Minggu, 08 Mei 2011

OLD MELBOURNE GAOL


              Bayangan orang tewas digantung saja, sudah seram. Apalagi tempat yang biasa digunakan sebagai rumah tahanan ini biasa mengeksekusi tahanan di tiang gantungan. Konon pembunuh serial legendaris yang diduga Jack the Ripper pun tewas mengenaskan di sini. Beruntung sekali, saya bisa berkunjung ke sana…

            Dingin. Entah mengapa, bulu roma saya langsung berdiri begitu masuk ke bekas rumah tahanan yang  lokasinya ada di Russel Street, Melbourne ini. Aroma tanah lembab, menusuk indra penciuman. Jantung berdetak cepat, ketika tangan saya meraba dinding-dinding bata, pintu bergerendel dari kayu dan besi setengah berkarat yang dibiarkan sesuai aslinya. Kengerian dan kebekuan itu, benar-benar terasa sejak awal kita melangkahkan kaki ke dalam bangunan yang mulai dibuka 1 Januari 1845 dan kini beralih fungsi menjadi museum itu.
            Old Melbourne Gaol kelihatannya memang seperti rutan biasa. Hanya dua lantai, sederhana. Tapi jangan salah, begitu masuk ke lantai dasar saya bisa merasakan kengerian masih menghantui siapa pun yang datang. Kanan kiri kita, sel-sel berisi dipan kayu yang sangat sempit. Sekitar dua kali dua meter. Konon, penjahat kambuhan harus melakukan aktivitas sehari-harinya di sel mereka masing-masing, termasuk keperluan pribadi seperti buang air. Hihhh!
            Pantas… mereka banyak yang stress. Nggak jarang, mereka yang melawan atau berbuat kesalahan selama dalam sel, memperoleh hukuman ekstra. Saya bisa melihat, kengerian itu makin terasa ketika menginjakkan ke lantai dua. Selain sel di kanan kiri jalan, sudut bangunan terdapat tempat untuk menyiksa dan menghukum gantung tahanan. Banyak pembunuh dan perampok kambuhan, dihukum gantung di tempat ini. Tiang gantungan yang terbuat dari kayu jati sederhana dengan talinya, masih ada lengkap… Bbbrr, buru-buru langkah saya percepat. Berusaha mengejar rombongan tour yang ada di depan sana…Nggak, nggak boleh sampai tertinggal sendiri.
Perasaan gamang, campur was-was membuat saya merasa ada yang mengamati gerak gerik rombongan kami sejak masuk tadi. Gemerincing gerendel pintu yang terbuat dari besi, ketika coba dibuka oleh salah satu anggota rombongan, membuat hati semakin giris. Astaga… jantung rasanya mau copot. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki, jangkung dan kekar muncul di depan kami. Wajahnya tidak bisa dikenali karena mengenakan baju dan penutup kepala yang terbuat dari kulit.
“Hannnn…Hanntuuuu!” teriak Anna, salah satu sahabat saya. Kaki kami bergetar, hebat. Ingin berlari keluar, tapi rasanya kaki ini dibebani oleh puluhan ton baja. Berat!
 Laki-laki itu maju selangkah ke depan, lantas membuka topengnya. Ampun! Dia tour guide kami. Dasar!
Usut punya usut, kostum yang beliau kenakan sebenarnya replika dari kostum yang biasa digunakan Ned Kelly, seorang penjahat legendaris dari Australia yang dihukum mati di Melbourne Gaol. Konon saking legendaris “karya” Ned Kelly, kisah hidupnya sampai diangkat ke layar lebar. Nggak hanya Ned Kelly, pembunuh serial Frederick Bailey Deeming juga dihukum gantung di sini. Total ada 135 orang digantung di Melbourne Gaol.Tahanan pertama yang digantung Elizabeth Scott, seorang wanita asal Victoria. Dia dieksekusi 11 November 1863. Orang terakhir yang digantung di Melbourne Gaol, Angus Murray tahun 1924, bertepatan dengan ditutupnya penjara ini. Seremnya lagi, tubuh tahanan yang dihukum gantung dimakamkan tanpa kepala, karena kepala-kepala itu digunakan untuk bahan praktek mahasiswa kedokteran yang belajar tentang phrenological. 
Sebelum Perang Dunia II, penjara ini sempat ditutup tahun 1924. Lantas pemerintah setempat mengubah fungsinya menjadi museum yang sekarang kami kunjungi. Mereka ingin menunjukkan data siapa saja tahanan kelas berat penghuni Melbourne Gaol, termasuk kapan dan bagaimana proses eksekusi mereka berlangsung.
Mengingat banyaknya jumlah orang yang meninggal, penasaran, beberapa paranormal memastikan museum ini masih dijadikan “tempat tinggal” mereka yang rohnya masih bergentayangan. Banyak kejadian di luar akal sehat sering ditemui di tempat ini oleh para petugas jaga atau peserta tour yang “beruntung”. Mereka sering mendengar suara-suara aneh di sekitar sel, seperti rintih kesakitan, tangis putus asa dan teriakan orang sedang marah.
 Kostum replika Ned Kelly bisa dicobain lho...

KORBAN MELBOURNE GAOL
Edward Kelly
            Pembunuh berdarah dingin keturunan Irlandia yang lahir Juni 1855 ini, sebenarnya dianggap pahlawan rakyat kecil ketika terjadi perang melawan penjajah. Saat Ned Kelly panggilan cowok ini masih sangat belia, dia sudah terlibat bentrok dengan polisi Victoria tahun 1878. Tawuran itu menyebabkan Kelly dan genknya dicap sebagai pemberontak.  Puncaknya ketika pecah kerusuhan di Genrowan, 28 Juni 1880. Kelly yang suka mengenakan baju terbuat dari kulit dan metal lengkap dengan penutup kepala itu pun tertangkap dan langsung dijebloskan ke penjara. November 1880, Ned Kelly pun dihukum gantung di Old Melbourne Gaol. 

