan mampir-mampir. Langsung saja ke kantor,” kata Kiki. Aneh. Memangnya aku mau mampir ke mana? Nggak biasa, aku berhenti di warung atau rumah teman, sebelum ke kantor. Ya, sudahlah. Sms itu kubalas dengan kata “ya” saja, biar dia puas. Karena kalau tidak, pasti menyusul sms berikutnya.
            Bener-bener. Senin hari membetekan se-dunia. Jalanan macet. Kuambil jalan pintas saja, lewat kampung. Lumayan. Biar sedikit becek, tapi aku bisa tiba tepat waktu. Nggak akan kubiarkan kartu absenku merah.
            “Tolong nak… Kasihani kami…” Hah! Buru-buru kuinjak rem, kuat-kuat. Kulihat seorang ibu-ibu tua dengan kain lusuh menjadi penutup kepalanya, berdiri di pinggir jalan. Tapi dia terlalu ke tengah, sehingga mau tidak mau membuat siapa saja yang lewat melihatnya. Untung, jalanan masih sepi. Kalau tidak mobilku bisa diseruduk dari belakang, main ngerem mendadak.
            “Tolong nak…Kasihani kami…” katanya lagi… Tangan ibu tua renta itu menengadah, seakan minta sesuatu dariku, setelah mobil ku parkir di pinggir jalan. Kasihan. Pasti dia pengemis atau gelandangan yang biasa beredar di dekat lampu merah. Nggak ada salahnya, aku berhenti. Kuambil uang dari dompet, lantas kusodorkan ke wanita yang menyambutnya dengan mata berbinar…
            “Makasih…makasih nak…Kamu baik…Makasih…”
            “Ya, Bu…Hati-hati. Jangan di tengah jalan begini, nanti bisa kesambar kendaraan yang lewat.”
            “Nggak apa-apa, nak…Ibu sudah biasa...Kalau tidak, semua pengendara nggak melihat ibu…” Aku geleng-geleng kepala. Naluriku sebagai perempuan yang memiliki ibu sebaya beliau, tersentuh. Andai mama masih ada…
            “Nak, hati-hati ya…Ibu doakan kamu banyak rejeki…” ucapnya sambil menarik tanganku, hendak menciumnya. Jelas saja aku jengah. Masa ibu serenta itu mencium tanganku…
            “Ya…iya bu…Terima kasih. Saya jalan dulu ya. Takut terlambat kerja,” tuturku pamit. Kulihat bayangan ibu tua itu terakhir kalinya dari jendela mobil, sebelum akhirnya aku tancap gas ke kantor.
*******
            Malam Kamis, kelabu. Mustinya aku bisa pulang cepat, andai saja Renata teman satu divisiku masuk. Cewek yang sudah memiliki dua putra itu, absen. Alasannya si bungsu sakit. Huuhh! Ya, ginilah resikonya. Anak baru, kejatuhan jatah nyelesaiin semua peer dia yang belum beres, hingga aku musti pulang larut.
            “Mau kutemenin pulang?” tawar Kiki yang tiba-tiba sudah muncul di depan pintu, ruang kerjaku.
            “Temenin? Ah, nggak lah… Jurusan kita beda. Lagian, kita konvoi gitu, bawa mobil? Ada-ada saja…” Aku meringis, mendengar ide kocaknya. Tapi kulihat, Kiki tidak tersenyum atau tertawa. Raut wajahnya serius…
            “Perasaanku nggak enak, Cyn… Aku serius!”
            “Hush! Jangan nakut-nakutin ah… Kamu pikir, karena aku cewek, trus takut gitu…Gini-gini aku juga bisa beladiri. Inget kan? Aku pegang ban hitam, karate. Mau coba?”
            Kiki menggeleng. Dia lantas mengambil kursi di depan mejaku, lantas duduk di situ…
            “Bener. Niatku baik. Kutemenin. Konvoi sekali-sekali nggak apa-apa.” katanya, sambil mengetuk-getuk jari di meja. Seperti kebiasaannya…
            “Nggak lah…nggak apa-apa. Makasih banget, kamu perhatian. Doain saja, nggak ada apa-apa. Aku selamat sampai di rumah,” kataku lagi. Laki-laki bertubuh jangkung itu pun hanya bisa angkat bahu, menyerah…
            Cuaca malam ini, bagus. Nggak hujan. Nggak ada salahnya pulang kemalaman sendiri. Sehabis membereskan semua berkas kantor, kuambil kunci mobil dan pulang! But, astaga…kenapa perasaanku nggak enak ya? Gara-gara terpengaruh kata-kata Kiki, kali. Sejak keluar dari parkiran, feeling-ku mengatakan malam ini tidak seperti biasanya. Rasanya gamang dan sepi. Sedih, entah kenapa.
