Senin, 10 Oktober 2011

PENUMPANG GELAP DARI ALAS ROBAN




            Tangan-tangan mungil itu kejang dan bergetar hebat. Cengkeramannya tidak sedikitpun dilepaskan, bahkan terasa makin kuat. Sampai kuku-kuku panjangnya terasa mulai melukai kulitku. Perih. Percuma, aku berontak atau berusaha melepaskannya dengan paksa, karena cekalan Rahmi justru akan makin kencang. Kasihan, sebenarnya. Perempuan yang baru saja kubawa dari Jawa ini, masih sangat polos. Repot memang, cari pembantu hari gini. Selain butuh orang jujur, juga musti betah dan sabar.
            Kalau dipikir-pikir, beruntung banget keluarga besar kami memiliki Mbok Jum. Pembantu yang sudah mengabdi belasan tahun, sejak aku masih kuliah sampai kini sudah berumahtangga. Mama sebenarnya nggak merelakan, wanita separuh baya itu aku bawa ke rumahku yang baru. Karena bagi beliau, Mbok Jum bukan sekedar pembantu. Tapi sudah seperti keluarga, kerabat, saking tulus dan baiknya beliau. Gara-gara melihat pembantu di rumahku, keluar masuk alias nggak bertahan lama, akhirnya mama mengiyakan, Mbok Jum tinggal bersamaku.
            Sayangnya, penyakit usia tidak bisa dihindari. Tahun kedua, wanita itu minta ijin pulang ke kampung. Kondisi kesehatannya belakangan menurun. Beliau mengaku, ingin menikmati masa tuanya bersama kerabatnya di desa. Ya, aku tidak mungkin menahannya berlama-lama di rumah. Kasihan. Lagipula, kuperhatiin tenaganya juga tidak sekuat dulu lagi. Masa tega, melihat beliau ngeberesin seisi rumah sendiri?
            Pembantu pocokan atau harian, akhirnya menjadi pilihan terakhir. Mas Dika, suamiku menyarankan aku menggunakan pembantu bekerja tengah hari saja. Asal bantuin mencuci pakaian, setrika dan rapiin rumah.  Lantas, mereka bisa pulang.  Hasilnya? Nggak sukses. Bolak balik ganti orang, bolak balik ada kejadian tidak mengenakkan. Pokoknya, belum ada yang setangguh dan sebaik Mbok Jum…
            Bingung. Kesal. Mama sampai geleng-geleng kepala, tiap main ke rumah mendapati pembantu ganti lagi. Hingga akhirnya, sepupu Mas Dika menyarankan, kami mengambil pembantu dari Jawa. Kebetulan banget, Mbok Jum juga mengatakan kerabatnya ada yang membutuhkan pekerjaan. Demi memperoleh PRT, berdua dengan Mas Dika weekend ini kami sengaja ke kampung Mbok Jum buat menjemput saudaranya itu. Sekalian nengokin beliau yang kabarnya sering sakit-sakitan, karena faktor usia.
*********
            Lugu. Polos banget, Imah. Perempuan berwajah oval dengan alis mata tebal dan rambut sepinggang itu, kutebak usianya baru belasan. Waktu kami jemput, kelihatan banget dia belum pernah ninggalin kampung halamannya. Kelihatan malu, takut dan sedih. Apalagi saat berpamitan dengan kedua orangtuanya. Wah, seperti nonton sinetron-sinetron saja… Haru.
            Lumayan. Meski harus menempuh jarak sekian km, berhasil juga kami memperoleh PRT. Kubayangkan, rumah nggak sepi lagi kalau Mas Dika keluar kota atau pulang larut. Minimal aku punya teman ngobrol atau beberes rumah.  Tapi ya itu…polosnya bukan main. Sepanjang jalan, Imah kelihatan begitu resah. Nggak bisa duduk nyaman, menyandarkan badan di mobil. Bolak balik dia mengaduk-aduk isi tas jinjing, lantas duduknya geser mojok ke sisi kanan. Belum ada lima menit, pindah lagi, geser ke sisi kiri… Sampai-sampai, aku ikutan gelisah.
            “Imah, kenapa? Sakit perut? Ada barang kamu yang ketinggalan?” tegurku, sembari memperhatikan dia yang duduk di tengah. Mas Dika yang sejak tadi mengemudikan mobil, hanya senyum-senyum saja, melihat ekspresiku.
            “Nggak apa-apa, bu…Nggak ada yang ketinggalan….”
            “Ya sudah, santai saja. Tidur juga boleh. Perjalanan kita masih jauh lho.. Alas di depan saja, belum kita lewati…”
            Untung, bujukanku ampuh. Nggak lama, Imah kelihatannya mulai terkantuk-kantuk, sambil memeluk tas dari kain yang sudah tidak jelas lagi warna aslinya itu. Pasti, dia masih kebayang orang-orang terdekatnya di kampung…batinku. Ntar juga kalau sudah sampai Semarang, dia tidak segelisah itu.
            Tebakanku, salah besar. Bukannya, Imah tertidur pulas hingga sampai Semarang, malah sebaliknya. Jelang alas roban yang kondisi jalanannya padat merayap, dia tiba-tiba terjaga. Mata bulat itu terbelalak, menyaksikan deretan mobil dan truk di depan. Tapi bukan hanya itu, tiba-tiba saja….
