Rabu, 21 September 2011

etika situs pertemanan



             Hampir menjadi rutinitas, refleks begitu colok modem, buka handphone atau laptop situs yang saya buka twitter… not just because pengen eksis atau pengangguran yang cari2 kesibukan. But setidaknya gw tahu, apa yang tengah terjadi di “luar” sana. Selain update berita, bisa lewat situs online atau televisi, gw juga bisa dapatkan dalam hitungan detik di jaringan sosial media ini. Inget, waktu tsunami menyapu sebagian Jepang, gw tahu duluan lewat twitter. Soalnya lagi mobile, nggak bawa laptop, nggak buka televisi… Buat menghindari kawasan macet, hindari tawuran, demo, gw juga bisa deteksi. Nggak hanya itu saja, kabar tokoh atau kawan kita sedang mengalami musibah, atau sebaliknya… Audisi, lowongan, launching buku, album, etc… Hanya dalam hitungan detik!
            Dahsyat banget, memang efeknya. Pagi-pagi bisa nongkrong depan televisi, nungguin my idol, karena tahu lewat kabar internet. Ngucapin selamat ultah, berkabung, married, lahiran pun…just lewat twitt. Sampai-sampai gw mikir, jangan-jangan ntar orang kasih undangan hajatan pun announce di internet.
            But.. lagi-lagi namanya keterbukaan. Terbuka informasi, teknologi, dan…terbuka juga buat ekspresikan sesuatu. Mau bilang suka, benci, sebel, cinta…bebas. Hanya, berpikir nggak ya: gimana kita bicara, nunjukin seperti apa kita? Bukan pengen bikin pencitraan, tapi bicara di jejaring sosial, entah twitter, facebook, mindtalk, blog…tetap musti mempertimbangkan attitude. Kedua, dampak… Seperti twitt dari seorang siswa ttg kasus pemukulan wartawan, kabar hoax meninggalnya seseorang padahal dia masih segar bugar.
So, andai bisa manfaatkan maksimal jejaring sosial, wuiihh…nggak ada lagi istilah ketinggalan kabar. Sebaliknya, kita punya masalah, pengen nanya kondisi jalanan, mencari teman yg lost contact, etc juga bisa share di account pribadi. So, teknologi memang untuk “memudah”kan, bukan untuk membuat orang di sekitar kita tidak nyaman. Peace! (saya posting juga di mindtalk/ft:berbagai sumber)

Selasa, 20 September 2011

GIGI, SAHABAT & UKELELE


            Segelas kopi dan televisi, sarapan pagi ini. Smangat, lihat Gigi bawain My Facebook di dahSyat RCTI, lantas dilanjut Sahabat. Single kedua dari album Sweet17 Gigi ini memang langsung bikin gw jatuh cinta. Bukan sekedar liriknya simple, mengena banget,  always ada dalam keseharian kita, tapi juga musiknya. Instrumen ukelele yang biasa digunakan buat lagu-lagu keroncong, musik orangtua dulu, ternyata bisa ngeblend dan nggak jaduls tuh dibawain Dewa Budjana bareng Gusti Hendy dan Thomas Ramdhan. Plus, vokalnya Armand Maulana, tetep aja gokil abis…
            So, belajar dari lagu Sahabat, Gigi, and ukelele,….gw berpikir, kekuatan sebuah band, bukan hanya musikalitas atau kemampuan / skill masing-masing personelnya. Tapi juga kemampuan mereka, nahan ego, berbagi, bekerjasama, dan menerima up and down masing-masing. Konsisten, tanggungjawab, ngerjain dengan hati dan passion, bikin hasil akhirnya juga bisa diterima dengan hati… (sorrriii…lebay ya? It’s true kok!) dan soal ukelele…hehehe, musik nggak kenal batasan strata, umur, atau kelas. Always bisa diupdate dan di”manfaatkan”. Lagi-lagi tergantung siapa yang mengemasnya… So, enjoy it…Gigi mau akustikan, full band, ultah ke berapa juga hayuuukkk! Peace! (ft: gigionline.com)