Colin Campbell Ross
            Pemilik sebuah bar ini divonis bersalah, karena telah memperkosa dan membunuh seorang bocah perempuan berusia 12 tahun, Alma Tirtschke Desember 1921. Kasusnya dikenal dengan nama the Gun Alley Murder. Jelas saja, pembunuhan keji itu membuat masyarakat setempat marah. Mereka mendesak kepolisian menghukum Campbell dengan hukuman mati. Benar saja…April 1922, tepatnya 115 hari setelah jenasah Alma ditemukan, Campbell dihukum gantung di Melbourne Gaol. Tragis…Kabarnya tali yang digunakan untuk menggantung, sudah terlalu tua. Laki-laki ini tidak langsung meninggal di tempat. Dia meregang nyawa, lebih dari empat puluh menit tergantung-gantung di tiang gantungan sebelum akhirnya benar-benar tewas. Sejak kejadian itu, tali gantungan diganti baru dan tali yang lama tidak pernah digunakan lagi.

Frederick Bailey Deeming
            Laki-laki kelahiran 30 Juli 1853 ini, sejak umur 16 tahun sudah terlibat berbagai tindak kejahatan, terutama mencuri dan penggelapan uang. Dia dianggap bertanggungjawab atas kematian istri pertamanya, Marie dan empat anaknya di Rainhill, Inggris 26 Juli 1891. Nggak hanya itu saja, Bailey juga membunuh istri keduanya Emily di Windsor, Melbourne 24 Desember 1891. Tiga bulan setelah kemudian jenasah beliau baru ditemukan. Bailey pun akhirnya dijatuhi hukuman gantung, Mei 1892. Jelang eksekusi, masyarakat yang marah dan menjuluki Bailey sebagai Jack the Ripper memadati jalanan di depan Melbourne Gaol untuk memastikan laki-laki ini benar-benar sudah tewas di tiang gantungan.  (big thanks to Aneka Yess! Magz yg membuat saya bisa ke Melbourne. I'll never forget it....)

PESAN PENGHUNI TERAKHIR


           
            Sempurna! Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri di depan laptop, membayangkan ekspresi ketakutan pembaca novel keduaku. Kali ini tokohnya seorang gadis usia belasan yang sudah menjadi mesin uang bagi ayah tirinya. Dia dijual ke beberapa lelaki hidung belang, termasuk tunangan dia yang ternyata juga doyan main perempuan. Meski dalam kondisi sakit pun, Gina musti meladeni laki-laki. Hingga suatu malam, ayahnya menemukan dia tewas mengenaskan, karena melompat dari lantai dua tempat mereka tinggal selama ini. Kepalanya retak, sebagian besar  tulang rusuk dan kakinya patah.
            Hanya selang sehari setelah kematian Gina yang tidak wajar, berturut-turut lelaki yang pernah menyiksa Gina tewas mengenaskan. Mulai dari tunangannya, pelanggan di kafe tempat mereka biasa “transaksi”, hingga sang ayah yang berhati culas itu. Mereka ditemukan dengan kondisi menyedihkan. Ada yang kena aliran listrik  kantor tempat mereka bekerja, tertimpa papan reklame saat mobil mereka melintas, sampai ada yang terhimpit mobil pengangkut semen yang tiba-tiba remnya blong. Proses kematian mereka kubuat mengerikan. Ketegangan demi ketegangan kurangkai sedemikian rupa, hingga seakan penonton melihat tayangan filmnya.
            “Gila kamu ya…Ngeri banget, cerita-cerita kamu. Gue sampai terbayang-bayang, hingga kebawa mimpi! Kok bisa sih, Tan…Memang, kamu nggak takut sendiri?” komen Tika, salah seorang temanku terheran-heran. Aku hanya bisa tertawa lebar, melihat sahabatku waktu SMA itu geleng-geleng kepala. Soalnya nggak hanya dia saja yang komentar seperti itu…Teman-teman kuliah, redaktur dari penerbit yang mengedit tulisanku, sampai Nino laki-laki yang dua tahun ini menjadi pacarku, juga ngomong sama.
Jujur saja. Sebagai penulis, kepuasan tersendiri bagiku mampu mengaduk-aduk emosi mereka. Apalagi bisa membuat mereka ketakutan, bahkan kalau bisa sampai terbawa mimpi. Entah mengapa, sejak awal aku menyukai cerita-cerita horor yang bikin jantung siapa saja berdebar-debar.
Tulisan pertama yang kubuat waktu masih kuliah, ternyata membuat Bimo teman satu angkatan sampai phobia dengan kamar kecil di kampus kami. Gara-gara aku menceritakan kisah seorang gadis yang tewas, ketika berusaha menggugurkan kandungannya di kamar kecil sebuah kampus ternama. Cowok bertubuh tambun yang biasa cuek dan murah tawa itu, tiba-tiba saja menjadi pendiam selama beberapa hari. Jelas saja, kami teman-teman satu angkatan terheran-heran. Kocaknya lagi, ketika dia ketahuan minta ditemani ke kamar kecil. Astaga…Mahasiswa setua ini masih takut ke kamar kecil sendiri? Belakangan baru kutahu, dia suka kebayang-bayang sosok menakutkan di toilet kampus, setelah membaca ceritaku yang dimuat di sebuah surat kabar.