            Mungkin karena terlalu capek, hingga tanpa sadar aku terkantuk-kantuk…. Bing! Ampun, sms dari Kiki pasti! Sekilas dengan tangan kiri, kubuka HP. Bener saja. Pesan cowok itu singkat. “Hati-hati…Jangan perduliin sekitar, jangan mampir.”
            Aneh… Mampir? Mau kemana aku malam-malam begini? Tanpa sadar, aku senyum-senyum sendiri. Cowok itu mirip paranormal saja, omongannya nakutin tapi sering kejadian. Ffuih! Kupindahkan HP ke tangan kanan, sambil tetap menyetir aku coba balas sms Kiki…tapi…
            Brrakk! Astaga! Suara apaan tuh? Mobilku seperti habis menggilas sesuatu…Jantungku berdetak cepat. Apa ada polisi tidur di daerah sini? Kayaknya bolak balik aku lewat sini, nggak ada. Buru-buru aku mengurangi kecepatan…Kulihat sekelilingku, sepi…Gelap. Mobil tetap saja dengan kecepatan lambat…Hingga mataku menangkap sebuah bayangan! Seorang wanita tua, berjalan terbungkuk-bungkuk di pinggir jalan. Dia tidak sendiri…Ada seorang tukang becak yang menuntun becak di sampingnya…Aneh! Malam-malam gini, wanita tua itu masih keluyuran.. Tapi hati kecilku mengatakan, mungkin dia butuh bantuan…
            Kuhentikan  mobil di pinggir jalan, hingga wanita itu akhirnya mendekat ke mobil…
            “Ibu? Kok malam-malam masih jalan?” Bener-bener terkejut aku dibuatnya. Wanita itu, ibu tua yang sempat kuberi uang beberapa hari lalu. Pengemis yang nyaris kuserempet, karena jalan di tengah jalan…
            Wanita itu hanya menatapku dengan tatapan nanar. Wajahnya kuyu dan pucat. Kasihan. Jangan-jangan dia lapar atau kedinginan, malam-malam di jalanan. Sementara bapak becak yang menemaninya juga sama, kuyu. Kutebak usia mereka hampir sama… Astaga. Kenapa hatiku jadi trenyuh begini ya…
            “Ibu mau pulang ya…Naik becak? Kenapa nggak dinaikin? Masih jauh rumahnya?” Kulihat sekilas, laki-laki tua itu menunduk. Dia hanya menunjuk roda becaknya yang kempes. Astaga. Kasihan bener. Nggak tega…
            “Ibu mau saya anterin? Ikut saya?” Wanita itu menggeleng, lantas memeluk lelaki abang becak tadi. Oh, mungkin dia suaminya? Aku hanya bisa menebak-nebak sendiri. Entah, kenapa pengemis dan tukang becak ini tidak berkata sepatah kata pun. Mungkin malu, capek atau segan…
            Kuambil lembaran uang yang tersisa di dompet, lantas kusisipkan dalam genggaman tangan wanita tua itu. Dingin. Tangannya kurasakan begitu dingin. Lagi-lagi, hatiku trenyuh. Sudahlah, ntar aku malah menitikkan air mata di sini. Buru-buru aku pamit, lantas tancap gas…

            Jum’at pagi yang menyenangkan. Selesai sarapan dan membaca sms Kiki seperti biasa, kuambil kunci mobil, bergegas hendak ke kantor. Kali ini aku bisa masuk kantor lebih pagi…Kulihat Kiki sudah duduk di ruanganku…Aneh. Semangat banget tuh cowok…
            “Pagiiiii Cyntia! Gimana semalam? Nggak mampir kan? Aku udah khawatir saja…ternyata pagi ini kamu bisa ngantor tepat waktu. Syukur!”
            Aku menggelengkan kepala. Meski mau nggak mau, perasaan bersalah menggangguku juga. Semalam kan aku berhenti di jalan, gara-gara nggak tega melihat pengemis dan tukang becak itu…
            “Ada apa memangnya Ki? Lama-lama kamu seperti paranormal deh, punya indra keenam…Saranmu suka ada benernya…”
            “ Dasar! Memangnya aku cenayang? Aku hanya khawatir saja, tingkat kejahatan sekarang kan tinggi. Gila-gilaan, nekad. Kalau ngerampok saja nggak apa, tapi main bunuh…” katanya, sambil nyodorin koran pagi. “Lihat nih, barusan ada seorang pengemis dan tukang becak dibunuh preman-preman yang memalak uang mereka…Korbannya dibiarkan terkapar di jalan…Tuh deket jalanan kampung yang biasa kamu lewati…”
            Glek! Aku tersedak. Kurebut koran yang tengah dipegang Kiki…Benar saja, berita tentang terbunuhnya seorang pengemis dan tukang becak ada di sana. Mereka pasangan suami istri yang ditodong kawanan preman. Sadis. Bulu kudukku pun meremang…Semalam, siapa ya yang aku temui? Benarkah itu mereka? (Ft: berbagai sumber)

Tidak ada komentar: