Minggu, 20 Maret 2011

gara-gara CICAK...

            
            Kejatuhan cicak lagi? Perasaan tidak enak, langsung menyergapku. Tatapanku nanar. Kosong. Sebenarnya, aku tidak mau mempercayai tahyul dan mitos orang tua dulu. Apalagi ketika kita sudah sangat bergantung teknologi dan memiliki pegangan agama yang kuat. Masa sih, masih takut dan cemas melihat tanda-tanda kesialan akan menimpa kita? Tapi beberapa kejadian, membuatku mau tidak mau percaya. Cicak tanda sial. Konon, bila kita kejatuhan cicak, salah satu anggota keluarga ada yang meninggal dunia atau celaka. Astagaaa…Aku menelan ludah.,Pahit.
            Pernah, aku kejatuhan cicak ketika asyik mandi. Dua minggu kemudian, tanteku, kakak dari mama meninggal dunia. Padahal beliau tidak pernah mengeluh sakit sebelumnya. Sangat sehat, bahkan. Rajin berolahraga dan makanan pun sangat dijaga. Kepergiannya yang begitu tiba-tiba, sangat memukul kami semua kerabatnya.
            Kejatuhan cicak kedua, waktu aku lagi asyik nonton bola bersama teman-teman satu kampus di rumah. Entah darimana binatang melata itu tiba-tiba melayang, jatuh tepat di bahu kananku. Satu minggu kemudian, nenek dari papa meninggal dunia. Kesialan serupa yang kuanggap berasal dari cicak, saat aku tengah membenahi kamar tidur. Tahu-tahu, makhluk menggelikan itu mendarat tepat di atas kepalaku, hingga membuatku melompat-lompat kegelian. Lebih tepatnya antara jijik, geli dan kesal. Pertanda apa lagi nih? Batinku langsung bertanya. Gelisah, takut, bingung… Benar saja, tiga hari kemudian,  adik bungsu mama yang biasa suka memanjakan aku waktu aku kecil, meninggal dalam sebuah kecelakaan.
            Sungguh. Aku trauma mengingat semua kejadian itu. Mitos tentang kematian, benda dan binatang pembawa sial, semua terekam jelas, sampai menjadi seperti hantu menyeramkan bagiku. Berulangkali, mama mengingatkanku untuk tidak memperdulikan cerita lama itu. Aku tahu sih, beliau sebenarnya hanya berusaha menghibur aku. Setengahnya lagi, mama juga mempercayai tanda-tanda itu.
            Mama sendiri sering cerita, ketika bermimpi giginya patah atau tanggal. Pasti tidak lama setelah kejadian itu, salah satu anggota keluarga besar kami mengalami musibah. Bahkan, meninggalnya papa yang terserempet bus antar kota pun, didahului tanda-tanda yang sama. Mama bermimpi, salah satu giginya patah. Dua hari setelah mimpi itu datang, papa terserempet bus, dalam perjalanan ke kantor.
            Ah, sudahlah…Aku tidak ingin mengingat-ingat lagi, duka lama. Tinggal bersama keluargaku, yaitu mama dan dua adik kebanggaanku, Radit dan Rado saja, sudah bersyukur sekali. Mereka semua hartaku paling berharga. Meski aku harus bekerja mati-matian, sampai melupakan waktunya menikah, aku tidak pernah menyesal. Lantas bagaimana dengan cicak itu lagi?
            Kuseduh segelas susu coklat di dapur, untuk menenangkan diri. Kulihat, Radit, Rado dan Mama tengah bercanda di ruang keluarga, sambil menonton televisi. Meski teman-teman kuliah dua adikku itu banyak, mereka tidak suka keluyuran. Lebih banyak waktunya dihabiskan di rumah, menemani mama yang mulai sakit-sakitan. Mmm…jantungku berdetak makin kencang. Mungkinkah, satu di antara mereka akan meninggalkan aku? Bagaimana seandainya, mereka celaka atau sakit?  Mataku berkaca-kaca…Tangan yang menggenggam cangkir, bergetar. Benar-benar aku takut, ….takut kehilangan salah satu di antara mereka. Orang-orang yang sangat aku cintai…
            “Kak, kenapa bengong? Sakit ya…Kok pucat banget?” teguran Radit yang tiba-tiba muncul di depanku, mengejutkan. Nyaris membuat cangkir yang kupegang jatuh. Cowok bermata elang dan berambut ikal itu, mewarisi wajah papa banget. Setiap kutatap matanya, seperti aku menatap papa…
            “Kak…Kakak baik-baik saja? Mikirin apa sih?” Radit menepuk bahuku perlahan. Tangannya mengambil alih cangkirku yang sudah nyaris tumpah, isinya. Lidahku kelu, sulit bicara. Hanya gelengan kepala saja yang sanggup kulakukan…
            “Ayolah, duduk di depan. Kita ngobrol rame-rame. Kelihatannya kakak kecapekan kerja melulu…” Radit mengusap bahuku. Lembut.
            “Nggak, Dit…Kakak nggak apa-apa… Mungkin tadi kedinginan saja, setelah semalaman hujan. Nanti kakak gabung ke depan…sekarang mau bikin roti bakar dulu, buat dimakan sama-sama…”
            “Asyiiikkk….Ada roti bakar… Tapi beneran ya, kak..Nggak ada apa-apa?”
            “Benerrr.. Kapan kakak bohong sama kamu?”
            Radit tersenyum lebar. Adik pertamaku itu  memang tahu betul, kapan aku mau menceritakan masalahku dan kapan aku memilih diam. Tapi ujung-ujungnya, pasti aku curhat ke dia-dia juga. Satu-satunya laki-laki yang sudah kuanggap seperti pengganti papa. Beda dengan Rado yang masih duduk di bangku SMA. Masih terlalu muda dan polos untuk memikirkan masalah keluarga.
            Ffuihh…Lagi-lagi aku menarik nafas, berat. Kuperhatikan dari dapur, mama, Radit dan Rado…ah, siapa lagi yang akan mengalami nasib sial? Semoga bukan salah satu di antara mereka, Tuhan…Please, pintaku dalam hati. Namun andaikan bukan mereka, pasti salah satu dari keluarga besar kami. Keluarga adik mama di Bandung, saudara papa di Yogyakarta atau…jangan-jangan, kerabat yang tinggal di Surabaya?
            Gila kali ya…menentukan nasib orang dari cicak. Aku jadi ingat pendapat seorang motivator kondang. Kata beliau, kita tidak boleh ketakutan akan suatu hal yang tidak pasti. Karena ketakutan kita bisa menjadi kenyataan, kalau dipikirin terus…Buru-buru, kuambil roti dan selai coklat. Lebih baik, daripada mikir yang tidak-tidak, kubikin roti bakar saja sekarang…
***
            Siang ini, begitu gelap. Hujan sejak tadi mengguyur Jakarta. Air begitu deras, seperti ditumpahkan dari langit. Petir juga tidak henti bersahutan. Benar-benar menyeramkan, cuaca hari ini. Kulihat dari balik kaca, kantor tempat aku bekerja…Jalanan macet. Beberapa pengendara motor, saling salip di antara mobil dan bus yang nyaris tidak bisa bergerak. Benar-benar padat merayap…Tiba-tiba kuingat adik bungsuku. Kasihan, Rado. Pagi tadi dia terpaksa naik kendaraan umum, karena motornya ngadat.
Raditya dan aku, sama-sama tidak bisa mengantarnya ke sekolah. Maklum, Jakarta. Tempat tujuan kami, ujung dengan ujung…. Kalau aku atau Radit ngedrop dia, pasti terlambat banget sampai ke kantor. Bahaya juga buat status Radit yang masih kuliah sambil magang di sebuah perusahaan advertising. Bisa-bisa dia kena sanksi…
Ggrrh! Nyaris, jantungku berhenti berdetak. Lagi-lagi seekor cicak sudah ada begitu dekat denganku. Dia merayap di dinding, dekat jendela. Astagaaa…binatang mungil itu seperti teroris. Menakutkan...Kehadiran binatang melata itu mengingatkan mimpiku, dua hari lalu. Ampun…jangan,….jangan sampai anggota keluargaku celaka… Nafasku tercekat. Apalagi tadi aku baru saja mengingat Rado yang pagi ini, musti naik angkutan umum. Padahal hujan dari pagi tidak berhenti.
Tanganku bergetar hebat. Buru-buru kuambil handphone, kuhubungi adik bungsuku itu lewat telephone. Tulalittt….Ah, nadanya kok mati? Kucoba sekali lagi…Sama! Heran. Padahal tidak biasanya dia mematikan HP. Jam-jam segini, mustinya dia sudah sampai di sekolah. Pelajaran pertama pun belum dimulai…Perasaan tidak enak, kembali menyergapku. Kucoba sms, tapi pesanku tidak masuk juga. Statusnya masih tertunda.