Perasaan bersalah, tapi juga bangga menghantuiku. Bangga, karena itu artinya cerita yang dibuat alur cerita dan penokohannya kuat, sampai-sampai pembaca seperti Bimo, bahkan teman-teman lain yang akhirnya ngakuin, terbawa suasana. Ngerasa bersalah, sebab secara tidak langsung aku membuat hidup Bimo tidak tenang. Untung, cowok itu bisa menghilangkan rasa takutnya…meski akhirnya dia tidak pernah berani lagi membaca karya-karyaku. 
            Ffuih! Jari-jari yang sudah beberapa jam menari-nari di atas keyboard, pegal juga. Kulirik jam di dinding, hampir pukul enam sore. Artinya aku harus buru-buru mandi, editing terakhir naskahku, sebelum besok mengirimkannya ke redaksi sebuah penerbitan yang selama ini selalu memuat cerita yang aku buat.
            Bbbrr.. Air yang menyembur dari shower, membuatku bergidik kedinginan. Memang nggak biasanya aku mandi sampai sore begini. Kalau pun kemalaman, pasti aku biasakan menggunakan air panas. Sambil bersenandung kecil, aku meraba-raba ke kotak sabun, berusaha meraih sabun cair beraroma  lavender,  kesukaanku.  Mmm, botol sabun berhasil kuraih. Tapi, begitu kutuang sabun cair yang biasa kugunakan, mengapa…Astaga…Wanginya terasa berbeda.  Anyir… bikin mual! Mungkinkah salah ambil atau sabun ini kadaluarsa? Kubuka mataku perlahan, …telapak tanganku… merah!   Tangan ini penuh dengan cairan berwarna merah kehitaman, menyerupai darah… Lagi-lagi baunya…
            Glek. Aku nyaris muntah. Buru-buru kubilas air. Tangan ini kugosok sekuatnya, sampai terasa pedih dan perih. Nggak, nggak boleh takut…Itu hanya halusinasiku. Kebanyakan lembur, bikin cerita horor, batinku berusaha menghibur. Sayangnya, ketakutanku bukan makin hilang tapi makin menjadi ketika kurasakan ada sesuatu yang tengah merayap di pundakku. Geraknya begitu lamban, tapi terasa liat dan licin.
Aku melompat jijik, sambil berusaha mengibaskan badanku agar benda asing itu jatuh.  Ampun…Tubuhku terpelanting, nyaris terbanting ke lantai kamar mandi. Lupa kalau lantai begitu licin. Tangan kanan pun menghantam sisi wastafel, hingga sakitnya terasa sampai ke ubun-ubun. Kulihat sekilas di cermin, tak ada apa-apa di pundakku. Benda asing itu juga tidak ada di lantai. Entah, apa wujudnya dan ada di  mana sekarang. Tanpa berpikir dua kali, kusambar handuk, lantas kulilitkan ke badanku sebisanya dengan tangan bergetar. Sepi! Keluar dari kamar mandi yang langsung terhubung ke kamar, kurasakan kesunyian yang amat sangat. Nggak ada siapa-siapa…
            Ah, sudahlah. Halusinasi jangan ditanggapi…Aku hanya bisa meringis, melihat tangan kanan lebam kebiruan.  Pasti aku tadi memikirkan naskah ceritaku yang akan datang, sampai-sampai kebawa mimpi. Sekilas kulihat dari jendela, keadaan di luar sudah gelap. Guntur juga terdengar berulangkali…Tanda malam ini bakal hujan besar…
            Tangan kanan yang lebam, kuolesi balsem sebisanya. Lantas, kunyalakan kembali laptop. Kelihatannya aku perlu menambahkan sedikit catatan buat tokoh utamanya, selain beberapa koreksian di bagian saksi mata. Biar hasilnya sempurna, batinku.
            Air mata Gina tidak berhenti mengalir, ketika dia menatap wajahnya di depan cermin kamar. Pucat. Lusuh. Pipi kirinya membiru. Bekas tamparan salah satu laki-laki hidung belang yang  kemarin malam menyusup ke kamar, atas ijin papa tirinya itu masih terlihat jelas. Tangisnya kembali pecah. Tubuh mungil itu limbung…Keseimbangannya goyah. Sembari bertopang pada dinding, Gina melangkah ke arah jendela kamar yang terbuka. Hanya dalam hitungan detik, tubuh sempurnanya melayang jatuh…
            Duh! Listrik mati… Aku nyaris melompat dari kursi, kaget sendiri. Tanggung banget. Lagi asyik mengedit tulisan sendiri, lampu mati pula. Untung, batere laptop masih full sehingga kamar tidak gelap gulita. Tapi ya tetap saja…mood-ku sudah hilang. Lebih baik kunyalakan lilin dulu, sebelum melanjutkan pekerjaanku.
            Hanya dengan mengandalkan layar HP, kucari-cari lilin di dalam lemari. Aih…ketemu juga. Lumayan. Kamar ini tidak segelap tadi. Minimal, aku bisa menyelesaikan editanku…Kembali aku duduk di depan laptop dan …Astaga! Ketikanku sudah terhapus, tepat saat kematian Gina…Ah, mungkin tadi tanpa sengaja kepencet keyboardnya. Buru-buru berusaha kucari copy file-nya…Tetap saja, tidak bisa. Bahkan kini, laptopku ngadat. Hang! Nggak bisa diapa-apain…
            Nyaris putus asa! Laptop kututup, kuhempaskan tubuhku di tempat tidur. Benar-benar, aku menyerah. Nggak mungkin juga memaksakan ngerjain editan, ketika lampu mati dan otakku juga ikutan kacau. Konsentrasi buyar…
            Bippp… Ada telephone masuk. Kulihat sekilas dari LCD Hp, mmm…mama!