Minggu, 18 September 2011

VIDEO MUSIK INDONESIA



            Flashback aja nih, dulu musisi Indo ngeluarin album nggak ada istilah bikin video klip. Paling promo di televisi dan radio. Acara musiknya pun bisa dihitung dengan jari, seperti Safari, Panggung Gembira, Kamera Ria, Candra Kirana…welehhh, lawas banget ya. Kemasan simple, nggak pake host seheboh acara musik sekarang.  Gokil juga. Katanya acara musik, nyodorin penyanyi, band etc. But hebohan hostnya kini…mereka ngebanyol dan ngoceh nggak ketahuan juntrungannya (maaf, komen boleh dong).
            Inget banget tuh, waktu muncul Video Musik Indonesia yang digawangi Dian Nitami. Wuihhh, keren! Musisi berlomba bikin vidklip bagus. Soalnya nggak lagi gaya cuap-cuap pegang mike di depan kamera saja, tapi mereka juga musti punya konsep cerita jelas. Setting lokasi, pemain pendukung, skrip, semuanya…Sampai populer banget, sutradara vidklip bertangan dingin seperti Djay Subiyakto, Dimas Djayadiningrat, Jose Purnomo, dll..Nggak hafal lagi, lainnya. But gara-gara happeningnya, sampai acara itu dibuat tour,  seperti di Yogyakarta yang gw ikutan datang. Masih ada Gigi, Jay, Nugie…VMI juga nggak sekedar memberi waktu buat artis menayangkan vidklip, tapi juga nyediain award. Penghargaan buat pemain, skrip, dll, mirip penilaian film aja. Komplit.
            Sayang banget. Entah karena rating, kurang sponsor / pemodal, acara itu lenyap ditelan bumi. Malah menjamur acara “musik” yang sebenarnya lebih ke entertain penonton aja. Karena kadang diisi jumpa fans pemain sinetron, lawakan, sulap, macam-macam. Padahal kalau mau jujur, penggarapan vidklip sekarang makin gila-gilaan lho. Syuting sampai ke luar negeri, pemain pakai bintang kaliber citra, sutradara pun menggaet yang biasa bikin layar lebar. So, serius…but, kenapa reward atas prestasi mereka malah hilang ya?
            Sayang banget, beneran. Sementara semua acara musik, mudah banget bikin award. Moga aja sih, harap-harap cemas masih ada station televisi yang melirik kembali acara sejenis VMI. Agar seleb kita juga terpacu bikin vidklip “beneran”… masa kita mau sih, dibilang ketinggalan mlulu dr band/seleb luar… Nggak kan? Nyatanya bisa tuh dan banyak yang keren abis…So….(foto: gigionline.com)

GIGI "BYE BYE"

Sabtu, 17 September 2011

Kahitna

Jaduls but...

            Kahitna ultah yang ke 25? My God! Refleks jari-jari ini berhitung…Cepet banget ya, waktu berlalu. Gw inget, ketemuan pertama dengan Yovie Widianto waktu masih mengenakan blazer warna-warni, bareng Hentriessa (adik kandung alm. Elfa Secioria, Iwan Wiradz etc). Mereka berenam yang rata-rata jebolan alm Elfa, menyebut kelompoknya Indonesia 6. Cenderung jazzy, fussion…
Yup! Akhir ’80-an dan awal ’90-an, musik jenis ini memang happening. Lihat saja, ada Emerald, Indra Lesmana cs, Krakatau, Karimata, Halmahera, Spirit (ada Dewa Budjana). And kalau akhirnya, Yovie kemudian bareng rekan-rekannya, bikin Kahitna yang cenderung pop manis, memang itu salah satu kelebihannya sebagai musisi bertangan dingin. Lagu-lagu yang mudah dicerna, simple, tapi tidak kacangan dan tetap memperhitungkan talent masing-masing personelnya membuat Cerita Cinta, langsung booming.  
Jujur juga, awal muncul pachaging personelnya cute hahahaha… Hedi Yunus dan Andri (gitaris/personel paling muda) salah satu contohnya. Tiap kali Kahitna manggung, busyet deh…always bikin screaming. ABG cewek rata-rata, nggak segan menyerbu sampai backstage dan ruang ganti. Gw pernah jadi korban, kegencet-gencet, sampai nggak nyadar…di depan Hedi, kacamata sudah penyet, nggak simetris lagi…
Dua jempol, akhirnya mereka bisa bertahan hingga angka 25. Meski posisi Ronny Waluya, sebagai salah satu vokalis digantikan Mario. Hedi Yunus dan Carlo Saba yang sempat “berdua” saja, akhirnya kembali bertiga. Bongkar pasang personel, biasa. But menjaga konsisten bermusik dan kualitas itu yang luar biasa. Seperti band “tua” lainnya yang boleh dibilang jaduls alias band jaman dulu, berumur. Soal umur, mereka memang sudah nggak muda lagi, but…soal talent, kualitas, skill, jangan main-main.  Dan gw juga percaya, musik nggak kenal istilah “tua” atau “uzur”. Peace!(ft: berbagai sumber)

