Sabtu, 06 Agustus 2011

Wewe Gombel


           
           Hujan baru saja mengguyur kota Semarang, ketika mobil yang aku kendarai melintas di kawasan Gombel. Dingin. Sepi. Jam di pergelangan tanganku baru menunjukkan pukul tiga dini hari. Nggak banyak kendaraan lalu lalang. Mmm, sebentar lagi juga sampai ke rumah budhe Yanti. Kakak dari papa yang kini tinggal seorang diri itu, sudah beberapa bulan terakhir ini sakit-sakitan. Penyakit tua…Kasihan juga membayangkan beliau menjalani hari-harinya seorang diri. Hanya bersama pembantu dan tukang kebun. Wanita yang pernah menampungku waktu kuliah di kota lumpia ini, memang tidak dikaruniai anak. Pakdhe meninggal, dua tahun lalu. Tapi budhe menolak, waktu keponakan-keponakannya mengajaknya tinggal bersama.
            “Budhe ingin menghabiskan waktu bersama pakdhemu…Siapa yang menengok makam, kalau budhe pindah? Lagipula, rumah peninggalan pakdhe kami bangun dulu bersama dari nol. Banyak kenangannya…” kata beliau, waktu aku dan sepupu-sepupuku berkumpul di rumahnya.
            Kemauan budhe, keras. Nggak bergeming sedikit pun, meski kami berjanji bakal sering mengantarnya mudik untuk nengokin makam.
            “Jangan dipaksa…Biarkan saja budhe kamu menentukan pilihan sendiri. Tugasmu, jagain beliau. Kalau libur, tengokin di Semarang ya?” pesan mama, ketika kuceritakan kejadian itu.
            Bing! Tanda ada pesan di BB masuk. Fffuiihhh…males, membuka pesan ketika lagi mengendarai mobil. Takut celaka. Apalagi jalanan mulai menanjak dan licin, karena bekas diguyur hujan. Tanjakan di Jatingaleh yang menuju ke arah Banyumanik ini, memang rawan kecelakaan. Entah sudah berapa kali kubaca di koran, mobil atau truk salip, rem blong sampai terbalik di kawasan ini.
            Bbbbrrr! Mengapa tiba-tiba perasaanku nggak enak ya? Mungkin karena AC mobil terasa lebih dingin dari biasanya. Efek cuaca dingin dan masih terlalu pagi di luar, bikin aku yang menggunakan pendingin semakin membeku…Buru-buru kumatikan ac, lantas kaca mobil kubuka. Sejuk. Udara pagi yang masih bersih, langsung menyergap indra penciumanku…
            Tiba-tiba, entah darimana datangnya di depanku seperti ada orang yang akan menyeberang begitu saja. Tanpa lihat kanan kiri, tanpa peduli kendaraan lalu lalang atau tidak… Wanita itu…Ampun! Buru-buru aku injak rem, begitu keras, begitu tiba-tiba, sampai bahuku terdorong ke depan membentur kemudi…Sakitttt!
            Thanks God. Mobil berhenti. Sekilas kulihat, wanita itu cantik, masih muda. Blousenya putih gading, senada dengan bawahannya yang menutup lutut. Tapi belahan roknya…busyet deh!
            “Mbak…Lihat-lihat dong, kalau nyebrang!” teriakku, tanpa berusaha turun dari mobil. Wanita itu hanya senyum, tanpa komentar. Lantas berlalu begitu saja dari depanku. Terlalu! Minta maaf dulu atau minimal ekspresi bersalahnya ada, kek…Eh, ini malah nyantai saja, nyelonong pergi.
*********
            Kejadian pagi dini hari itu, hampir saja aku lupakan. Andai malam ini, aku tidak pulang kemalaman dari rumah Deva, teman kuliahku dulu. Sekalian, mumpung lagi menengok budhe di Semarang, aku sempat-sempatin reunian dengan teman lama. Siapa sangka, Deva malah menyiapkan pesta kejutan buatku. Dia juga mengajak teman satu angkatan dulu yang kini masih tinggal di Semarang, buat reunian kecil-kecilan.
            Senang! Terharu. Nggak nyangka, mereka masih begitu perhatian dan welcome banget. Kami menghabiskan malam dengan karaokean, makan, bercanda, mengingat-ingat kejadian tempo dulu yang bikin kami menangis dan  tertawa sama-sama.
            “Inget nggak, pas kita mengospek adik kelas? Trus kamu berhasil ngedeketin Intan, anak asal Bali itu? Gimana kabar dia sekarang ya?” kata Wisnu, mantan koordinator angkatan. Bener-bener. Memang sulit dilupakan, kenangan di kampus.
            Dulu sekali, aku pernah beranggapan bakal serius jadian dengan Intan. Gadis asal Bali, bermata bulat, hitam manis dengan rambut tebal hingga sepinggang. Sayang, dia keburu dilamar anak jurusan lain. Entah, di mana dia sekarang.
            Bbbrrrr… Dingin. Bagi warga Jakarta, jam segini masih rame jalanan. Tapi bagi warga Semarang, pukul sebelas malam sepi. Minimal, kawasan Semarang atas…Mataku yang minus, sebenarnya agak terganggu dengan penerangan jalan yang seadanya, kalau malam-malam begini. Hal itulah yang membuat mama selalu cerewet ngingetin, agar aku tidak memilih jalan malam kalau mau ke luar kota dengan mobil.