            “Bu…takuttt…buuu, pulangggg!” teriaknya, histeris. Tangan-tangan mungilnya mencengkeram pundakku, hingga posisi dudukku tertarik ke belakang. Mas Dika sampai kaget, nyaris menginjak rem, hingga kami tersentak ke depan…
            “Imah, ada apa lagi? Mimpi buruk ya…” aku berusaha menenangkan. Tapi tangan-tangannya makin kuat, mencengkeram. Sampai kurasakan, tengkukku perih. Hiiih! Jangan-jangan kulit mulus ini sudah baret-baret, kena cakarannya nih!
            Sebisa mungkin, kulepaskan cengkeraman Imah. Cewek berkulit sawo matang itu kini ganti memelukku dari belakang, begitu kuat. Sampai-sampai aku susah bernafas…Gila nih bocah, batinku. Stress…
            Entah apa yang mengganggu pikirannya. Kalau dibilang berlebihan, nggak juga. Karena kurasa, dia benar-benar ketakutan. Masalahnya, apa yang membuatnya takut?
Kami berada dalam mobil yang sangat nyaman, meski jalanan macet dan pemandangan kanan kiri hanya pohon rimbun dan jurang menganga…
            Untung, nggak lama Imah kembali tenang. Mata yang tadinya terbelalak melihat ke kanan kiri jalan, kini tak lagi garang. Wajah pucat itu, basah bermandi keringat. Heran. Padahal ac di mobil begitu dingin. Entah apa yang dia khawatirkan…Apa dia nggak pernah melihat dunia luar, sampai segitunya?
            “Ma, sebentar ya…” kata Mas Dika membuyarkan lamunanku. Ouch, sudah sampai mana ya? Kulihat jalanan lumayan lenggang, tapi pemandangan di sekitarku masih tidak jauh berbeda. Pohon, semak-semak, bukit, jurang…fiuuhhh…
            “Kita mau turun ya bu?” tanya Imah, waktu mobil menepi di dekat pepohonan rindang dan berhenti.
            “Kalau nggak ada perlu, nggak usah turun Mah. Bapak saja, ada perlu…” kataku, sambil mengeluarkan snack dari dalam tas.
            Mas Dika rupanya ngerasa ada yang tidak beres dengan mesin mobil. Maka dia memutuskan menepi sebentar, sekedar ngecek mesin dan melemaskan sendi-sendinya yang pegal.
            Aku yang setengah mengantuk, memilih diam saja dalam mobil. Kulihat Imah turun, sebelum akhirnya ku benar-benar tertidur pulas, akibat letih amat sangat.
            Benar-benar perjalanan melelahkan. Tiba di rumah, aku hanya memberitahu kamar dan perlengkapan pribadi buat Imah. Lantas, mandi dan tidur…Mas Dika juga kelihatannya capek banget. Dia hanya sempat mandi, lantas menyusul aku. Tidur.
**************
            Senin pagi yang sempurna. Mas Dika sudah berangkat pagi-pagi bener,  sementara aku masih menyiapkan beberapa berkas buat  dibawa ke kampus. Sebagai dosen, pantang bagiku membawakan materi kuliah dengan ala kadarnya. Minimal, bahan-bahannya sudah kubaca ulang dan kusiapkan semalam. Mm, beruntung juga…Imah akhirnya bekerja di rumah kami. Setidaknya, aku bisa tenang ninggalin rumah...
            “Berani ya, ninggalin rumah? Pembantu kamu kan baru sehari ditinggalin sendiri? “ tanya Nesya, dosen satu jurusan denganku, keheranan. Ya sih, memang baru sehari Imah kutinggalin sendiri. Tapi gimana lagi, masa aku musti ijin dan nggak mengajar hari ini?  Lagipula, keluarga kami juga nggak kaya-kaya amat…Dia mau merampok apa, toh nggak ada perhiasan berharga atau uang jutaan rupiah di kamar.
            Pertanyaan Nesya tadi nyaris kulupakan, andai saja Mas Dika nggak menelponku siang ini. Katanya, telpon di rumah kok nggak ada yang angkat.
            “Mungkin saja Imah lagi di kamar mandi atau ketiduran, mas… Dia masih kecapekan kali, belum biasa perjalanan jauh,” kataku, berusaha menenangkan. Padahal jujur sana, aku juga ikutan gelisah waktu melihat sikap Imah. Seharian ini, sepulangnya aku dari kampus kulihat dia nggak banyak bicara. Murung. Kalau kutanya atau kudekati, dia seperti menghindar… Kasihan. Mungkin dia masih homesick. Mikirin keluarganya di kampung.
            Murungnya Imah juga berimbas sama pekerjaan. Karena seharian ini, kulihat rumah masih berantakan. Alamakkk…Mungkin dia nggak tahu, apa saja yang musti dikerjain? Capek juga dong, menjelaskan detailnya apa saja..Bukannya secara dia bisa refleks merapikan ruangan yang kotor atau tanaman di halaman disiram?
            Hari pertama aku ngantor dan Imah ada di rumah, tidak semulus yang kuharapkan. Faktor umur, bisa jadi. Seperti yang dibilang Mas Dika. Imah kelihatan banget masih sangat muda. Dia belum terbiasa dibebani arti tanggungjawab. Gimana musti bersikap dengan majikan. Buktinya, nyantai saja tuh dia mengurung diri di kamar, sepulangnya aku dari kampus….