Pusing di kepala makin menjadi. Kerongkonganku kering. Tanganku memencet nomor Radit. Ya ampun, dia juga tidak aktif HP-nya? Tuh anak ke mana, membuatku makin senewen. Ketika kuhubungi rumah, mama bilang Radit sudah jalan, nggak lama setelah aku berangkat. Masa HP juga tidak diaktifin?
“Rani…Ran…Kamu kenapa?” teguran Ika, sahabat baikku mengejutkan. Dia sudah ada beberapa menit di depanku, tapi aku tidak menyadarinya.
“Aku takut, Ka…Takut terjadi apa-apa dengan adikku…”
“Tumben, kamu sepanik ini? Anak cowok, udah gede, ngapain dipikirin?”  Ika mencoba mengajakku bercanda. Tapi gurauannya seperti angin lalu…
“Serius, Ka!”
“Sori..soriiii…Bukan maksud ngeledek kamu…Nggak biasanya kamu khawatir berlebihan seperti ini deh. Pagi-pagi sudah mikir yang bukan-bukan. Apalagi dua adikmu itu kan terkenal jagoan. Mereka bisa beladiri, sangat berhati-hati kalau membawa kendaraan…safe banget deh!”
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Mana mungkin, aku menceritakan mitos yang kupercayai pada Ika. Meski dia sahabat terbaikku, tapi cewek itu tidak pernah mempercayai arti mimpi, tanda-tanda sial atau mujur, ….Bisa-bisa dia menertawakan aku, atau malah menganggapku lagi “sakit”.
Ya sudahlah, aku hanya bisa menelan bulat-bulat kekhawatiranku. Sampai-sampai meeting pagi ini, aku tidak konsentrasi. Semua point penting yang dibahas, tidak ada satu pun yang kuingat. Untung, lagi-lagi Ika menyelamatkan aku. Dia mencatat setiap detailnya…
Usai meeting, baru aku berhasil menghubungi Rado. Ternyata, handphone dia lupa dicharge semalam. Pantas, sampai jam makan siang, dia biarkan mati, sambil dicharge di perpustakaan. Benar-benar hari yang melelahkan bagiku. Energiku seperti terkuras, hanya karena memikirkan pertanda sial itu…Huh!
****
Siang ini, usai meeting dengan pimpinan cabang kantor kami di Jawa Tengah, aku memilih makan siang di kantin, basement bersama Ika. Menu favorit sop buntut, sudah lama tidak sempat kami nikmati.
“Tumben kamu mau turun ke bawah…Biasanya makan di kafe satu lantai di bawah kantor kita..”
“Ya, kalau makan di sini, ntar waktunya kelamaan, Ka! Banyak kerjaan nih…Sekarang saja, baru sempat bernafas. Meeting tadi bikin kepala pusing…”
Ika tertawa lebar, melihat aku memijit-mijit kening. Sambil menunggu pesanan datang, dia melihat-lihat menu yang tergeletak di meja. Tiba-tiba…
“Ran, lihat deh…” tunjuk dia ke dinding, dekat meja kami. Seekor cicak!!
“Ka, ngapain dilihat-lihat? Usir dong….” Teriakku panik…Ika malah tertawa, terbahak-bahak…
“Ngapain diusir…Kasihan. Dia lucu deh, kuperhatiin dari tadi seperti ngelihatin kita berdua. Diam saja di situ, nggak pindah-pindah. Jangan-jangan dia cowok ganteng yang dikutuk jadi cicak…”
“Hussshhh..sakit jiwa lho, Ka! Ada-ada aja sih?”
“Lha siapa tahu, dia pangeran dari negeri antah berantah…”
“Trus bakal berubah wujud, menjadi pangeran ganteng setelah dicium cewek gitu? Cium saja sono!”
Ika tertawa terbahak-bahak. Bahunya berguncang, geli. Benar-benar sahabatku ini, bercandanya kelewatan. Apa dia nggak tahu, aku masih dihantui ketakutan gara-gara kejatuhan cicak tiga hari yang lalu? Tapi, benar juga kata dia…cicak itu dari tadi diam di sana, tidak bergerak. Matanya seperti mengawasi kami berdua…ggggrrhhh, rasa cemas itu lagi-lagi datang.
“Ran, kamu kenapa? “
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Tanganku langsung memencet nomer rumah…Mama semalam, sesak nafasnya kambuh. Entah bagaimana pagi ini, ….Hingga lima kali nada sambung, mama tidak juga mengangkat telephone. Aduhhh…Mama ada di mana? Kenapa telephone tidak diangkat? Jangan-jangan…
Radit langsung kuhubungi. Bbbeuuhh! Anak itu selalu saja, mematikan handphone saat aku butuh dia. HP-nya tidak aktif! Rado pasti lagi sibuk di kelas. Nggak mungkin aku mengganggunya.
“Ran, kamu mau kemana? “ Ika panik, melihat aku mendadak berdiri dan membawa tas, hendak pergi. Padahal pesanan kami, belum juga datang…
“Perasaanku nggak enak…Semalam mama sakit. Siang ini, mama nggak angkat telephone. Aku mau pulang dulu, lihat kondisi mama..”
“Hahhh? Yang benar saja, Ran…Kamu coba dulu ulang lagi, menghubungi mama. Kudengar, ada bik Surti yang ikutan ngeberesin rumah kalau siang kan? Jika ada apa-apa, pasti dia menelpon kamu…”
“Justru itu, Ka! Seharusnya, telephone ada yang angkat. Bik Surti juga nggak ada, berarti di rumah kondisi mama gimana? Aku cemas…Aku nggak mau, tahunya belakangan dan nyesel…” Suaraku mulai parau.
Ya, aku ingat waktu papa kecelakaan. Sebelum papa berangkat kerja, hati kecilku sudah nggak enak. Perasaanku mengatakan, papa hari ini beda…Sayangnya, aku tidak mencegah papa berangkat atau menemaninya ke kantor. Setidaknya, andai itu kulakukan, mungkin papa tidak mengalami kecelakaan tragis itu…Padahal aku juga sudah diberi tanda, jatuhnya cicak. Ah, lagi-lagi cicak sialan itu…
Teriakan Ika, tidak aku perdulikan. Buru-buru aku keluar dari gedung perkantoran tempat aku bekerja. Tujuanku hanya satu, rumah! Tak kuperdulikan hujan begitu lebat di luar, angin dan petir seperti saling berlomba, menakutkan.
Beberapa kali di jalan, aku menghubungi rumah. Tetap saja tidak diangkat. Keringat mulai membanjiri keningku. Meski ac mobil sudah dingin, rasanya seluruh isi mobil ini panas. Detak jantungku pun seperti terdengar jelas. Mataku berkaca-kaca, menahan air yang menyembul keluar. Aku belum sanggup, seandainya mama meninggalkan aku…Ya, aku tidak berani membayangkan, bila terjadi sesuatu pada mama…
Damn! Macet lagi! Sambil memperhatikan antrian mobil di depan, tangan kiriku meraih HP, lantas menghubungi rumah. Nada sambung pertama, tidak diangkat. Kedua, sama. Ketiga,….
“Selamat pagi, …” Suara mama!
“Ma…Rani, Ma. Mama baik-baik saja? Mama kok nggak angkat telephone dari tadi? Masih sesak nafas ya Ma? Bik Surti nggak datang?” Pertanyaanku seperti peluru yang ditembakkan dari selongsongnya. Suaraku yang parau, tidak mampu menyembunyikan kecemasanku.
“Rani? Mama nggak apa-apa kok, sudah baikan. Tadi malah bikin kue, dibantuin Bik Surti. Kamu ada di mana? Kok suaranya ribut banget…Hujan ya di sana?”
“Yakin, mama baik-baik saja?”
“Ya, Rani…Pasti. Kamu dengar sendiri, suara mama. Mungkin tadi kamu telephone ke rumah ya? Lagi masak kue di dapur, nggak kedengeran…Di sini hujan besar banget, berisik. Kamu sendiri juga hati-hati ya, jangan keluar hujan badai begini…Mama lihat banyak pohon tumbang tadi di televisi…”
Ffuihh…Aku menarik nafas lega. Ketakutanku tidak beralasan. Mama baik-baik saja. Tanpa sadar, aku senyum-senyum sendiri. Kenapa selama ini musti takut sama cicak? Soal kejatuhan cicak kemarin, mustinya aku cuek. Sudah waktunya, aku tidak perduli dengan tanda-tanda pembawa petaka itu. Bersyukur banget, keluargaku baik-baik saja sampai detik ini.
Mobil di depanku mulai merayap maju. Kakiku kembali menginjak gas, sebelum aku sadar apa yang terjadi, tiba-tiba sebuah papan reklame berukuran raksasa tumbang. Rubuh, tepat menimpa mobilku. Detik berikutnya, gelap! Hanya dingin membekukan yang kurasakan. Sayang, aku baru menyadari cicak itu bukan pertanda untuk keluargaku, tapi…untuk aku… Semuanya sudah terlambat. Sangat terlambat.(ft: berbagai sumber)