            “Ya, ma…” sahutku berat, sambil memeluk bantal…
            “Tan, kok lesu banget suara kamu? Baik-baik saja kan?” Suara mama di seberang, nadanya khawatir…
            “Mmm…nggak apa-apa, ma. Hanya listrik mati…Intan lagi kesal saja, karena nggak bisa nyelesaiin kerjaan…”
            “Ya, sudahlah. Sabar saja… Memang listrik di rumah baru kita ini, suka mati-mati kalau hujan deras. Mama hanya mau bilang, pulang agak malam. Ntar dianterin Tante Rini, teman arisan mama. Soalnya mendadak diajak nengokin teman sakit.”
            “Beres, ma…”  Jawabku lemas, sambil mematikan HP. Bener juga kata mama, rumah yang baru kami tinggali dua bulan ini memang berulangkali mati lampu setiap hujan gede. Sebenarnya aku lebih nyaman dengan kontrakan kami yang dahulu, jarang mati lampu dan mungil, sehingga tidak repot membersihkannya. Tapi bagaimana pun, kata mama tetap lebih enak rumah sendiri. Ya! Hasil kerja keras mama dan aku digabung dengan deposito peninggalan papa almarhum, menghasilkan rumah ini…
            Hujan masih mengguyur Jakarta. Malam ini, aku tertidur kelelahan. Sampai-sampai tidak sadar, pukul berapa listrik menyala kembali.
*****
            Pagi yang sempurna. Meski jam di dinding kamar masih menunjukkan pukul tiga pagi, aku sudah duduk manis di depan laptop.  Editan naskah semalam yang tertunda gara-gara listrik mati, musti beres kalau tidak mau kena omel editorku hari ini. Beberapa halaman awal kubaca lagi… Perfect! Karakter tokoh, alurnya sudah enak. Tapi kenapa di bagian ketika perempuan malang itu bunuh diri, terhapus?
            Ya ampunnn… Keringat membanjir. Nggak hanya satu dua baris saja, hilang. Beberapa bab penting, lenyap. Kucoba mencarinya di folder lain, tetap sama. Tidak ada jejaknya! Ggrh…mau tidak mau aku mencoba mengulang beberapa bagian yang kuingat. Selebihnya, benar-benar mengarang bebas. Untung instingku di saat terjepit begini, selalu cepat tanggap. Kata-kata bisa mengalir begitu deras, kalau sudah terjebak yang namanya deadline.
            Hanya butuh dua jam saja, editing dua bab terakhir dari novelku berhasil kuselesaikan. Kulihat jam di dinding. Lumayan, masih ada kesempatan buat tidur sebentar barang satu dua jam…lantas ke kantor penerbit yang akan menerbitkan novelku. Mataku langsung terpejam, begitu mencium bantal. Pulas!
            Sesuai rencana, naskah yang sudah kupindahkan dalam flashdisc kuserahkan Mas Priyo, redakturku. Kelihatannya dia lagi tegang, selesai meeting dengan pihak managemen. Buktinya, dia tidak banyak senyum dan bercanda seperti biasa, setiap kali melihat aku masuk ke ruang kerjanya…
            “Udah beres, Tan? Kamu sudah koreksi lagi, sebelum kamu serahkan sama saya?” tanyanya, sambil membuka laptopnya. Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung meneliti isi flashdisc yang kubawa. Sebentar-sebentar matanya mengeryit, lantas terbelalak…Kelihatan banget Mas Priyo bisa mengikuti alur cerita yang kubuat…
            “Gimana mas? Saya tunggu koreksian mas langsung atau saya tinggal?” tanyaku, hati-hati. Mas Priyo menggeleng-gelengkan kepala, tiba-tiba tangannya mengacak rambutnya sendiri yang kriwil hingga makin kusut masai…
            “Waduhhh…Kamu nggak teliti lagi, Intan. Ngerjainnya sistem kebut semalam ya?” tegurnya, serius.
            “Nggak, mas… Kenapa? Alurnya nggak asyik ya mas? Atau tokohnya…”
            “Bukan..Bukan itu…Sepertinya ada satu atau dua halaman, terlewatkan deh.”
            “Ah, masa mas? Saya sudah edit ulang kok?”
            “Lihat saja sendiri, … Ketika tokoh Gina tewas. Tiba-tiba saja dia tewas, tapi tidak kamu jelaskan penyebabnya…Gimana jalan ceritanya, sampai dia bisa ditemukan meninggal.”
            Nafasku tercekat. Lidahku kelu. Astaga! Masa bagian itu hilang lagi… Mas Priyo menyorongkan laptopnya ke depanku. Benar. Terasa banget ada beberapa bagian yang tidak nyambung, karena ceritanya terpotong tiba-tiba…
            Aku tertunduk lesu. Nggak bisa bicara apa-apa lagi. Ngeles atau ngotot pun, percuma. Karena Mas Priyo paling tidak suka dibantah, apalagi kalau buktinya jelas-jelas ada.
            “Ya sudahlah, kamu bawa saja lagi flashdiscnya. Saya beri waktu dua hari dari sekarang, karena besok saya ke luar kota. Tapi saya minta, rapi dan sempurna ya…Jangan ulangi lagi, kesalahan serupa,” tegur bapak dari dua orang putra itu, berat. Aku hanya bisa mengangguk lesu, sebelum pamit dan berlalu dari ruangan beliau… Duh, apes banget hari ini!
*****
             Hujan lagi? Oh, no… Nyaliku sudah menciut duluan. Kebayang, andai listrik mati. Sementara pekerjaanku masih numpuk. Belum lagi wajah Mas Priyo editor killerku itu pasti semakin bengis…Hiiihhh!