            Bolehlah, hari ini aku tidak menegur atau memanggil Imah. Lagian, aku sendiri sudah capek dengan tumpukan hasil test yang musti kukoreksi. Belum lagi, bantuin packing Mas Dika yang besok mau keluar kota.
            Pagi ini, sengaja aku menyiapkan sarapan sendiri. Toh sederhana saja, roti bakar, susu coklat hangat kesukaanku dan kopi pilihan Mas Dika. Kudengar suara pompa air menyala di belakang. Mungkin Imah sedang mencuci pakaian…sudahlah, toh sarapan nggak butuh bantuannya…
            Bing! Mas Dika menghentikan suapannya. Refleks aku pun melihat jam yang ada di dinding. Baru pukul enam pagi. Siapa yang menelpon? Jangan-jangan kabar dari mama yang sakit atau apa….Perasaanku langsung nggak enak. Mas Dika sudah duluan mengangkat telepon. Kurasa, sesuatu yang tidak beres benar-benar terjadi. Wajah cowok bermata elang dengan rambut cepak itu mendadak pucat. Suaranya juga tergagap-gagap. Hanya menjawab, “Iya, baik…benar….”
            Rasa penasaranku belum juga terjawab, ketika selesai menerima telpon, Mas Dika diam seribu bahasa. Sambil memberi tanda supaya aku segera menyelesaikan sarapanku, lantas mengajakku berangkat bersama, tanpa banyak kata.
            “Mas, kenapa sih tegang banget dari tadi? Kita mau kemana sekarang?” tanyaku bingung, waktu melihat mobil yang dibawa Mas Dika, arahnya bukan ke kampus atau ke kantornya.
            Semua pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku terjawab sudah, waktu kami tiba di rumah mama. Wanita yang melahirkanku itu tidak sendiri, tapi bersama seorang laki-laki separuh baya. Kata mama, beliau salah satu kerabat Mbok Jum yang mengantarkan Imah ke rumah, sekaligus minta maaf. Karena Imah terlalu polos, sampai-sampai waktu mobilku berhenti di tepi jalan buat check mesin dia malah ngobrol kelamaan dengan seorang perempuan yang katanya dia temui ada di dekat mobil kami parkir. Pas Imah sadar, aku dan Mas Dika sudah pergi meninggalkannya.
Untung,  cewek itu ditolong penduduk dusun yang lewat dan diantarkan balik ke rumahnya.
            Wusss! Keringatku mengucur deras. Kupastikan andai ada cermin, wajah ini pasti kelihatan sangat pucat. Sama seperti Mas Dika yang tengah duduk di sampingku. Andai Imah nggak ikut balik bersama kami, trus siapa cewek yang tinggal di rumah? (ft: berbagai sumber)

PEREMPUAN HUJAN


             
            Gokil! Hujan lagi. Feeling tadi mengatakan, malam ini cuaca cerah. Bayangin saja, sore tadi masih terang benderang. Pas masuk supermarket, keluar –keluar air sudah begitu deras ditumpahkan dari langit. Pilihan hanya dua. Nungguin sampai hujan reda atau cari ojek payung. Soalnya tempat parkir mobil, lumayan jauh. Paling malas sebenernya, berhujan-hujanan ria begini….
            “Payung, mbak?” tawar seorang bocah perempuan yang sudah berdiri tepat di depanku,  sambil membawa payung. Kutebak usianya baru belasan. Bibirnya pucat membiru, tangannya kelihatan bergetar. Pasti dia kedinginan. Baju lusuh yang dia kenakan pun sudah basah. Kasihan.
            “Mbak…payung? Murah mbak…sekasihnya mbak saja kok…” tawarnya lagi, mengejutkan. Mm, boleh juga. Selain buang waktu, nungguin hujan. Berbagi rejeki sama bocah ini, nggak ada salahnya.
            “Udah, ambil saja kembaliannya. Buat kamu…” kataku, ketika dia bengong melihat uang yang kusodorkan dalam genggamannya. Kulihat sekilas, mata bulat itu berkaca-kaca. Moga saja, keberuntungan selalu berpihak padanya, batinku haru.
            Hari pertama, tinggal di villa sendirian ternyata menyenangkan. Meski harus kerja bakti duluan, merapikan seisi rumah yang berantakan. Rencanaku menyelesaikan skripsi, sekaligus menenangkan diri berhasil sepertinya. Awalnya, sempet ragu juga. Soalnya villa milik papa itu biasa digunakan Vanno, saudara tiriku yang doyan petualangan berlibur bareng teman-teman genk motornya. Risih. Takut dia merasa aku mengganggu property-nya. Kata papa sih, villa itu masih milik kami bersama. 
            Yup. Hubunganku dengan Vanno memang sangat buruk. Entah mengapa, dia tidak pernah bisa menerima kehadiranku sebagai anak adopsi dalam keluarganya. Mama Vanno almarhum dulu, sangat menginginkan anak perempuan. Hingga aku diadopsi dari sebuah panti asuhan. Mungkin perlakuan mama berlebihan juga, beliau memanjakanku. Selain kelakuan Vanno sejak kecil memang kelewat bandel. Berkelahi, biasa banget dalam kamusnya. Entah, berapa kali orangtua kami dipanggil kepala sekolah gara-gara tingkah lakunya.
            Kini, setelah mama meninggal, sikap saudaraku itu makin menjadi. Bahkan, kami seperti orang asing. Jarang saling tegur sapa. Dia juga lebih banyak menghabiskan waktu di kamar atau di luar rumah bersama teman-temannya. Kalau pun musim liburan, Vanno suka naik gunung atau touring bareng genk motor. Villa milik keluarga di puncak itu, salah satu rumah keduanya. Papa pun nggak berani menegur. Mungkin karena kami sudah sama-sama dianggap dewasa kali, sehingga bisa memutuskan baik atau buruk masing-masing.
***********
            Hujan kali ini, tidak sederas kemarin. Paling tidak, kalau mau nekad menerobos dan sedikit berbasah-basahan ke tempat parkir mobil, masih bisa. Tapi lagi-lagi gadis berpayung biru itu mendekat… Wajahnya yang tirus, semakin pucat karena cuaca dingin dan bajunya basah kuyub. Kasihan. Semustinya, dia tidak berada di tempat seperti ini…
            “Payung, mbak?” tawarnya, lirih. Tanpa banyak bertanya, aku mengangguk dan menggandeng tangannya. Dingin. Duh, aku sendiri juga sebenernya menggigil kedinginan. Gimana dia yang berlama-lama tertimpa air hujan…
            Kelihatannya memang kami berjodoh. Soalnya nggak hanya sekali, dua kali bertemu. Selang beberapa hari kemudian, aku juga melihat dirinya ada di antara derasnya air yang ditumpahkan dari langit. Pantaslah, aku suka menyebutnya Si Perempuan Hujan.
            Bintang, nama cewek yang belakangan kuketahui, ketika aku selesai belanja dari supermarket, sebelum akhirnya balik ke Jakarta.  Gadis yang baru berusia 15 tahun itu, mengaku putus sekolah. Selain bekerja membantu ibu dan bapaknya memulung atau menerima cucian dari tetangga, Bintang  juga bekerja serabutan. Ikutan membantu bawain belanjaan di pasar atau seperti sekarang, ngojekin payung.
              Meski kekurangan, tapi gadis itu nggak memanfaatkan keadaan dan belas kasihan orang. Buktinya, dia tetap memilih bekerja keras, ketimbang mengambil jalan pintas. Seperti…amit-amit, menjajakan diri pada lelaki hidung belang.
            “Pernah, mbak. Bahkan sering, digangguin. Untung Bintang sadar, masih punya pegangan agama dan selalu inget orangtua. Dosa. Sekecil apa pun rejeki yang didapat sekarang, Bintang tetep syukuri,” katanya, waktu kutanya gimana dia bisa menjaga diri.
Godaan, mungkin saja kan? Apalagi cewek ini tubuhnya tinggi semampai, berkulit sawo matang dengan alis dan bulu mata tebal serta lentik. Hidung mancung dan bibir indahnya mengingatkanku pada artis Angelina Jolie. Mmm, gimana cowok-cowok nggak termehek-mehek, kalau dipoles sedikit saja?
*********
Bbbbbrr!  Lamunanku buyar seketika. Barang-barang belanjaan, masih berserakan di atas meja.  Belum ada lima belas menit masuk villa, tiba-tiba kudengar suara gaduh. Seperti langkah orang. Arah suaranya dari kamar belakang, waduh..maling nih jangan-jangan!  Buru-buru kucari sumber suara itu berasal, tapi…Kosong! Nggak ada siapa-siapa. Hanya daun pintu tembusan kamar belakang yang setengah terbuka.  Heran. Bukannya biasa Vanno selalu meninggalkan villa dalam keadaan semua pintu terkunci rapat?
            Deg! Jantungku kembali berdetak, ketika suara gemuruh air itu terdengar begitu jelas. Bulu kuduk ini meremang tiba-tiba, bersamaan dengan aroma busuk menusuk hingga membuat seisi perutku terasa diaduk-aduk. Astaga. Bau bangkai! Pengalamanku menguasai bela diri membuatku nekad saja, mencari arah suara gemuruh air itu berasal. Ampun! Kran di wastafel depan kamar mandi dan shower dibuka! Jelas, air mengucur deras.  Mungkinkah, krannya rusak? Anehnya waktu kucek, kran bisa ditutup dan baik-baik saja. 
            Selesai mematikan kran di wastafel, kucoba mematikan shower di kamar mandi dan ternyata tidak semudah yang kuduga. Seperti mengajakku bercanda. Keluar kamar mandi, shower menyala lagi. Sekali, aku masih bisa cuek. Kali kedua, …astaga…. Nggak salah apa yang kulihat? Seorang perempuan tengah duduk, meringkuk di pojok tepat di bawah shower dengan tubuh basah kuyub. Wajahnya tidak bisa kulihat jelas, karena disembunyikan di antara kedua lututnya dan tertutup kedua tangannya. Bahunya berguncang hebat, seperti menangis sesegukan.
            Lidahku kelu. Pusing. Mungkinkah aku lagi bermimpi? Belum hilang kagetku, tiba-tiba tangan perempuan itu menarik lenganku. Lantai kamar mandi memang begitu licin. Aku pun nggak siap dengan “kejutan” ini, hingga terbanting ke lantai. Sebelum kesadaranku hilang, masih sempat kulihat tatapan mata perempuan itu. Tajam, menusuk!
*********
            Apes. Mungkin kecapekan dan ngantuk membawa mobil seharian, sampai aku berhalusinasi. Akibatnya terpeleset di kamar mandi…Pagi-pagi, kuterbangun dengan badan pegal dan baju basah di kamar mandi. Untung, staminaku nggak mudah ambruk. Secangkir kopi hangat dan roti bakar, bikin moodku kembali dan nyaris melupakan kejadian semalam.  Mmm, kelihatannya musti belanja supermarket lagi.  Beberapa kebutuhan pokok, habis. Keterlaluan juga Vanno. Waktu kutinggalkan villa tiga minggu lalu, masih banyak snack dan perlengkapan pribadi yang belum dibuka dari kemasannya. Sekarang, boro-boro kemasan. Balik ke villa, semuanya ludes bersih tak tersisa. Malah lagi-lagi, rumah ditinggal dalam keadaan berantakan.
            Jelang ujian akhir, aku memang memilih menghabiskan minggu tenangku di villa. Selain sumpek dengan suasana Jakarta yang always macet dan polusi, juga menghindar dari orang rumah. Malas, tiap saat musti melihat tatapan tak bersahabat Vanno. Tapi kami tinggal satu rumah, masa mau mengurung diri di kamar mlulu? Lebih baik kabur…
            Keluar dari supermarket, hujan masih saja bersahabat. Padahal sengaja, pas mau jalan aku bawa payung. Bodohnya, tetap saja tertinggal di dalam mobil. Mmm, biasanya jam-jam segini Bintang ada…
            Bener tebakanku. Tak jauh dari tempatku berdiri, seorang gadis dengan payung berwarna biru seperti biasa berdiri dengan bibir membiru dan tubuh menggigil, kedinginan. Aku sudah menunggu ojek payung darinya, ketika tiba-tiba seorang bocah cowok berambut plontos dengan tatapan polos itu, sudah menyodorkan payung untukku….
            “Payung mbak, murah…Boleh nawar, saya antar sampai ke mobil….” Pinta bocah yang kutebak belum ada 10 tahun usianya itu, sambil menatapku penuh harap. Duh, nggak tega juga rasanya menolak dia yang sudah jelas-jelas berada tepat di depanku. Sekilas kulihat Bintang masih berdiri di tempat yang sama dengan tatapan kecewa. Entah kenapa, aku merasa sangat bersalah tidak menggunakan ojek payungnya kali ini.
            Duerrr! Glek! Nyaris aku tersedak buah apel yang tengah kumakan. Seperti suara pintu belakang dibanting. Padahal yakin seyakin-yakinnya, pulang dari supermarket semua pintu masih dalam keadaan terkunci. Ah, mungkin halusinasi saja, hiburku  sambil melanjutkan suapanku.
            Duerrrrr! Lagiiii? Duh, nggak main-main kelihatannya. Sambil membawa payung, senjata satu-satunya yang kutemukan di kamar, aku berjingkat, perlahan-lahan ke sumber suara. Dan…kosong… Nggak ada siapa-siapa. Hanya pintu belakang dalam keadaan setengah terbuka, sepertinya aku lupa mengunci?
            Perasaan nggak enak, tiba-tiba menyergap, bersamaan dengan lampu mati. Duh, Gusti. Aroma apalagi ini…seperti bau bangkai, menusuk dan mengaduk-aduk seisi perutku. Kedua tanganku bergetar hebat, ketika harus meraba-raba dalam gelap, sementara bau busuk itu makin santer tercium. Udara dingin juga terasa begitu menggigit, sampai membuat aku nyaris menahan nafas karena ketakutan yang amat sangat….’
            Nggak. Nggak boleh takut, batinku. Sambil berusaha mengenali arah mana yang menuju ke kamar tidur. Untung, lampu tiba-tiba kembali menyala, pas aku berada tepat di depan kamar mandi  dan tengah dalam keadaan terbuka….. Astagaaa!!!
            Seorang gadis tengah meringkuk di bawah shower yang mengucur deras. Badan mungilnya menggigil, kedinginan. Dia mengerang, seperti kesakitan. Tapi makin kudekati, seperti erangan orang yang menahan marah… belum sempat kusadar apa yang terjadi, kulihat air yang mengalir di lantai kamar mandi berubah menjadi merah,  darahhh…darahhh di mana-mana dan baunya busuk, menusuk. Panik. Antara takut, kaget dan nggak tahu musti berbuat apa….sekian detik aku terpaku di tempatku berdiri, sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi gelap.
            Sakit. Linu. Semua persendianku seperti mau copot, ketika kusadar sudah berada di rumah sakit. Ternyata, klinik yang berada tidak jauh dari villa.
            “Untunglah, mbak nggak mengalami gegar otak. Hanya lebam-lebam, luka luar saja… jadi bisa langsung pulang. Keluarga mbak sudah menunggu di luar,” kata dokter berkacamata minus itu. Mmm, keluarga? Papa, maksudnya?