KAMAR 212




Perfecto! Perempuan yang tengah berusaha membuka pintu kamar 212 itu, menurut penilaianku sungguh sempurna. Rambut hitamnya berkilau melewati bahu, hingga nyaris ke pinggangnya yang ramping. Mata bulat,  bulu mata lentik, bibir kemerahan meski tanpa lipstik, ditambah kaki yang jenjang dan kulit kuning langsat. Mmm…bolehlah diberi nilai sembilan. Naluriku sebagai laki-laki normal mengatakan, dia sungguh luar biasa. Andai saja aku yang masih jomblo ini bisa mengenalnya…
            “Mas…Maaf, mas bisa tolongin saya?” Ampunnn…suara lirih itu, membuat hatiku berdetak makin cepat. Pucuk dicinta ulam tiba. Perempuan ini minta tolong aku?
            “Mas…Maaf, saya mengganggu ya?” teguran yang kedua ini, membuyarkan lamunanku.
            “Ya, ya…nggak…nggak. Bukan….” Gila! Kenapa aku jadi salah tingkah begini? Buru-buru aku mendekati pemilik tubuh sempurna itu. Mmm, kelihatannya dia berusaha keras membuka pintu, tapi tidak berhasil juga. Peluh membanjir di keningnya…Biar gimana pun, dia tetap  c.a.n.t.i.k!
            “Maksud saya, apa yang bisa saya bantu?” tanyaku lagi.
            “Tolongin mas…Pintunya nggak mau kebuka. Padahal tadi saya keluar sebentar, nggak ada masalah. Malas, kalau musti turun ke bawah dulu, beritahu roomboy…” kata cewek itu, sembari menyodorkan kunci pintu kamar.
            Memang, kunci sedikit ngadat. Beberapa kali kucoba, gagal juga…Kelihatannya kunci yang berbentuk kartu dengan program komputer itu, musti diperbaharui lagi. Aku yang sering bertugas keluar kota dan menginap di hotel berbintang juga pernah mengalaminya. Terkunci di luar, gara-gara kartunya eror.
            “Mbak, kelihatannya kartunya musti diganti atau diprogram lagi. Sebaiknya, mbak ke bawah saja…Minta tolong receptionist. Atau…mau saya telponkan roomboy dari kamar saya? Hanya beda dua kamar dari kamar mbak kok?”
            Cewek sempurna ini menggeleng, lemas. Kelihatan banget dia kecewa.
            “Nggak perlu mas,…saya turun saja ke bawah. Ngerepotin! Terima kasih ya…”
            “Kok terima kasih? Kan belum kebuka pintunya?” Kucoba mengajaknya bercanda. Mmm, lumayan. Entah kenapa, bisa melihat senyumnya saja aku senang.
            “Yahhh…kan mas sudah bela-belain buka. Meski nggak sukses…Ngomong-ngomong kenalin, saya Getha. Baru semalam check in di sini. Rencananya seminggu. Ada tugas kantor..” Tangan dengan jari-jari lentik itu, dia menjabat erat tanganku. Bheuuuh! Lembut dan dingin.
            “Oh, panggil saja saya Gerry. Nggak perlu pakai mas segala… Mas kan di pasaran mahal! Umur kita juga paling beda tipis...” Aduh! Norakku kambuh. Ngapain coba, mengajak orang yang baru kukenal bercanda dengan gaya murahan begini. Mustinya sejak awal aku jaim. Masa manager sebuah perusahaan air mineral, gayanya lebay.
            “Ngelamunin siapa Ger?? Suka bengong dari tadi… “
            Aku tergagap-gagap, kaget. Sumpah! Bego banget aku bisa salah tingkah begini…
            “Ah, nggak…Nggak. Ngantuk saja kali, soalnya pagi-pagi buta musti mengejar pesawat ke kota ini. Abis check in, langsung meeting di kantor cabang sebentar tadi. Kebayang dong…capeknya?”
            “Hebat! Pekerja keras juga ya, Ger. Aduh, pasti saya udah gangguin istirahat kamu deh. Ya udah, saya turun dulu ke bawah. Selamat beristirahat. Ntar kita ketemuan lagi, kalau ada waktu…”
            Tanpa kusadari, Getha sudah menghilang dari hadapanku. Beruntungnya aku bisa mengenal cewek secantik itu. Seminggu dia bilang mau tinggal di hotel ini? Horeee, teriak batinku. Setidaknya aku tidak menghabiskan waktu di Yogya sendiri. Ada sahabat baru!
****