            Mmm, sampai di mana aku tadi ya…Mataku yang minus ini meneliti halaman demi halaman, hingga tiba-tiba…
            Blam! Gggrh, bener kan…Lampu mati. Untung aku sudah menyediakan beberapa batang lilin, sehingga tidak perlu meraba-raba dalam gelap. Cukuplah dengan penerangan lilin dan batere laptop yang masih full, kuselesaikan beberapa paragraf yang hilang. Tapi…astaga, laptop ngadat lagi…
            Bener-bener mau menangis rasanya…Kesal dan kecewaku menggunung. Andai saja kami tidak pindah ke pemukiman yang suka mati lampu ini…
            Bbbrrr… Udara dingin terasa berhembus di tengkukku. Jendela kamar berderak tiba-tiba, seakan angin kencang di luar sana ingin menerobos masuk. Hujan memang begitu deras malam ini. Kurapatkan jaket yang membungkus tubuh mungil ini, tapi tetap saja dingin itu terasa menusuk tulang. Heran…Nggak biasanya aku menggigil, kedinginan. Kulihat jam di dinding menunjukkan angka sepuluh. Kelihatannya mama sudah tertidur dari sore tadi. Kasihan, beliau kecapekan setelah bekerja seharian.
            “Intan…” Dahiku berkerut, heran…kompakan dengan bulu kudukku yang berdiri. Siapa yang memanggilku? Kulihat sekelilingku yang gelap gulita… Tak ada siapa-siapa. Mungkinkah mama terbangun?
            “Mama ya?” tanyaku, lirih.
            “Intan… Tolong Intan….” Suara itu? Tubuhku bergetar hebat. Gigiku seperti beradu, mulut seperti terkunci. Ingin teriak, tadi suara ini hanya tercekat di tenggorokan saja. Kelihatannya suara itu, bukan suara mama…
            “Siapa ya…” Kulihat sekeliling kamar yang tetap sama…Gelap. Tak ada siapa-siapa. Suara jendela yang berderak, terdengar makin kencang hingga bikin berisik. Sendi-sendi kakiku lemas rasanya…Akal sehatku hilang. Padahal biasanya aku paling bisa menakut-nakuti orang lewat cerita-ceritaku…
            “Intan…” Jari-jari lentik itu tiba-tiba terasa begitu dingin, memegang bahuku. Nyaris, aku melompat pingsan!
            “Kamuuuu….!!!!”
            “Intan, ada apa nak?” Kuperhatikan lagi, pemilik suara yang kini sudah tepat berdiri di sampingku. Astaga…Benarkah itu mama? Untung, beliau tidak tahu kalau aku nyaris mati berdiri karena takut hal-hal yang berbau hantu, dedemit dan sejenisnya. Andai mama tahu, pasti habis aku diledeknya…Masa penulis kisah horor penakut?
            “Ah, mama…Ngagetin aja. Tadi kebangun ya, ma?”
            Mama mengangguk, lantas duduk di sampingku. Kuperhatikan samar-samar dengan bantuan cahaya lilin, mama memang tampak lelah. Matanya cekung, tatapannya seperti kosong dan raut wajahnya lebih pucat dari biasanya. Kasihan beliau… Pasti menanggung banyak pikiran..
            “Sudah selesai pekerjaan kamu, Tan? Gimana akhir ceritanya…?”
            “Sebenarnya sudah ma…Tapi beberapa kali, ada bagian yang terhapus dan musti dibenerin…”
            “Termasuk kisah tokoh utamanya? Siapa tuh namanya, Gita…Gina ya?? Dia bunuh diri, terjun dari lantai atas atau dibunuh sih, Tan?”
            Aku mengerutkan dahi, heran. Wah, mama kritis juga… Memang selama ini, sebelum ke penerbit biasanya mama ikutan membaca ceritaku, tapi tidak biasanya beliau berkomentar kritis begini. Benar juga ya…Andai aku kembangin ceritanya, kalau Gina ternyata dibunuh kan lebih seru…
            “Wah, mama hebat… Idenya keren, ma… Nanti Intan mau ubah sedikit bagian terbunuhnya Gina. Makasih banget ya, ma…” kataku sambil memeluk mama. Wanita separuh baya itu hanya senyum simpul, sambil geleng-geleng kepala melihat gayaku masih kolokan.
            “Ya sudah, mama tidur dulu ya…” Mama pun meninggalkan aku yang serasa energi baru. Apalagi tidak lama setelah mama tidur, listrik pun menyala kembali. Dan jari-jariku kembali menari di atas keyboard laptop…
********
            Siang ini, pulang dari menemui editorku kulihat mama tengah duduk di teras depan bersama seorang wanita sebaya beliau. Beliau langsung memberi kode, agar aku duduk bersama mereka…
            “Intan, kenalkan ini Bik Mimin… Dulu pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah ini, sebelum akhirnya kita beli…” jelas mama. Wanita yang disebut Bik Mimin itu langsung menjabat tanganku, santun…
            “Ya, mbak…Mbak Intan kan? Tadi ibu sudah cerita…” katanya lirih, sambil menundukkan wajahnya. Hatiku langsung tersentuh. Kelihatannya wanita ini memang datang tidak hanya untuk bertamu, tetapi membutuhkan pertolongan.
            “Begini, Tan…Bik Mimin ingin bekerja di rumah kita. Kebetulan kamu dan mama kan sibuk, lumayan kan ada yang membantu…”
            Wah, bener juga. Bik Mimin juga tidak sekedar membantu merapikan rumah, tetapi juga bisa menjadi teman ketika aku sendirian di rumah. Seperti sore ini, ketika mama belum pulang… Kisah hidup beliau ternyata seperti sinetron. Sungguh menyedihkan, tinggal sebatang kara. Anak tirinya yang sejak balita diasuh, sekarang sama sekali tidak perduli. Hanya  majikannya alias pemilik rumah kami sebelumnya yang sudah memperlakukan dia layaknya ibu kandung sendiri…
            “Iya, mbak Intan…Nyonya rumah ini dulu baik sekali, sampai-sampai bibik diperlakukan seperti keluarga sendiri. Sayang sekali, hidup beliau juga menderita…Bahkan lebih mengenaskan daripada bibik…Sedih deh, mbak kalau inget itu semua…” curhatnya sambil menyusut air mata yang tiba-tiba berderai…
            “Lho, kenapa bik? Suaminya selingkuh? Atau…dia sebatang kara juga?”