            Bingung. Pas banget, papa sudah berada di puncak? Perasaan waktu aku berangkat lima hari lalu, papa bilang banyak meeting dan bakal pulang malam mlulu. Bener. Ternyata papa sudah menunggu aku di depan kamar periksa. Wajah beliau kelihatan kuyu dan pucat. Nggak secerah biasanya. Kasihan. Pasti mengkhawatirkan keadaanku….
             “Kita pulang ya, nak… “kata beliau dengan suara berat. Hingga sepanjang jalan menuju Jakarta, kami sama-sama terpaku dalam diam. Meski kupancing bicara, papa kelihatannya malas banyak berkomentar. Ya, sudahlah. Lagipula, kepalaku juga masih pusing dan badan capek banget.   
            Pertanyaan demi pertanyaan, tentang kejadian yang kualami di villa belum juga terjawab. Hingga akhirnya, siang itu kulihat papa pulang kantor lebih cepat dari biasanya.
            “Papa sakit? Pulang cepet?”
            Papa menggeleng, lantas memberi kode aku agar ikutan duduk bersamanya di ruang makan. Duh! Entah harus bersyukur karena aku masih  selamat  atau sedih karena harus merelakan Vanno masuk penjara.  Bayangan mengerikan yang selalu menggangguku di villa, ternyata ada kaitannya dengan saudara tiriku itu.
            Cowok yang suka touring dengan genknya itu, suatu malam kelewat mabuk pas lagi di villa. Entah setan mana yang merasukinya, bersama dua orang kawannya, Vanno membekap seorang gadis belasan tahun yang ditemui sepulang dari membeli minuman, lantas membawanya ke villa. Tragis. Gadis itu tewas mengenaskan, karena kepalanya terbentur lantai kamar mandi. Takut kejahatannya terungkap, mereka membuang mayat cewek itu ke semak belukar. Namanya juga kejahatan, sepandai apa pun pasti terbongkar juga…  Ada barang bukti yang mengarah ke villa dan akhirnya, ketika papa dan polisi datang, mereka menemukan aku tengah pingsan di depan kamar mandi.
*********
            Senin pagi…Perasaanku lebih enakkan dari minggu lalu, setelah beberapa hari musti menemani dan menghibur papa yang terpukul dengan kasus Vanno. Ajakan papa untuk menemaninya menengok makam dan menyerahkan santunan untuk keluarga gadis yang tewas itu, aku iyakan.
            Sedih. Tak sanggup rasanya membendung air mata ini, waktu kami bertemu dengan orangtua korban, lantas mengantarkan kami ke makam. Pandanganku nanar, waktu membaca nama yang tertera di nisan…. Bintang bin Makhmud. Mungkihkah dia perempuan hujan yang sering kutemui? Lidahku kelu. Gelap dan dingin saja yang kurasakan, waktu orangtua korban menunjukkan sebuah foto lusuh. Kenang-kenang dari anak gadis mereka. Bintang. Si perempuan hujan. (Ft: berbagai sumber)

MISTERI DI BALIK BUKIT CIPULARANG



            Cipularang lagi-lagi makan korban. Dugaan kecelakaan terjadi karena kelalaian mengemudi, ngantuk dan faktor jalanan yang sangat curam serta turunan. Namun sebagian orang juga mengaitkannya dengan masalah dunia lain.  
            Giris. Lagi-lagi berita tentang tol Cipularang. Mulai dari hal mistis sampai hitungan secara ilmiah,  nyaris dipaparkan tiap hari selama seminggu belakangan ini. Ya, terutama sejak terjadinya kecelakaan yang menewaskan istri penyanyi dangdut Saipul Jamil dan 6 penumpang travel di jalur rawan kecelakaan itu. Hampir semua infotainmen selama seminggu belakangan ini, juga mengangkat topik yang sama. Mulai dari selebritis, awam, sampai pemuka agama, ikutan bicara. Mmm, jujur…takut dan trauma juga aku melintasi jalur itu.  Awalnya nggak pernah kepikiran, kalau tol  ini sudah memakan banyak korban.
            Tol Cipularang yang terbentang  dari Cikampek, Purwakarta, Padalarang itu selesai dibangun akhir April 2005.  Karena lokasinya berada di pegunungan, jalanannya pun naik turun dan memiliki banyak jembatan panjang serta tinggi. Sempat heboh juga sih, waktu jalanan amblas dua kali. Akibatnya truk dan trailer kini tidak boleh masuk wilayah itu lagi. 
            Konon Km 97 dianggap tempat paling angker, hingga dibangun sebuah rest area dan tempat beribadah, untuk mengusir makhluk halus.  Gara-gara waktu pengerjaan tol, tepat di Km 97 , empat orang pekerja tewas jatuh  dari atas truk pengangkut aspal, lantas terlindas mesin pengeras jalan. Dugaan sementara, mereka terhempas karena angin sangat keras berhembus dari arah samping jalan. 
            Ngomongin misteri Cipularang, mau tidak mau membuatku teringat kejadian yang pernah dialami kakak kandungku, Edo yang biasa pulang pergi Jakarta-Bandung. Biasanya, cowok yang jago beladiri dan berbadan atletis itu, mengandalkan mobil kantor lengkap dengan sopir. Kadang juga, naik kereta api, ketika tol Cipularang belum jadi. Hingga jarak Jakarta-Bandung, musti ditempuh sekitar 3 sampai 4 jam. Kini, hanya butuh waktu 1,5 sampai 2 jam saja. Jelas, hemat waktu dan biaya.