            Malioboro masih seperti tiga tahun yang lalu, ketika aku tinggalkan. Yup! Kuliahku memang di kota gudeg ini, hingga akhirnya memperoleh pekerjaan di Jakarta. Tak pernah terbayangkan, bisa kembali menyusuri jalanan yang padat pedagang kaki lima itu. Kerajinan dari kulit, kain batik sampai makanan yang menggoyang lidah, masih ramai seperti dulu.
            Suasananya benar-benar bikin kangen. Nggak pernah bisa aku temui, lesehan dan alunan musik pengamen jalanan seenak ini di Jakarta. Belum lagi keramahan orang-orangnya…Fuuih! Tanpa sadar, langkahku terhenti di sebuah warung lesehan yang menjual burung dara goreng dan gudeg kesukaanku.
            Sambil sesekali membalas BBM beberapa teman, kunikmati segelas es kelapa muda. Pesananmu belum juga datang. Seporsi nasi putih plus ati ampela dan burung dara goreng… Ngelihat menu favoritku, memang suka bikin kalap…
            Kuingat banget masa-masa kuliah dulu…Tiap tanggal muda, sehabis menerima transferan dari mama, aku biasa ngumpul dengan teman-teman satu angkatan di lesehan sekitar sini. Lantas kami ngobrolin apa saja. Mulai dari dosen killer yang selalu mematahkan argumen-argumen kami setiap ada tugas kelompok, sampai ngomongin adik kelas yang kami anggap bunga kampus.
            Ingat itu semua, batinku seperti dirobek luka lama. Ya, sayang aku tidak berhasil mewujudkan impian mama yang terakhir kalinya, jalan-jalan di kota ini. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, semustinya mama yang sudah menjadi orangtua tunggal, sejak kami anak-anaknya duduk di sekolah dasar,  tidak memanjakanku  berlebihan. Namun kecelakaan tragis itu, membuat kedua adikku, Gading dan Ganesh mendahului kami. Tinggallah, aku dan mama. Lagi-lagi, aku musti meninggalkan mama sendiri di Cirebon, ketika hasil testku di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogya bagus. Tanda aku musti kuliah di kota pelajar ini.
            Mama memang wanita kuat. Beliau mengijinkan aku tinggal di Yogya. Karena kesibukan beliau mengurusi rumah makan yang beliau buka, sejak aku masih SMA, mama tidak sempat menengokku di Yogya. Hanya cerita-ceritaku saja yang mama dengar.
            “Kelihatannya Malioboro seru banget tempatnya ya, Ger! Kapan-kapan, ajakin mama jajan lesehan ya, sambil ngelihat suasana kota di sana. Waktu mama masih pacaran sama papa, hobi kami juga sama. Jalan-jalan ke tempat yang masih kental budayanya seperti Yogya,” kata mama, waktu kupulang liburan semesteran.
            “Pasti, Ma! Mama wajib nyobain tempat makan kesukaanku. Nanti Gerry pesenin yang paling spesial,” janjiku.
            Kenyataannya? Jelang wisuda, mama dipanggil sang Pencipta. Serangan jantung! Benar-benar di luar dugaanku. Selama ini, orang yang sudah membesarkan aku dengan limpahan kasih sayang itu punya penyakit mematikan. Impianku mengajak mama jalan-jalan, usai wisuda, hancur berantakan. Nggak hanya itu saja…Aku juga belum pernah membahagiakan mama dengan uang hasil keringatku sendiri?
            “Mas, ada tambahan pesanan yang lain?” sapa seorang anak muda, berusia belasan yang mengantarkan nasi pesananku, mengejutkan.
            ‘Oh, nggak…nggak….Makasih. Ntar saya panggil lagi saja, kalau ada yang kurang…”
            Mmm…Andai Gading, adik bungsuku masih ada. Dia sebaya dengan cowok itu…Sayang! Kecelakaan motor merenggut dua adik kandungku sekaligus. Sejak mama meninggalkanku untuk selama-lamanya, aku memang menghabiskan waktuku dengan mengerjakan skripsi dan bekerja sampingan. Aku tidak mau, banyak waktu kosong membuatku mengingat pengalaman pahit keluarga kami. Gara-gara gila kerja, akupun nyaris tidak memikirkan pacar atau pasangan hidup. Jomblo karatan, ledek teman-temanku waktu itu. Biarlah. Ntar juga jodoh datang dengan sendirinya…
            Untunglah usai wisuda, aku mendapat pekerjaan di Jakarta. Kutinggalkan kota yang pernah membuatku jatuh cinta itu. Hingga akhirnya tiga hari yang lalu, atasanku memintaku tugas ke kota ini lagi.
Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna…
            Lagu  yang dipopulerkan Kla Project itu  dinyanyikan sepasang pengamen yang datang, menghampiri warung lesehan tempat aku makan. Ah, andai saja…mama ada di sini. Mataku sekilas melihat bayangan seorang perempuan melintas di depan warung. Sepertinya Gheta? Mungkin dia tengah jalan-jalan sendiri, mencari makan? Buru-buru aku kejar bayangan itu, tapi sia-sia… Padatnya orang lalu lalang di sepanjang Malioboro tidak memungkinkan aku menemukannya dengan mudah. Ntar juga ketemu lagi…Kan kamar hotel kita hanya terpaut dua kamar? Hiburku sambil melanjutkan makan.