Sabtu, 10 September 2011

WORLD TRADE CENTER sepuluh tahun lalu



            Pernah memperoleh predikat sebagai bangunan tertinggi di dunia tahun 1971-1973, World Trade Center yang berada di Lower Manhattan, New York  mulai beroperasi 4 April 1973. Sepuluh tahun lalu, tepatnya 11 September 2001  rata dengan tanah. Serangan teroris yang diklaim Al-Qaeda, membuat sedikitnya 2.753 orang tewas. Belum terhitung, berapa orang yang terkena dampak ledakan, seperti: sakit asma akut, bahkan kanker paru-paru akibat menghirup debu reruntuhan.
            Kisah tragis korban WTC sempat dijadiin film layar lebar besutan sutradara Oliver Stone dan Nicholas Cage sebagai pemeran utama. Sedih. Kasihan. Tragis. Ngebayangin dua bangunan pencakar langit di negara adi kuasa bisa luluh lantah dalam sekali hentakan.
            Peringatan tragedi  WTC itu, bagi gw ngingetin banyak hal. Kekerasan apa pun tidak menyelesaikan masalah. Malah sebaliknya, korban tak bersalah, tidak tahu apa-apa, berjatuhan. Saling tuding, ngerasa kelompoknya paling benar, super power, hingga nggak bisa menghargai perbedaan atau keberagaman, juga bikin hidup kita yang “numpang lewat” doang ini juga nggak nyaman. Lantas, negara sekuat apa pun, sebesar apa pun, seperti Amerika misalnya juga tetap bisa kecolongan. Nggak ada yang sempurna. So, enjoy what we have…dan alangkah nyamannya bisa saling berbagi, menguatkan satu sama lain, ketimbang ngejatuhin, ngerusak, menyakiti. (Ft: berbagai sumber)