            “Jalanan enak sekarang, Din!  Kuliner dan tempat shopping , seperti factory outlet kan banyak banget di Bandung. Nggak usah nungguin cuti kantor atau liburan hari raya lagi,” kata Edo, setengah menertawakanku.
            Jelas aja, dia bebas bolak balik dengan mobil pribadi. Lha aku, mahasiswa yang masih ngandalin tambahan uang saku dari mama dan Edo? Pasti berpikir dua kali, buat main-main ke kota kembang itu. Apalagi hanya buat shopping… Nggak deh! Lagipula, aku termasuk paling hitungan, alias super hemat.
             “Ntar deh, nungguin bonus dari kamu…” kataku tergelak, melihat Edo yang hanya selisih tiga tahun usianya denganku itu, melotot gemas. Ya iyalah…dia sendiri yang ngusulin have fun ke Bandung, mustinya dia juga yang berani modalin.
            Siang itu, balik dari kampus kulihat Edo lagi packing. Pasti bekal dari mama…Meski sudah segede itu dan mandiri, namanya juga orang tua…masih saja khawatir. Mama nggak pernah lupa, ngebawain makanan dan camilan kesukaan Edo, tiap balik ke Bandung, tempat kerjanya. Padahal kalau dipikir-pikir, dia kan bisa beli dan usaha sendiri.
            “Din, jangan lupa ya…Lihatin mama tuh, kalau suka tidur malem-malem. Biasa lihat televisi, sampai ketiduran di ruang tengah.  Ingetin juga, vitaminnya… Aku sudah beliin stok untuk dua minggu ke depan…” katanya, sambil terus merapikan baju-bajunya dalam travel bag.
            “Beressss bosss! Hati-hati ya, bawa mobilnya. Jangan ngebut dan ngantuk… BB juga disilent aja, kalau nggak penting…”
            “Yesss…nengggg….”
            Entah kenapa, kali ini aku lebih bawel dari biasanya. Padahal tiap Edo balik Bandung, aku nggak pernah nungguin atau ngelihatin dia packing. Apalagi pesan buat hati-hati atau perhatiin kondisi  selama di jalan…
            Lepas magrib, Edo memang baru jalan. Nggak seperti biasa pula, dia beri wejangan banyak buatku. Mulai ngejagain mama, ngurusin rumah, ngeberesin kuliah, sampai jaga stamina.  Nissan Terrano  yang dia bawa,  habis check up mesin di bengkel dan dipastikan semua stabil. Tapi lagi-lagi…perasaan ini nggak enak banget. Sebaliknya, Edo kelihatan begitu girang, seperti lama banget nggak pernah balik Bandung…
*********
            Mmm,  balik kantor besok musti banyak yang diberesin. Berkas dari Pak Yuda tinggal ditandatangani, sebelum diserahkan ke bagian umum, batin Edo sambil pandangannya tetap fokus ke depan. Lagu dari Linkin Park di mobil, membuat cowok ini tetap terjaga dan lebih nyantai. 
            Jalanan malam ini, tidak begitu padat seperti biasa. Bahkan cenderung sepi. Mungkin karena bukan musim liburan dan hari kerja pula. Kecepatan masih stabil sekitar 80 km/jam, hingga tiba-tiba….
            Suhu  dalam mobil, terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal ac sudah dikecilkan, sejak berangkat pun Edo mengenakan jaket. Lamat-lamat, terasa ada yang terasa berhembus di tengkuk… Bulu kuduknya, berdiri. Merindinggg….
            Penyuka musik up beat dan travelling ini, menggeleng-gelengkan kepala. Ah, perasaannya saja. Paling juga gara-gara habis membaca berita kecelakaan di sekitar tol, tapi kejadiannya kan di Cikampek waktu itu…
            Tiba-tiba… bbbrrr…. Seperti? Nggak salah??? Sesosok orang, tinggi besar di tepi jalan. Kelihatannya dia tengah menunggu seseorang atau berharap memperoleh tumpangan. Tatapannya dingin, tanpa ekspresi…. Hiiiiihhhh! Jalan tol, malam-malam begini orang berdiri sendirian?
            Tanpa sadar, Edo menginjak gas lebih dalam… Laju kendaraan pun sempat oleh, apalagi ketika dia rasakan getaran begitu kuat seperti mendorong mobil yang dia kendarai. Arahnya dari arah samping, mungkinkah ada bis atau mobil lain menyalip?
            Bagaikan cerita dalam film-film action, kakakku itu merasa ada sign dari mobil di belakang yang tiba-tiba mendekat dan makin dekat. Entah, kapan sedan berwarna biru gelap itu muncul, perasaan tadi masih kosong di belakang Edo. Berulangkali Edo sudah menepi dan memberi tanda agar mobil itu duluan, tapi tetap saja dia nempel di belakang,  seperti ingin menabraknya. Jelas saja, Edo makin panik, mobilnya kembali oleng dan nyaris menabrak pembatas jalan, sebelum akhirnya pengendara gokil itu melintas di depannya, lantas…menghilang begitu saja dalam kegelapan. Aneh. Padahal kecepatan mobilnya juga sama-sama kenceng, kok bisa hanya dalam hitungan detik menghilang?