****
            Yogyakarta benar-benar dingin, malam ini. Hujan sepanjang sore, membuat udara dingin dan lembab. Kurapatkan jaket. Meeting melelahkan. Energiku seperti terkuras habis. Bayangan mandi, sambil berendam air hangat di bathtub dan tidur lebih cepat, sudah bermain-main di benakku sejak masuk lobi hotel tadi.
            “Malam, Gerry! Capek banget kelihatannya…Acara hari ini padat?” Aih..aih… si cantik itu lagi! Semangatku yang redup, kembali menyala melihat Gheta tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Kaos ketat warna hitam, tanpa lengan plus celana legging warna senada itu, membuat tubuh rampingnya makin kelihatan sempurna.
            “Malam! Terkunci lagi?”
            Dia menggeleng. Senyumnya merekah, lebar…
            “Ngeledek ya? Aku baru mau jalan keluar, cari makan… Mau ikut?” tawarnya serius. Aduh! Andai badanku tidak seperti patah-patah begini, pasti aku iyakan saja ajakannya.
            “Capek ya?” tanyanya lagi… Tapi sorot matanya itu membuatku berat, menolak.
            “Abis seharian kerja, pasti aku nggak fresh lagi…Boleh, beri waktu aku mandi dulu?”
            “Wah, nggak perlu… Siapa sih yang mau cium-cium kamu? Ha..ha..ha…” tawanya membuatku makin salting. Dasar. Kok aku yang laki-laki menjadi kehilangan kata-kata ya?
            “Sudahlah…Nggak perlu mandi dulu. Kamu masih wangi kok. Taruh saja tas kamu di kamar, baru kita jalan. Aku tunggu deh…” ajaknya, sambil menunjuk tas laptop yang selama ini aku tenteng-tenteng.
            “Okey…Tunggu ya, aku masukkin tas saja…” kataku, lantas buru-buru ke kamar. Kusempatkan juga membasuh wajahku yang kelihatan kusam, dengan sabun muka. Nggak mau dong, kencan hari pertama…kesannya buruk? Kencan? Ha…ha..ha… Aku menertawakan ilusiku sendiri…
            Sayang, rencana menemaninya makan batal. Gheta membatalkan niatnya makan malam. Alasannya, dia kasihan melihat wajahku kelewat letih. Astaga. Ya, sudahlah. Mungkin malam ini bukan malam keberuntungan aku. Jujur saja, badanku memang kelewat capek. Buktinya, begitu menyentuh bantal, aku langsung tertidur pulas. Tanpa sempat mematikan lampu kamar, seperti biasa. Sungguh, hari yang melelahkan!
*****
            Benar-benar parah! Nyaris aku kehilangan kesabaranku. Meeting hari kedua di kota pelajar ini, menyebalkan. Klien yang aku temui, tidak menguasai bahan yang kami obrolkan. Padahal jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan diri, mempelajari setiap detail proposal yang mereka ajukan.
            “Sore…Kusut lagi wajahnya? Kapan ya, saya bisa lihat kamu pulang dengan senyum?” Suara Gheta yang sudah berdiri di depanku mengejutkan. Gara-gara terlalu serius memikirkan klien menyebalkan itu, sampai-sampai aku tidak sadar sudah ada di depan kamarku lagi…
            “Capek ya, tampangku?”
            “Ya iyalah…Coba lihat di kaca. Siapa pun pasti takut, lihat kamu…ha…ha..ha…” tawa Gheta renyah. Entah kenapa, dekat-dekat dengan perempuan ini, hatiku menjadi dingin dan tenang. Apa ini tanda-tandanya cowok yang tidak pernah ngerasain punya pacar? Konyol…
            “Tuh kan, tegang lagi?!”
            “Siapa?”
            “Ya, kamu… Masa aku?”
            Aku menggeleng-gelengkan kepala. Gheta sudah berani ngajakin bercanda. Perempuan ini menyenangkan, sebetulnya. Sayang, kita tidak pernah punya waktu banyak buat ngobrol berdua.
            “Siapa bilang?”
            “Apa?” tanyaku heran…
            “Siapa bilang, kita nggak ada waktu ngobrol. Kamunya saja yang sok sibuk?” Ting! Heran! Dia bisa menebak isi hati aku.
            “Sudah deh, jangan mancing lagi. Kemarin kamu juga yang ngebatalin rencana kita makan. Bukan aku kan? Sekarang, ada waktu? Mau kemana?”  tantangku, serius.
            Gheta memainkan kunci di tanganku. Matanya yang bulat itu, bersinar jenaka. Seperti mau ngeledek. Mmm…makin lucu nih, cewek.
            “Gini saja, kita ngobrol saja…Ngopi di coffe shop bawah? Gimana?” tawarnya.
            “Siapa takut??? Eh, maksudnya siapa yang berani menolak…Oks, aku masukin laptop dulu ya!”
            Sepuluh menit berikutnya, aku dan Gheta sudah duduk di sudut Coffe Shop yang ada di lantai dasar, hotel tempat kami menginap. Tapi Gheta tak juga menyentuh minuman yang dia pesan, meski aku sudah nyaris menghabiskan secangkir kopi.
            “Katanya mau ngopi, kok nggak pesan minum? Nggak haus ya?”
            “Nggak…Ntar saja ah, males. Takut terganggu, pengen buang air kecil kalau kebanyakan minum. Waktu kita lebih berharga…”  Wow! Apa aku nggak salah dengar? Dia menganggap kesempatan ngobrol berdua denganku itu, penting?
            Gheta ternyata tidak jauh berbeda denganku. Dia perempuan yang workoholic, sampai-sampai tidak sempat memikirkan pasangan hidup. Padahal usianya hanya beda dua tahun, dariku. Orang tua bilang, semustinya usia kami usia pas buat menikah.
            Gara-gara waktu sekolah dulu, dia sempat dikecewakan calon tunangannya. Laki-laki yang menjadi pacarnya selama tiga tahun itu, tiba-tiba memilih menikah lebih dahulu dengan perempuan lain. Konyolnya, dia menikahi perempuan yang sudah dia hamili. Berarti selama ini Gheta sudah diduakan diam-diam, tanpa dia sadari.
            Kariernya yang bagus, membuat Gheta akhirnya memperoleh posisi enak di kantor pusat yang ada di Surabaya. Namun lagi-lagi, dia sempat termakan rayuan laki-laki, relasinya di salah satu kantor cabang di Yogyakarta.
            “Saya terlalu bodoh, mempercayai laki-laki seperti Dhewa. Namanya saja yang bagus. Kelakuannya benar-benar mengesalkan. Tidak tahu malu…” kata Gheta, sembari mengusap air mata yang nyaris menitip. Astaga, sebegitu berartinya aku, sampai-sampai perempuan ini berani curhat jujur?
            Kuberanikan diri, kuusap punggungnya seakan ingin memberinya kekuatan. Kasihan perempuan cantik ini. Semua sudah dia miliki. Karier, harta, nama bagus di perusahaannya. Tapi dia tidak pernah mendapatkan laki-laki yang benar-benar mengasihinya. Padahal dia cantik, nyaris sempurna menurutku…
            “Dia selingkuh juga?” Ups! Kenapa aku bisa keceplosan begini ya? Tangannya yang dingin, menggenggam tanganku erat. Dia menggelengkan kepala…
            “Nggak…dia nggak selingkuh…”
            Kusodorkan secangkir kopi yang tadi dia pesan, sekedar buat menenangkan batinnya. Tapi dia menggeleng…
            “Aku nggak pengen minum…”
            “Ya…iya….Okey, aku masih mendengarkan ceritamu… “
            “Dhewa…Dia…dia menjerumuskan aku, sampai aku ketergantungan obat terlarang. Awalnya dosis kecil. Ketika aku sering mengeluh pusing, capek dari kerja, dia memberiku obat penenang. Memang, rasanya aku bisa tidur enak. Tapi kesempatan berikutnya, dia mulai memberi obat yang tak jelas gunanya apa,..”
            “Kamu minum juga?”
            Dia mengangguk, lemah. Astagaaa… Keterlaluan sekali cowok itu!
            “Lama-lama aku mulai merasakan ketergantunganku bukan hanya pada dia, tapi juga pada obat yang dia bawa. Nggak minum dua hari saja, badanku lemas. Kerjaku berantakan. Nggak fokus…”
            Kuseruput kopi di cangkirku yang sudah dingin, sedingin hatiku saat ini.  Entah mengapa, meski baru mengenalnya, aku benar-benar kasihan dan prihatin mendengar kisah hidup Gheta. Seharusnya, wanita secantik dan selembut ini dijaga dan disayang, bukan sebaliknya.
            “Uang tabunganku pun terkuras. Dhewa juga tidak perhatian seperti dulu lagi. Dia hanya datang, ketika aku meminta obat yang kubutuhkan. Kalau nggak, dia nggak perduli. Bahkan saat aku sakit pun, tergeletak sendirian di rumah kontrakanku, dia tidak menjenguk atau membantuku mencari makan.” Mata Gheta kulihat memerah. Dia berusaha keras, menahan air matanya agar tidak tumpah…
            “Sudah, jangan dipaksain cerita kalau berat dan bikin kamu sakit…” kataku, setengah berbisik. Gheta menggeleng, lemah. Dia terdiam, beberapa saat. Aku pun salah tingkah. Pengen rasanya memberi dia kekuatan, tapi aku juga khawatir kata-kataku malah bikin dia sedih.
            Malam itu, cerita Gheta membuat tidurku tidak nyenyak. Baru kutahu, Gheta pernah ketergantungan obat. Sampai-sampai, semua hartanya terkuras habis.  Kabarnya,  cowok yang bernama Dhewa itu pun kabur ke Yogyakarta kota kelahirannya, tanpa meninggalkan pesan apa pun…
            Entah apa hubungan kunjungan Gheta ke Yogya kali ini. Urusan kantornya atau Dhewa. Aku tidak berani bertanya lebih jauh. Toh, besok-besok kami masih punya waktu ngobrol lagi. Tadi dia kelihatan begitu letih dan terluka.
*******
            Malam ketiga, artinya malam terakhir di Yogya. Kuhabiskan dengan mengurung diri saja di kamar. Rencana mengajak keluar makan Gheta, batal. Kelihatannya dia lagi jalan keluar. Kamarnya kutelpon, tidak juga diangkat. Nomor HP yang dia berikan, juga nadanya nggak nyambung. Ah, moga saja besok pagi-pagi aku masih sempat bertemu dia...
            Nyatanya, pagi ini telephone di kamarnya tidak juga diangkat. Mungkinkah dia masih tidur atau breakfast di restoran, lantai dasar? Buru-buru kuganti baju, setelah mandi. Lantas turun ke lantai dasar…
            Ups! Rame banget! Ada rombongan turis baru masuk, rupanya. Setelah mencari-cari Gheta tak ada, aku pun memilih duduk di sudut dekat pintu masuk. Siapa tahu, Gheta datang…Aku bisa langsung mengajaknya, makan pagi.
            “Selamat pagi…Kopi atau teh, pak?” tawar seorang waitress.
            “Kopi saja…” Pintaku. Tatapanku tak lepas dari pintu masuk…
            “Menunggu seseorang Pak?”
            “Oh ya…Mungkin saja, dia juga makan pagi di sini. Soalnya tadi saya telphone ke kamarnya tidak diangkat.”
            “Teman bapak? Kamar nomer berapa, biar saya bantu check dia sudah ambil sarapannya atau belum…”
            “Boleh, boleh…Kamar 212. Kalau nggak salah, namanya Ibu Gheta…”
            Waitress itu pun kembali ke meja kasir, berusaha mencocokkan data yang kuberikan. Tapi mendadak kulihat ekspresinya berubah. Dia juga memanggil dua orang temannya yang tengah bertugas di situ. Mereka bertiga seperti membahas masalah serius. Ah, mungkin ada tagihan pelanggan yang salah hitung kali, batinku….
            Tebakanku salah besar. Karena tak lama kemudian, waitress itu menghampiri aku  dengan wajah pucat pasi….
            “Maaf, Pak…Mungkin bapak salah sebut nomer kamarnya?”
            “Ah, nggak! Nggak mungkin…Karena kamar kami beda dua kamar saja…Saya juga pernah mau ngebantuin dia membuka pintu kamar yang macet. Meski tidak berhasil…”
            Waitress itu menggeleng…
            “Benar kok…Semalam saya masih ngobrol dengannya di kafe seberang restaurant ini…”
            “Maaf, Pak…Benar-benar saya minta maaf. Kamar yang bapak sebutkan tadi sudah dikosongkan selama setahun, tanpa ada satu pun penghuninya. Kebijaksanaan dari hotel, menutup kamar itu untuk umum…”
            “Kok aneh? Kenapa ditutup? Masa saya salah kamar…Ya, meski dia tidak pernah mengajak saya masuk ke kamarnya…”
            “Benar, Pak…Kamar itu ditutup. Setahun yang lalu, seorang tamu hotel tewas. Kami temukan wanita itu overdosis. Untuk menjaga kenyamanan pengunjung, kami sengaja menutup kamar itu…”
            Kepalaku mendadak terasa berat. Bayangan Gheta, si cantik yang sempurna itu seperti menari-nari di depanku. Hingga akhirnya, semuanya berubah gelap. (FT: berbagai sumber)