            Bik Mimin menggeleng. Tangannya yang mulai keriput itu, kelihatan gemetar.
            “Nyonya meninggal dalam usia muda, mbak…Kata orang-orang, bunuh diri...”
            Deg. Jantungku serasa mau copot. Bunuh diri? Kok seperti kisah-kisah horor yang sering kubuat…Di rumah inikah??
            “Bunuh diri, Bik? Di rumah ini? Kok kami tidak tahu…”
            “Ya, mbak…Beliau ditemukan meninggal di halaman samping, kondisinya mengenaskan. Tapi…tapi sebenarnya bukan karena bunuh diri, bibik tahu…Nyonya didorong tuan dari balkon…”
            Astagaaa… Aku nyaris tersedak. Kok serba kebetulan… Tokoh ceritaku kutulis bunuh diri, ternyata mama kasih ide dia dibunuh…
            “Ma…Kok mirip sama ide mama semalam ya…” Mama memandangku, terheran-heran.
            “Ide apa? Mama nggak tahu….Bukannya semalam listrik mati? Mama malas bangun, terus saja tidur sampai pagi…”
            Kutatap mama, lekat-lekat. Tak ada kebohongan di sana. Artinya, semalam wanita yang kuanggap “mama” itu siapa? (ft: berbagai sumber)

LELAKI TUA PENUNGGU PARKIRAN MOBIL


           
          Males! Kepala ini langsung berdenyut,  ketika membaca SMS yang masuk. Huh. Lagi-lagi musti meeting ke kawasan Kuningan. Jujur saja, aku malas musti rapat di kantor pusat. Macetnya, minta ampun. Apalagi jam-jam orang lagi keluar makan siang. Gila kali ya, bisa-bisa mobil nggak gerak sama sekali. Traumaku belum hilang. Bayangan waktu hujan badai dua minggu yang lalu, mobilku tengah terjebak macet di daerah padat gedung pencakar langit itu. Badan sudah menggigil kedinginan, lapar, tak ada snack atau pengganjal perut, tapi semua kendaraan merayap. Belum lagi beberapa pohon dan papan billboard iklan yang segede bagong itu banyak yang roboh. Hingga bikin hati makin giris. Bayangin coba, kalau tiba-tiba di tengah macet, mobilku yang ketimpa?
            “Bete amat tampang kamu, Nu. Lagi mikir kenaikan gaji atau cewek nih?” Bimo! Teman satu departemen denganku itu, sudah main selonong saja. Duduk di depan mejaku, sambil membawa secangkir kopi yang masih mengepul.
            “Dasar. Pikiran kamu kalau nggak cewek, duit!”
            “Lha, bener kan? Sebagai laki-laki normal, apalagi yang dipikirin? Masa aku musti mikirin cowok juga? Atau…kamu sudah berganti selera?”
            “Gila ya!” tangkisku, sewot. Tuh anak, ngomongnya suka kebablasan.
            “Trus…trus…bagi-bagi dong, gosipnya. Ada apa muka ditekuk gitu?”
            “Minggu ini, aku musti  ke kantor pusat. Rapat…sekalian ngomongin perluasan proyek di Surabaya.”
            “Bagus dong… Males ketemu boss? Bukannya itu malah kesempatan buat kamu, promosiin diri? Siapa tahu naik jabatan…”
            “Nggak gitu! Jalannya itu lho, macetnya minta ampun. Kram otak aku! Belum apa-apa, sudah ilfeel duluan.”
            Bimo tersedak. Lantas tertawa terbahak-bahak, sambil memandang wajahku yang masih mendung.
            “Ampun! Kirain apa…Sepele banget. Ya, kamu isi bensil penuh, bawa CD lagu, snack, minum, BB full charge…aman deh. Macet? Nikmati saja, kemping di dalam mobil…”
            Dasar, Bimo! Laki-laki yang sudah mendahului aku, menikah lima bulan lalu ini selalu menanggapi apa pun dengan konyol. Tapi pikir-pikir, bener juga. Ngapain musti dibawa stress.
****
            Bingo! Thanks God, aku berhasil juga memperoleh tempat parkir setelah berputar-putar dari basement tadi. Nggak apa-apa-lah, sedikit mojok. Lebih tepatnya di ujung, dekat pintu darurat. Minimal, nggak terlambat meeting. Kulihat jam di pergelangan tanganku, masih sisa waktu dua puluh menit. Lumayan.
            “Buru-buru ya nak…Jangan ada yang ketinggalan. Kunci juga yang bener…” teguran itu, benar-benar mengejutkanku yang tengah ribet mengeluarkan tas laptop dari dalam mobil. Seorang bapak-bapak separuh baya, rambut cepaknya sebagian sudah memutih, sudah berada di samping mobil yang kuparkir.
            “Ah, iya…Pak. Terima kasih. Memang saya buru-buru. Bapak petugas di sini?” Kulihat sekilas, sekelilingku sepi. Tak ada siapa-siapa selain kami berdua. Laki-laki tua itu menggelengkan kepala. Kuperhatikan, tubuhnya yang sedikit tambun itu seperti limbung…Waduh, jangan-jangan nih Bapak mau pingsan lagi? Kok pucat gitu?