            Keringat Edo pun membanjir, tangannya sampai bergetar memegang stir. Masih dilindungi Tuhan…Bersyukur, batinnya. Kalau nggak, lewat sedikit saja pasti mobilnya sudah menghantam pembatas jalan dan terbalik. Kebayang wajah mama dan aku di rumah, serta setumpuk pekerjaannya yang belum dibereskan. Kejadian yang dialaminya di sekitar Km 96  itu, tidak pernah dia ceritakan pada kami di rumah, hingga suatu hari….
**********
            Barang-barang belanjaan sudah rapi di bagasi, termasuk oleh-oleh buat kami di rumah. Malam itu dari nengokin salah satu teman kantornya yang melahirkan di Bandung, Edo berniat langsung balik Jakarta.  SMS dan pesan singkat di BB-nya kelihatan tidak dia perdulikan. Padahal mama sudah mengingatkan, malam ini sebaiknya nggak perlu balik. Soalnya sudah seharian keliling, pasti capek dan takut ngantuk di jalan.
            Bener juga…. Masuk Km 90-96, Edo merasakan keganjilan yang sama, waktu dia malam-malam balik dari Jakarta. Mobilnya terasa jauh lebih dingin dari biasa. Entah, dorongan dari mana yang membuatnya terusik untuk menoleh ke sisi jalan, tepatnya di samping kiri jalan.
            Blassss! Astaga! Nggak salah tuh? Dia kembali melihat sosok yang sama…Tinggi besar, berdiri di samping jalan, seakan tengah menunggu tumpangan. Bbbrrr, bulu kuduk Edo langsung berdiri. Meski sempat panik, tapi kecepatan mobil tetap berusaha di jaga. Sia-sia sja kelihatannya…Pikirannya sudah nggak fokus, tangannya sampai gemetaran, hingga Edo memutuskan berhenti di rest area yang ada di Km 97.
            Hampir satu jam lebih, dia termangu-mangu di rest area. Seperti kehilangan energi dan semangat. Bayangan sosok menyeramkan itu tadi membuatnya berpikir dua kali, untuk balik lewat jalan itu…
            Untung banget, Edo bertemu teman kantornya yang juga mau balik ke Jakarta. Hingga minimal percaya diri cowok itu kembali lagi. Kami pun berkumpul kembali, tanpa kurang sesuatu apapun.

FAKTANYA:
            Kejadian yang dialami Edo ini, mungkin saja pernah dirasakan orang lain. Berbagai cerita menghubungkan kecelakaan yang sering menelan korban jiwa di Km 96 dengan hal berbau mistis. Menurut hasil terawangan Fabian Hosoi, mentalis jebolan The Master3 yang biasa bolak balik Jakarta-Bandung itu, kondisi jalanan sangat turun di Km 97-96 dari Bandung. Pas di ujung turunan, belok ke kanan tikungannya tajam, sehingga sangat patah. Masuk akal, ngelamun sedikit, langsung oleng.

            Fabian Hosoi The Master3
              Secara logika, pengemudi suka nggak sadar tidak mengurangi kecepatan, hingga pas turunan, mobil makin melesat. Memang sebaiknya, pengemudi tidak mengantuk, kecepatan yang disarankan 40-60 km/jam. Kalau tidak, pengendara yang tidak piawai membawa mobil bisa kehilangan kendali.
             Apalagi  di sisi jalan  tol yang kosong melompong, tiba-tiba ada bukit rimbun di sebelah kiri kalau dari Bandung. Otomatis atau refleks, orang akan melirik ke sana.
            “Nah, tepat di situ ada pohon yang menjorok ke jalan, akar-akar dan lumut,  banyak menjulur, bergelayutan. Sekilas dilihat, seperti ada sosok besar tengah memperhatikan kendaraan yang lewat! Pasti begitu ngelihat, kaget. Orang yang nggak siap atau tengah ngelamun  bisa langsung oleh…” jelas Fabian yang juga seorang Tarot Reader ini.  
            Selain itu sebenarnya kawasan Cipularang dahulu merupakan perbukitan yang dipotong menjadi jalan tol. Tinggal sedikit pohon tersisa di puncak bukit, pas di dekat Km 97. Bukitnya sebelah kanan kalau dari Jakarta, kiri dari Bandung.
 “Lihat deh, masih ada pohon rimbun di sana. Saya merasakan ada tempat pernah disakralkan dulu di hutan itu. Entah makam atau apa… Itu kan seperti celah antar bukit. Bayangin saja dulunya itu hutan, perbukitan, lantas dipangkas menjadi jalan tol. Hanya “tersisa” sedikit saja…Pasti ada yang terusik,” jelas Fabian.
             Selain itu, pas Km 100 di jembatan Cisomang, pasti pengemudi akan merasa dorongan keras. Karena aliran angin sangat kencang, secara logika. Di bawahnya juga ada lembah yang dulu lama tidak tersentuh manusia.  Konon, tempat yang tidak terjamah manusia, dingin, lembab, gelap, paling disenangi oleh makhluk halus. So, tinggal kita saja yang musti bijaksana. Ingin dengar pengamatan secara logika atau mistis, yang penting tiap melewati kawasan ini tidak perlu parno. Hanya hati-hati, jaga stamina dan baca doa.(ft: berbagai sumber)