Rabu, 16 Maret 2011

soal SELERA

IMUT vs BANGET... 

            Bukan contoh yang bagus sih…Pagi-pagi, gw sudah duduk di depan televisi. Nonton tayangan FTV. Biasanya langsung ganti channel, pilihan gw kalau nggak 8-11 nya Metrotv ya…acara musik. But kali ini, entah kenapa tangan ini enggan mengganti channel. Mungkin karena penasaran ngelihat aktingnya Donny Alamsyah,  cowok yang pernah main di film 9 Naga dan Merah Putih. Tanpa sadar, my sista yang lewat di depan televisi berkomentar…”Heran. Tumben yang main sinetron nggak ganteng…”
            What?!! Sambil nyengir, gw bilang…”Lha, bukannya pemainnya keren. Cowok banget lagi dia…Aslinya bisa bela diri, main banyak film yang tidak ecek-ecek…” Mmm, ngapain coba gw ngebela segitunya?
            Ya, bolehlah masing-masing orang punya selera. Ketika era cowok imut, bersih, rapi, berdarah indo,  bisa bikin screaming cewek-cewek, gw malah menganggap lebih seru cowok-cowok macam Donny Alamsyah,  Lukman Sardy, Iko Uwais bintang Merantau yang sering muncul dengan tampilan apa adanya, mau ber”kotor-kotor” ria, etc...