Selasa, 06 September 2011

CERITA DARI BANGSAL RUMAH SAKIT



            Pusing. Aroma karbol langsung menusuk indra penciuman, begitu kuterbangun. Lamat-lamat kudengar suara denting benda-benda yang sepertinya terbuat dari logam atau stainless stell. Mengapa tubuh ini terasa begitu dingin dan ringan? Meski mata rasanya begitu berat untuk dibuka, segalanya samar dan seakan berkabut, kupaksakan juga mengenali apa saja yang ada di sekelilingku….
            Perawat? Suster? Ruangan serba putih? Glek, mata ini kembali terpejam. Kucoba mengingat-ingat apa yang tengah terjadi. Astaga…bukannya terakhir aku terpelanting dari motor, gara-gara menghindar dari sebuah bola yang menggelinding di tengah jalan? Bola…ya, bola yang lebih menyerupai kepala manusia, plontos, botak, berlumuran darah, dan wajahnya itu…Wajah itu menyeringai, seakan menertawakan aku?
            Damn! Apa aku tadi bermimpi? Tapi kenapa kepala gundul itu, begitu jelas menggelinding di depan mata? Darimana memangnya aku tadi? Mmmm…iya…iya… Bukannya kuhabis menengok Tata, sepupu yang melahirkan? Sengaja kumanfaatkan cuti panjangku kali ini, buat main ke Semarang, sekaligus menengok salah seorang kerabat dan mantan teman kuliah. Toh, sudah lama nggak kangen-kangenan dengan mereka. Apalagi, cukup banyak juga teman kuliahku dulu yang memiliki usaha bagus di kota lumpia ini.
            Lumayan. Banyak kawan, banyak kemudahan. Buktinya, aku nggak perlu repot mencari penginapan, karena Danu sahabatku yang kini mengelola rumah kos-kosan, memaksaku menginap di sana, sekaligus meminjamiku motor. Agar mudah, buat ke mana-mana.
            “Anggap saja rumah sendiri…Motorku juga bisa kamu pakai. Jangan sungkan, dulu kamu kan sering banget direpotin,” katanya, sambil menyodorkan kunci motor dan STNK.
            Segan dan malu juga, dia bantuin sampai segitunya. Meski waktu kuliah memang sih, Danu sering banget menginap di rumah, buat ngerjain tugas kampus sama-sama. Makan, jalan, cari buku, sampai pedekate dengan cewek, kami sering lakukan bersama. Itulah mengapa, lama banget kami nggak pernah dapat pacar serius…
            Lulus kuliah, kami bekerja di kota yang berbeda. Dia tinggal di Semarang, aku memperoleh posisi lumayan di sebuah biro periklanan di Yogya. Tiga tahun sudah, kami keasyikan dengan karier masing-masing, sampai lupa memikirkan rumah tangga. Hingga kudengar sekarang, Danu baru saja bertunangan dengan adik kelas kami dulu. Rencananya sih, lima bulan lagi mereka menikah.
            “Mas, sudah sadar? Bisa dengar suara saya?” Lamat-lamat, suara lembut itu terdengar. Kurasakan sesuatu yang dingin, menyentuk tengkuk, lantas nadi di pergelangan tanganku…
            “Syukurlah, mas sadar. Hampir dua jam, mas pingsan…” kata pemilik wajah oval dan berseragam putih-putih itu, begitu melihatku membuka mata. Suster? Kuberusaha menggerakkan kepalaku, tapi …pusing! Denyut di kepala, seperti ribuan jarum. Sakit…
            “Saya di mana? Mengapa bisa di sini?”Kerongkongan ini rasanya tercekat, seperti sudah belasan jam tidak bicara. Kering. Perempuan berseragam perawat dengan rambut pendek sebahu, itu tersenyum…
            “Tenang, mas. Jangan banyak gerak dulu. Mas mengalami kecelakaan dan diagnosa dokter, gegar otak ringan. Kerabat mas sudah kami hubungi, besok akan datang. Sekarang, tidur saja lagi… Kalau butuh apa-apa, pencet bel ya. Saya piket malam ini,” kata perawat itu lagi.
            Aku hanya bisa menyeringai, lemah. Kelihatannya, pengaruh obat masih begitu terasa, sampai-sampai ingin membuka mata saja begitu berat. Gelap.
*******
            Bosan. Bayangin saja, seharian tidak bisa turun dari tempat tidur. Sendiri pula… Jam berkunjung sudah lewat, kini aku kembali sendiri di ruang berukuran sekitar 4X5 meter ini, seorang diri.
            “Siang, mas…Sudah baikan? Sebaiknya jangan terlalu diforsir buat membaca atau mikirin yang berat-berat,” tegur pemilik suara lembut itu… Oh, suster cantik ini lagi…