            “Bukan nak…Bapak nungguin mobil majikan bapak. Beliau lagi ada acara di lantai atas.”
            “Bapak sakit? Kok seperti lemas begitu, pak?”
            Laki-laki itu menggeleng lagi. “Bapak hanya ngantuk, kelamaan di bawah sini… Makasih nak, perhatian. Jangan lupa ya, kunci mobil yang betul. Nanti bapak bantu jagain.”
            Aku hanya bisa mengiyakan, tanpa banyak basa basi lagi. Takut waktu habis. Sambil menenteng tas laptop, aku pun melenggang ke pintu lift, langsung menuju lantai atas untuk menyelesaikan meeting hari ini.
            Dan, ternyata… Bossku yang cerdik, baik hati, sekaligus menyebalkan itu terlalu bersemangat. Sampai-sampai rapat kami bersama tim pemasaran, berakhir lewat magrib. Bener-bener kelakuan. Ya, meski sebagai bonusnya semua peserta dapat mendapat jatah makan malam, nasi kardus dari sebuah resto terkenal, tetap saja aku musti pulang telat. Bahkan, sangat telat… Sambil melangkah ke parkiran mobil, kubayangkan wajah Deta, adik perempuanku satu-satunya yang terpaksa bengong sendirian di rumah karena menungguku pulang. Ggrhhh…
            “Lama bener ya meeting-nya, nak? Capek?” Nyaris aku tersandung undakan, polisi tidur di parkiran, ketika seraut wajah kuyu dan pucat pasi itu tiba-tiba sudah ada tidak jauh dari tempat aku berdiri. Bapak itu?
            “Tadi sudah bapak tungguin. Mobilnya aman. Nggak ada yang berani ganggu,” tuturnya, sambil membasuh wajah pucatnya itu dengan sapu tangan. Ya ampun, tuh bapak lama juga nungguin atasannya. Bayangkan dari aku datang, jam makan siang tadi sampai hampir lewat pukul tujuh malam. Keterlaluan juga tuh, atasannya. Masa nggak diajak naik ke atas kek, tawarin makan atau gimana…Istirahat, ngadem di dalam.
            “Bapak dari tadi siang di sini? Nggak ke dalam saja Pak, lumayan ngadem…” tanyaku, sambil membuka pintu mobil. Tas laptop kumasukkan. Jas kulepas, kulempar sekenanya ke dalam mobil…
            “Nggak apa-apa, nak. Biasa. Bapak tugasnya membawa, sekaligus menjaga mobil tuan saya. Kalau ditinggalin nanti ada apa-apa, bagaimana?”
            Aku menggeleng-gelengkan kepala. Kuambil sebotol air mineral yang masih tersegel dari dalam mobil dan sekotak biskuit coklat, lantas kusodorkan ke bapak tua itu…Tapi dia menggeleng…
            “Nggak perlu, nak… terima kasih. Bapak sudah kenyang. Minum juga ada. “
            “Ya sudah pak, saya duluan ya. Takut kemaleman, kena macet lagi. Bapak juga hati-hati di sini… “ pesanku, sambil masuk ke dalam mobil. Mesin kunyalakan, sekilas kulihat dari kaca spion, bapak tua itu melambaikan tangan. Kasihan. Tapi ya, itulah resiko bekerja di rimba raya Jakarta ini. Musti bekerja keras!
********
            What?! Nggak salah, aku musti presentasi lagi ke kantor pusat? Padahal baru dua hari lalu, aku balik dari sana. Belum sempat merevisi beberapa catatan, sudah harus kembali meeting. Bener-bener, super semangat tuh Boss. Malesnya lagi, rapat kali ini pagi. Bayangkan, pukul delapan sudah harus hadir di kantor. Padahal semalam,  tidur pukul dua pagi. Gara-gara merevisi proposal.
            “Tumben, pagi-pagi nak?” Dug! Jantungku mau copot. Sejak masuk ke parkiran dari lantai bawah tadi, suasananya masih sepi. Hanya ada beberapa mobil saja terparkir. Sengaja, kupilih parkir di dekat pintu lift, agar tidak perlu jalan jauh seperti kemarin.
            “Nak, sekarang berkantor di sini?”
            Astaga, tuh bapak…Aku kok bisa amnesia. Laki-laki tua itu kan baru dua hari lalu kutemui, di parkiran gedung ini juga. Kulihat dia masih kuyu, seperti kemarin. Pucat. Kelihatan capek banget. Bener-bener, majikannya pelit kali…
            “Nak…Mikirin saya?” Aku tergagap. Tahu saja nih bapak…
            “Ah, nggak Pak…Lagi mengingat-ingat, kita pernah ketemuan di mana. Ternyata dua hari lalu ya, Pak?  Bapak sendiri ngapain di sini? Nungguin mobil lagi…Masuk saja Pak, kan ada tempat tunggu, buat duduk di dalam…Boss bapak bisa sms atau menggunakan car call, kalau butuh cari bapak.
            “Nggak perlu, nak. Makasih. Kamu perhatian banget sama bapak. Tugas bapak sehari-hari ya nungguin mobil di sini…”
            Aku menggeleng-gelengkan kepala. Kasihan betul. Hingga rapat selesai, aku balik ke parkiran lagi, kulihat bapak tua itu masih duduk di dekat besi pembatas parkiran. Mmm, masih banyak waktu. Nggak ada salahnya aku berbuat baik, buat bapak ini. Kuambil segelas cappucino yang tadi kubeli di cafĂ© bawah, kebetulan aku beli dua. Tadinya mau kubawain buat Bimo. Tapi pasti bapak ini lebih membutuhkan…Sekaligus dua kotak biskuit yang kini, selalu ada di mobil.