            Syukurlah, sekarang era-nya keterbukaan. Bintang bagus, kalau memang bisa akting, unik, punya kelebihan tertentu, mereka punya kesempatan bekerja di industri hiburan. Hingga mata kita pun tidak dimanjakan oleh makhluk “manis” saja, tapi juga…mereka yang memang bisa memberikan tontonan yang maksimal. Soal selera, balik ke pribadi masing-masing. Pilih cowok imut atau cowok yang cowok banget? Hahahahaa…. (someday, gw pengen bs interview 3 cowok tadi.. fffuiih!) Ft: berbagai sumber

Senin, 14 Maret 2011

RUMAH kita...


            Tx God…Secangkir kopi plus jajanan pasar. Sarapan pagi yang sempurna. Giris hati gw ngelihat tayangan televisi yang berulangkali, mengabarkan tragedi tsunami di Jepang. Manusia boleh sepandai apa pun, seperti mereka yang sudah merancang tembok anti tsunami dan pondasi bangunan anti gempa…tapi sekali alam marah, semuanya bisa hancur dalam hitungan detik. Bayangan gw, sedang apa orang-orang itu ketika air tiba-tiba menghantam negeri mereka? 

            Rumput tetangga, tampak lebih hijau dari rumput halaman rumah kita. Pribahasa lama sering gw denger. Ya, kita nggak nyadar suka memuji-muji dan menganggap orang lain, jauh lebih beruntung. Coba tinggal di Singapore…Negerinya bersih banget, disiplin, shopping barang-barang bagus, transportasi gampang, tempat wisata keren-keren. Andai tinggal di Australia, kita bisa mengalami musim dingin. Mau lihat salju, bisa ke Mount Buller.
Tinggal di Jakarta? Huuhh…Udah macet, polusi, tingkat kemiskinan juga masih tinggi dengan tanda banyaknya pengemis, pemukiman kumuh, jorok, dll.. Naik kereta saja, sering telat jadwalnya. Sinyal rusak, naiknya juga berdesakan, banyak copet.. Waduh, segudang keluhan. Bandingin kalau kita naik MRT di Singapore. Makan, ngerokok, buang sampah, tidak boleh. Benar-benar bersih dan jadwal tepat waktu.
            But gw bersyukur, gw tinggal di Indonesia, Serpong…yang sudah masuk kawasan Jakarta “coret” alias Tangerang. Meski tinggal dalam kawasan padat, nggak ada MRT, nggak bisa ngerasain mall se-spektakuler yang ada di Melbourne, Orchard Road Singapore, tapi hingga detik ini gw bisa berkumpul bersama keluarga kecil gw, makan secukupnya…tidur di tempat yang layak. Tx God!
            Masing-masing orang sudah memiliki “porsi” sendiri. Bersyukur, kita sudah di”tempat” kan di Indonesia, Jepang, Cina, Amerika…di mana pun… Impian untuk mencapai satu kesempurnaan, memang perlu dan sah-sah saja. Seperti ketika gw bisa ngerasain jalan di Melbourne, gw sempat “takjub” wow… Orang-orang yang lalu lalang, penampilannya keren. Jaket, cappucone, polo shirt, etc…Nggak ada tuh, nemuin orang kusut masai di jalanan. Apalagi pengemis, pengamen, etc… Gw sempet iri, betapa enaknya mereka kali ya… Pendapatannya pasti di atas rata-rata, standart hidup tinggi.
            But ya…itulah, kita masing-masing sudah punya “tempat”. Tinggal gimana, kita bisa nikmati dan ngejaga tempat kita masing-masing. Nggak perlu ngerasa terlalu terpuruk, jelek, or di bawah rata-rata…sebaliknya, nikmati saja. Bayangin saja… Jepang, bukannya negara super? Transportasi, teknologi, standart hidup…mmm. Tapi hanya dalam hitungan detik, semua musnah. Bahkan sekarang radiasi nuklir mengancam…
            Tx God…selama kita masih bisa bernafas, berpikir, punya akal sehat, nggak ada salahnya..always ingat, karena apa yang kita punya sekarang belum tentu lebih buruk dari orang lain. Sebaliknya, apa yang kita punya sekarang juga bisa saja musnah dalam hitungan detik. So, bersyukur…bersyukur. Itu saja… (ft:berbagai sumber)

si CENAT CENUT...


            Gila bener fenomena si cenat-cenut ini. Boyband yang namain dirinya Sm*sh (baca: smash), hanya dalam tempo sesingkat-singkatnya ngebabat semua acara tv. Nggak hanya acara musik, talk show, sinetron, sampai iklan…diborong semua. Bahkan sejumlah pelawak, antara lain: Nunung, Azis Gagap, Sule, Parto,  bikin tandingan, Sm#sh (baca: smosh). Dashyat banget kan? Konon kemunculan mereka dikaitkan dengan happeningnya Suju, boyband asal Korea. Gw lihat-lihat lagi… dimana miripnya ya?
Ft:  Suju asal Korea
            Ngomongin mereka, gw jadi inget Cool Colors, Male Voice, ME, Coboy, dan FBI… Gila banget,  jangan ditanya soal booming atau tidaknya mereka. Sebut saja Cool Colors yang lahir sekitar tahun 1989. Awalnya mereka beranggotakan Teuku Ryan, Surya Saputra dan Ari Sihasale, lantas Teuku Ryan digantikan oleh Ari Wibowo plus Johandi Yahya. Mmm, gokil! Ya, secara packaging mereka sudah ngejual banget. Era ’90-an memang eranya cowok-cowok macho, ganteng ini… Untung dua kali, secara musikalitas mereka diback up oleh Johandi yang kala itu, aktif mencipta dan mendirect lagu sendiri. Vokal cowok berambut gondrong (waktu itu!) ini, juga tidak disangsikan. Dia pernah ikutan Asia Bagus….(yah, anak-anak tempo dulu tahu ajang kompetisi ini…)

            Packaging bagus ditambah penanganan lagu, musik, serius hasilnya memang luar biasa. Beberapa waktu lamanya, Cool Colors bertahan di industri musik Indonesia. Tiap mereka show, datang ke daerah, fans berjubel. Screaming nggak bisa dibendung…Nyaris sama dengan male Voice dan ME yang rata-rata punya background vokal kuat. Sedangkan Coboy yang beranggotakan  Coverboy jebolan Majalah Mode (Ponco, Ali, Gilbert,  Fery), sepertinya bisa disejajarkan dengan FBI yang personelnya Coverboy Majalah Aneka Yess! (Roy Djordy, Arya Weda, Indra Bekti).  Meski urusan mental, Coboy lebih lama bertahan…FBI hanya satu album, lantas bubar.
            Lepas dari fenomena cenat cenut, mustinya kalau mau diseriusin kita pun boleh bangga punya boyband. Tapi ya itulah…ngeluarin album, produk…musti bisa dipertanggungjawabkan. Bukan masalah packaging saja, tetapi soal standart vokal, materi lagu, ciri khas, kesolidan group, etc… Sehingga, sebuah boyband tidak hanya booming untuk sesaat saja, lantas hilang…tetapi mereka juga punya kualitas. Kualitas seorang bintang… (Ft: berbagai sumber)

Jumat, 04 Maret 2011

black JOURNALISM?