            “Tolong, panggil saya Dewa saja suster, jangan mas…mahal mas sekarang?!” kataku, mencoba bercanda. Hah, norak banget sih…Malu juga aku nyadar, kok lebai begini…Pasti perawat itu, langsung ilfeel. Eh, tahunya bukannya menunjukkan ekspresi sebel, cewek bermata bulat dengan bulu mata lentik, tanpa maskara itu malah senyum…
            “Okey Dewa…Kamu juga boleh panggil saya, Suster Tika. Kebetulan saya sering piket di bangsal ini…” katanya, sambil meletakkan makan siangku di meja, samping tempat tidur.
            “Mau makan sekarang? Saya bantu?” tanyanya lagi. Aku menggeleng. Tapi melihat kesungguhan tawarannya, boleh juga tuh. Lagipula ingin makan sendiri juga masih sulit…
            Tanpa kuminta dua kali, Suster Tika langsung membantuku makan… Ampun, kuingat terakhir kali merasakan disuapin ya waktu kecil dulu.
            Bayanganku tentang perawat yang pendiam dan dingin, ternyata tidak beralasan. Buktinya suster yang satu ini super ramah dan hangat. Dia mau mendengarkan cerita konyolku, bahkan sebaliknya dia juga nggak segan menceritakan keluarga kecilnya. Katanya sih, masih seorangan alias single. Tika tinggal bersama dua adiknya yang masih kuliah dan sang mama. Kasihan juga…Muda-muda sudah menjadi tulang punggung keluarga…
***********
            Obrolan siang itu, nyaris kulupakan. Kupikir nggak akan bertemu lagi dengan suster cantik itu, setelah aku dipindahkan ke ruang rawat biasa. Gabung dengan seorang pasien lain yang juga korban kecelakaan. Maklum, aku menolak tinggal di kamar VIP. Mahal! Tapi tahunya, malam ini  Tika juga yang berkeliling mengecek keadaan pasien. Sayang banget, kali ini dia tidak sendiri. Tapi ditemani perawat berambut kriting, cepak dengan warna kulit lebih gelap dari suster cantik itu. Hingga aku nggak bisa mengajaknya ngobrol, seperti kemarin.
            “Malam, Suster…” sapaku, sok akrab ketika dua perawat itu mendekati tempat tidurku. Deg, jutek banget! Teman Tika itu hanya senyum, sekilas kulihat id pengenalnya. Bertha. Mmm, nama yang bagus. Sayang tidak seindah pribadi orangnya, padahal kuperhatiin perempuan bertubuh mungil, berleher jenjang itu juga cantik. Bahkan kesannya lebih eksotik, dibanding Tika yang berkulit putih.
            “Kalau ada keluhan, silahkan pencet bel ya…Saya piket malam ini. Sebaiknya, anda tidur jangan terlalu larut…” pesannya dengan nada datar. Busyet, nggak ada manis-manisnya nih orang. Kulirik Tika yang berdiri disamping Bertha, hanya senyum-senyum, sambil menunduk. Seakan dia ingin menahan tawa, melihat ekspresiku yang masam dan shock…
            Sialan, pasti Tika menertawakanku dalam hati. Ya, lagian siapa pula yang sok akrab…Suster berwajah dingin itu, kelihatannya tak menghiraukan ekspresiku yang kaget. Cuek saja, dia memeriksa selang infus, lantas memastikan beberapa obat di meja, sudah kuminum.
            Bbbrrrr….Entah kenapa, perasaanku nggak enak. Dingin. Lebih dingin dari biasanya, udara malam ini. Bahkan, tangan Suster Bertha waktu memeriksa detak nadiku pun kurasakan begitu dingin…Sekilas, kulihat tatapan mata perempuan itu. Gggrhh, dingin pula! Tanpa ekspresi… Mati, deh…Kalau hari-hari terakhirku di rumah sakit ini musti bertemu dengannya melulu.
*********
            Bener juga, tebakanku. Sejak pindah ruangan, aku nyaris nggak ada waktu ngobrol banyak dengan Tika. Suster cantik yang diam-diam sudah membuatku terpesona itu. Bahkan, kehadirannya sampai aku promoin di depan Danu. Untung saja, temanku sudah punya tunangan. Kalau nggak, pasti Danu juga setuju dengan pendapatku. Cewek ini cantik, lembut dan baik…pas buat dijadiin pacar, atau bahkan, lebih dari itu…
             Suster Bertha, lebih sering muncul, mengantarkan makanan, memeriksa kondisiku atau memastikan semua pasien dalam kamar ini baik-baik saja. Andai kan Tika, ikutan datang…dia selalu bersama Bertha. Huuuh! Kapan ngobrolnya? Boro-boro ngobrol, menyapa saja…aku sungkan. Kulihat, Tika juga sedikit takut dengan Bertha. Mungkin dia seniornya kali.
            Sayang banget, padahal dua hari lagi aku dipastikan bisa pulang. Sore ini, sengaja aku keluar dari kamar, mencoba mencari udara segar sekaligus berharap bisa menemui Tika, minimal untuk terakhir kalinya…Tapi, lagi-lagi alamakkk….aku berpapasan dengan Suster Bertha.