            “Ngopi dulu pak…Ada biskuit juga, lumayan ganjal perut,” kataku, sambil menyorongkan kopi dan biskuit. Bapak itu menggeleng, sepertinya dia segan. Malu. Terpaksa, kuletakkan saja di sampingnya. Lantas aku ikut duduk di sana…
            Ngobrol dengan bapak tua yang mengaku sudah sepuluh tahun menjadi sopir pribadi itu, seru juga ternyata. Meski sesekali, dia sering terbatuk-batuk, seperti orang sesak nafas, tapi semangat dan celotehannya bikin aku lupa waktu. Pak Sudir, nama laki-laki yang memiliki dua anak masih duduk di bangku SMP dan SMA itu sudah ditinggalkan sang istri, karena kecelakaan.
            “Istri saya terserempet mikrolet yang ugal-ugalan, nak…Padahal dia ikut membantu menopang hidup keluarga kami dengan buka warung kecil-kecilan. Sekarang, tumpuan utamanya saya…Kasihan anak-anak…Gimana masa depan mereka, kelihatannya bapak juga belum tentu sanggup menyekolahkan mereka sampai menjadi sarjana. Agar punya kehidupan jauh lebih mapan dari orangtuanya.”
            Aku menggeleng-gelengkan kepala, sedih. Ingatanku langsung ke mama dan papa, kedua orangtuaku yang juga tewas dalam sebuah kecelakaan beruntun. Papa meninggal di tempat, sedangkan mama seminggu setelah koma di rumah sakit. Deta masih sangat kecil waktu itu. Beda usia kami memang jauh. Delapan tahun. Berkat bantuan Paman, adik kandung mama, aku berhasil menyelesaikan kuliah dan bekerja, sekaligus membantu melanjutkan biaya pendidikan adikku semata wayang itu.
            “Ya, masing-masing manusia sudah memiliki jalannya sendiri, Pak. Jangan cemas, pasti Tuhan berikan jalan buat keluarga bapak…” Kulihat mata Pak Sudir berkaca-kaca. Tangannya yang mulai keriput itu berulangkali mengusap wajahnya, seakan ingin melepaskan bebasn yang dia rasa begitu berat. Nggak tega, aku melihatnya. Tapi mau bagaimana lagi…
            Kami pun berpisah di parkiran, dalam diam. Kulihat dari kaca spion, beliau melambaikan tangan seperti biasa. Moga-moga, bapak itu selalu diberi kesehatan dan rejeki…batinku, pedih.
*******
            Gara-gara proyek baru perusahaanku dipercepat, terpaksa aku makin sering ngantor ke kantor pusat. Lagi-lagi macet, bikin aku senewen. Tapi satu yang membuatku beda, lebih bersemangat dan tidak ngomel berkepanjangan, keberadaan Pak Sudir. Tanpa sengaja, kami sering ketemuan di tempat parkir. Sebuah kebetulan…Beliau juga seperti biasa, terduduk lesu di pinggir parkiran. Alasannya nungguin mobil majikannya. Entah, mobil yang mana…Tapi ngobrol dengannya, sekedar membuatnya tersenyum, membuatku terhibur. Beliau mengingatkanku pada papa…Andai papa masih hidup, pasti usia beliau tidak jauh berbeda…
            Baru kutahu, dua putra Pak Sudir akhirnya terpaksa pindah ke Jawa, karena beliau tidak sanggup membiayai sekolah anak-anaknya di Jakarta. Ya, paling nggak biaya hidup lebih murah. Salah satu saudara jauh Pak Sudir membantu, biaya sekolah kedua anaknya. Syukurlah. Setidaknya, beban bapak tua ini berkurang.
             “Nu..Danuuu…! Bengong saja! Hati-hati kesambet…” Bimo sudah muncul di depan mejaku, siang ini. Tangannya menenteng dua gelas cappucino. Baik juga nih, anak…
            “Kamu tuh yang kesambet. Ngaco saja ngomongnya,” protesku, sambil mengambil cappucino yang masih hangat itu, lantas menyeruputnya. Sedap, benerrrr….
            “Ketimbang baca koran mlulu, lihat bursa saham, lebih baik bantuin nih…Proposal dari bagian marketing ada yang salah…”
            Bimo menggeleng, cepat.
            “Enak saja. Tanggung jawab kamu dong… Gini-gini aku kan yang paling update berita di kantor ini? Kasihan banget ya, Nu. Lagi-lagi ditemukan orang mati lemas dalam mobil, karena keracunan gas. Kebiasaan tuh, mereka kok ya nggak baca koran…Bahaya banget kan, berada terlalu lama dalam mobil nyala, tapi tertutup rapat,” Bimo nyerocos saja, sambil membolak-balik koran pagi ini…
            “Memang berapa banyak? Sok tahu, kamu bilang sering…”
            “Ya, iyalah…Wong baru beberapa minggu yang lalu kejadiannya. Nggak baca ya? Kalau nggak salah satu buiding dengan kantor kamu. Kabarnya laki-laki itu tewas di mobil majikan. Mati lemas…Eh, sekarang kejadian lagi,” kata Bimo, sambil mengambil lembaran koran lama di tumpukan koran, dekat mejaku.
            “Nih lihat, kejadiannya belum lama kan? Sama nggak dengan building kantor pusat kita?” tanyanya, sambil membuka selembar koran. Jelas, tertera berita tentang kematian seorang sopir pribadi yang mati lemas di mobil, saat menunggu majikannya.
            Mataku mendadak perih, berat. Pandanganku mengabur…Benarkah berita yang kubaca, lengkap dengan insert foto korban di koran itu,  orangnya sama dengan laki-laki tua yang beberapa hari belakangan ini sering kutemui? Pak Sudir? (FT:berbagai sumber)