            Ups. Pagi-pagi isi twitter seorang musisi bertangan dingin berinisial DA, membuat gw senyum. Isinya datar saja. Tapi kelihatan banget dia lagi marah. Nggak lama, muncul lagi message-nya. Intinya sama, soal keberatannya masalah privacy dikulik infotainmen. Bahkan nggak lama, muncul kasus baru. Kabarnya dia memukul dua wartawan dari sebuah stasiun televisi. Bukan hal itu yang menarik gw ngikutinnya…but masalah black journalism yang disebut-sebut artis ini. Dia bilang, wartawannya nggak punya pendidikan jurnalistik-lah…nggak tahu etika, etc.
            Ngomongin pendidikan jurnalistik, ya..memang salah kaprah. Dulu banget, gw berpikir kalau mau jadi wartawan musti kuliah di jurusan komunikasi atau ambil jurusan jurnalistik. Eh, nyatanya? Sebaliknya… Justru menurut gw, kuliah jurusan lain lebih bagus. Soal ketrampilan menulis, bisa diasah dengan jam terbang, latihan, kebiasaan di lapangan kok. Nyatanya, gw belum kuliah, masih berseragam abu-abu tapi gw sudah menulis di media cetak umum. Kuliah jurnalistik “memperkaya” kemampuan menulis.. Jam terbang, latihan / praktek langsung lebih penting. Materi kuliah, seperti: teknik penulisan berita, jurnalistik tv dll, text book yang bisa makin memperkaya kita dengan praktek.
            Gw malah berpikir, andai seseorang kuliah jurusan lain, misalnya saja psikologi atau ekonomi atau hukum, lantas menjadi wartawan. Wow, makin kaya tuh. Tulisan dia diperkaya dengan disiplin ilmu masing-masing. Beda kan, gw udah kuliahnya tentang teori menulis etc, kerjanya ya menulis…But gw nggak mengecilkan jurusan gw sendiri…karena ilmu komunikasi luas banget. Orang tahunya, komunikasi belajar menulis, jadi wartawan doang…nyatanya nggak segampang itu.  
            Udahlah ngebahas soal background pendidikan. Intinya, kalau mr X ini mengatakan wartawannya tidak memiliki pendidikan jurnalistik ya…mungkin saja dia bukan Sarjana Komunikasi. Tapi…, etika jurnalistik bisa diperoleh ketika dia mulai berprofesi sebagai jurnalis. Mustinya, sebelum seseorang menenteng ID Card as a reporter atau journalist, dia tahu benar tanggungjawab profesinya. Aturan main, “tata krama”, apa saja yang semustinya dia lakuin atau sebaliknya.
            Jangan malah ngerasa “sakti” dengan kartu identitas itu, lantas bisa melakukan tindakan apa pun… Gimanapun jurnalis Indonesia, tidak sama dengan paparazzi di barat sana yang sampai-sampai kamera bisa masuk ke ruang paling pribadi seseorang atau sampai nguntit dan sembunyi di atas genteng seorang tokoh, misalnya. Juga, ketika seseorang mengatakan “tidak” atau “no comment” kita pun nggak bisa ngepush dia dengan statement kita sendiri yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jangan karena ngerasa sakti, berlindung dibalik ID Card dan kamera, lantas kita bisa mengacak-acak “kediaman” seseorang. Bahkan, ketika ada event resmi sekalipun.Juga nggak lantas karena "sakti" bisa melebih-lebihkan sesuatu dengan kata-kata yang too much, lebay, over, apalah...terlalu didramatisir...
            Sebaliknya, seorang nara sumber pun musti respect dengan profesi seorang jurnalis. Karena dia dituntut mengabarkan kabar terakurat, terbaru, terdetail, bahkan kalau bisa “paling beda” dengan media lain. Mereka juga memiliki kebebasan pers, aturan hukum jelas. Nggak bisa seenaknya dihajar atau dibatasi gerak tugasnya. Mereka juga bukan “pengemis” berita, musti mohon-mohon sampai segitunya, agar dapat materi peliputan. Tanpa media, seorang tokoh, selebritis, siapa pun bukan siapa-siapa. Sebaliknya, tanpa nara sumber, media pun tidak akan dilirik pembaca/penontonnya. Deal?

Selasa, 01 Maret 2011

flu SINGAPORE vs demam GIGI


             Damn! Macam-macam saja penyakit manusia… Jaman dulu, orang tahunya masuk angin, encok, rhematik… Sekarang, flu saja jenisnya macam-macam. Flu Singapore? Bbeeuh! Elit banget namanya. But swear, nggak enak. Penyakit yang istilah kedokterannya dikenal sebagai Hand Foot atau Mouth Disease ini sebenarnya sudah lama ada, tepatnya sejak tahun 1957 di Toronto, Kanada. Lantas, nyebar deh ke seluruh dunia.  
            Penyakit ini sangat menular, biasa terjadi di musim panas. Korbannya kebanyakan anak-anak usia 2 minggu sampai 10 tahun. Orang dewasa, jarang. But, celakanya gw kok ketularan juga ya…Wuaduuuh! Keponakan gw Nicole yang baru berusia 5 tahun, beberapa hari yang lalu didiagnosa sakit flu singapore. Yah, gw santai saja… Eh, tiba-tiba perasaan gw nggak enak. Mau menelan, sakit. Sariawan tiba-tiba banyak banget. Tangan bentol-bentol merah, seperti digigit nyamuk…Mmm, bener deh…kayaknya gw kena juga.  
            Males banget deh, berurusan dengan dokter. Lagipula, udah getting older. Manja amat sih, batin gw…dikit-dikit check dokter. Ya udahlah, gw atasi sendiri dengan pengobatan alternatif ala gw…hahahaha…hajar vitamin C dosis tinggi, berkumur dengan obat antiseptik. Eh, bener juga. Abis gw buka internet, salah satu solusinya ya gunakan obat kumur antiseptik. Penyakit akan mereda dengan sendirinya 7 sd 10 hari…(My God, lama bener ya?)
             Bagi anak kecil, efeknya memang lebih terasa berat. Yup! Mereka akan demam tinggi, sulit makan, badan merah-merah, terutama tangan dan kaki. Kabar yang gw denger, flu “elite” ini lagi ngetrend, sampai-sampai banyak anak sekolah terpaksa bed rest (dokter menyarankan bed rest anak-anak satu minggu!) di rumah. Moga aja, kondisi gw nggak memburuk. Gara-gara ngikutin mood dan virus nggak jelas ini, gw jadi males bikin beberapa peer yang mustinya sudah gw selesaikan dari kemarin. Hahahaaha… (ngeles) Moga juga, nggak muncul flu lain…flu Malaysia, Thailand, etc… Kalau muncul, gw mau penyakit yang namanya Demam Gigi saja deh. Maksudnya Gigi band, bukan sakit gigi betulan…Oks? Peace!