            “Sore, Suster… “ sapaku, mencoba nekad. Huuh! Kali ini, nggak boleh nyerah deh...Demi….
            “Sore! Ada yang bisa saya bantu?” tanya Suster Bertha. Masih sama dengan yang kemarin. Tatapannya dingin. Meski kuakui, dia juga baik dan sigap meladeni semua kebutuhanku, tapi tetap saja dia tidak seceria Suster Tika.
            “Mmm….nggak…Suster, piket sendiri?” Aduh! Gila! Kutepuk jidatku sendiri, menyadari pertanyaanku begitu bodoh. Ngapain nanya-nanya, dia sendiri…
            “Ya, sering juga sendiri. Boleh saya periksa tensinya? “ tanya Suster itu, sembari mengikuti aku yang tengah membuka pintu kamar. Mmm, masuk lagi deh. Gerutuku. Entah mengapa, tiap berdekatan dengan suster ini, perasaanku nggak enak. Selain  udara di sekelilingku terasa lebih dingin dari biasanya, aroma melati yang mungkin dia pakai membuatku bergidik.  Benar-benar, aku nggak suka baunya…menggiriskan.
            “Lain kali, hati-hati kalau bawa motor. Apalagi lewat daerah bekas hutan randu itu…” kata Suster Bertha, sambil memeriksa obat-obatan di mejaku. Mmm, tumben nih suster, baik juga mau ngomong…
            “Ya, Suster tahu saya kecelakaan motor?”
            “Tahu dari Suster Tika, sebelum saya tugas di bangsal ini.  Sebenarnya sudah sering, korban kecelakaan tewas di tempat itu. Daerah bekas pohon randu. Anda saja yang beruntung, selamat…”
            Deg! Jantungku seperti berhenti berdetak. Nih suster, beneran cerita, bersyukur aku selamat, atau malah nakut-nakutin sih…Tebakanku keliru. Suster Bertha, ternyata tidak kalah menyenangkan dari Tika. Hanya saja, tampilan luarnya saja serem. Padahal kalau sudah kenal, ternyata dia nggak segan diajak cerita. Apalagi pasien yang satu kamar denganku sudah pulang. Hingga, obrolan kami tidak mengganggu siapa pun.
            Lewat Suster Bertha pula, kutahu glundungan kepala plontos yang kulihat itu, bukan hisapan jempol. Beneran. Banyak orang kecelakaan di tempat itu, gara-gara melihat kepala menggelundung di jalan raya. Sebutannya bagi yang percaya, gundul pecengis. Kepala gundul yang menggelinding, sambil mecengis atau meringis.  Cerita itu muncul, awalnya dari seorang pria plontos yang ditemukan mati terbunuh di daerah yang dulunya banyak pohon randunya. Tubuh korban ditemukan, tergeletak di bawah pohon, terpisah dari kepalanya yang berada tak jauh dari tubuh itu.
            Hih!!! Bulu kudukku meremang, Cerita Suster Bertha ini bisa-bisa membuatku nggak bisa tidur. Meski malam ini, kulihat dua kali Suster Tika melintas di depan kamar, bersama seorang perawat. Mungkin dia piket malam. Ingin memanggilnya, tapi mataku sudah begitu berat. Hingga akhirnya, malam ini aku berhasil benar-benar terlelap.
**********
            Thanks God! Hari ini, aku bisa pulang…Danu yang menjemputku, sudah menunggu di mobil, karena kubilang mau pamitan dulu dengan perawat yang selama ini begitu baik, menjaga.
            Kuintip ruang perawat, mmm…Suster Tika kemana ya? Apa dia sedang keliling, memeriksa pasien? Belum sempat aku mengetuk pintu, tepukan di pundak nyaris membuatku melompat kaget. Suster Bertha!
            “Pulang sekarang ya…Hati-hati di jalan, jangan lupa tetap rajin check up, buat memastikan nggak ada efek samping dari benturan di kepala,”katanya, sambil menjabat erat tanganku. Dingin. Masih sama…
            “Maaf, Suster…Boleh, saya tahu Suster Tika kemana ya?” tanyaku hati-hati. Duh, jangan sampai suster galak ini tahu isi hatiku. Tapi melihat ekspresi wajahnya yang mendadak berubah, hatiku jadi nggak enak juga…Pasti dia menduga aku macam-macam…
            “Suster Tika?” Tanyanya lagi, serius. Aku menggangguk, meski heran melihat mata Suster Bertha mendadak memerah dan berkaca-kaca.
            Denyut di kepalaku mendadak muncul lagi, mendengar cerita perawat bertubuh langsing ini. Katanya, Suster Tika meninggal dalam kecelakaan sepulang piket malam. Kejadiannya tepat, setelah esoknya aku pindah ruangan. Duh, padahal aku masih melihatnya sering menemani Suster Bertha memeriksa kondisiku. Berarti…(Ft: berbagai sumber)