            Ciittttttt! Suara rem yang kuinjak mendadak, bikin ngilu suaranya. Ampun nih orang, nggak ada aturannya, main selonong! Gerutuku, waktu tiba-tiba kulihat seorang wanita berdiri nyaris di tengah jalan, sepertinya lagi mau menyeberang. Untung saja, aku cekatan dan langsung menginjak rem. Kalau nggak? Wanita itu juga sama kagetnya. Sampai-sampai jatuh terduduk di pinggir jalan.
            “Mbak…bisa nggak sih, nyeberang lihat kanan kiri?” tegurku, setelah turun dari mobil. Wanita itu, berusaha bangkit berdiri. Kasihan juga. Dia kelihatan menahan sakit, kakinya terpincang-pincang. Moga-moga saja, tidak keseleo. Repot, malam-malam begini musti nganterin anak orang yang belum dikenal lagi. Ya, kalau dia baik. Andai mau manfaatin keadaan, trus memeras minta duit seperti yang sering dialami beberapa teman di Jakarta, gimana?
            “Maaaf….maaff…” katanya, terbata-bata. Wajahnya begitu pucat, tangannya pun sampai gemetaran. Kasihan. Ngerasa bersalah juga, aku marah-marah begitu.
            “Mau ke mana mbak? Rumahnya deket sini?”
            “Lumayan, abis tanjakan ini rumah saya… Niatnya mencari angkot, tapi kemalaman. Nggak ada…”
            Duh, kasihan juga. Untung dia nggak digangguin cowok iseng. Kutaksir usianya nggak lebih dari dua puluh tahun. Wajah oval, kulit putih, mata bulat dengan rambut ikal sebahu…
            “Ikut saya saja, saya anterin ke rumah…Jalan juga sulit kan, kakinya sakit?” tawarku, sambil membuka pintu mobil. Dia kelihatan ragu-ragu, tapi detik berikutnya mau juga naik.
            Aroma cendana atau melati ya? Campur aduk gini, parfum nih cewek. Norak banget. Tanpa sadar, aku senyum-senyum sendiri. Tapi kulirik, cewek itu tidak berekspresi sama sekali. Busyet. Udah nebeng, diam seribu bahasa. Aku kan paling nggak bisa memulai obrolan sama cewek…apalagi yang baru dikenal…Itulah mengapa, sampai sekarang aku masih jomblo dan dijuluki bujang lapuk.
            “Bener di sini?” tanyaku, waktu cewek itu menunjuk ke satu rumah di tepi jalan.
            “Bener…Makasih ya mas..” katanya, lirih. Aku turun dari mobil, lantas berjalan memutar, bermaksud membukakan pintu untuknya. Tapi…lho kok? Dia sudah nggak ada?
            Aroma cendana campur melati itu, masih tercium jelas di indra penciumanku. Tapi perempuan yang kutolong, benar-benar tidak ada. Hilang tanpa bekas! Bulu kudukku mendadak meremang, seperti ada angin dingin meniup tengkuk…. Hiiih! Kulihat sekilas, sekelilingku sepiiiiiii….Buru-buru aku masuk dalam mobil, tancap gas!
********
            Kejadian malam itu, benar-benar mengganggu pikiranku. Sampai-sampai tidur pun dihantui, wanita yang sama. Seperti pagi ini, ketika aku musti terbangun dengan badan basah, bermandi keringat. Budhe yang sejak tadi menggedor-gedor pintu kamar, mengejutkan. Ampun! Aku bermimpi…
            Segelas kopi susu bikinan budhe bikin semangatku pagi ini kembali. Mungkin juga karena habis mandi dan kebayang  mama. Yup! Rencana sehabis sarapan, aku mau menjemput mama yang sedang liburan di rumah pakdhe Tyo di Tegal, sebelum kami sama-sama balik ke Jakarta.
            “Kamu mimpi buruk, sampai teriak-teriak begitu…” tegur budhe, sambil menyodorkan sepiring singkong goreng.
            “Ya budhe, gara-gara semalam ketemu perempuan nyebrang sembarangan, tahunya pas dibantuin. Dia menghilang begitu saja, tanpa bekas…”
            “Pasti pas di tanjakan…” tebak budhe, membuatku nyaris tersedak. Kok budhe tahu?
            “Ya, kan ada cerita…dulu terkenalnya sebutan wewe Gombel…Tanjakan itu rawan kecelakaan. Banyak korban tewas. Selain itu juga, tempat pembuangan mayat. Korban perampokan atau pembunuhan, pernah ditemukan di daerah itu…”
            Deg! Jantungku seperti berhenti berdetak. Dua kali aku nemuin cewek, tengah malam di kawasan itu…Untung saja masih selamat, nggak digangguin. Kejadian itu membuatku makin berhati-hati. Jalan raya di mana pun, pasti punya cerita sendiri. (ft: berbagai sumber)

BOCAH PENUNGGU VILLA

            
          Busyet! Lagi enak-enaknya memeluk guling, ada saja gangguan. Ketukan di pintu berulangkali, terpaksa membuatku beringsut turun dari tempat tidur. Dinginnya malam ini, bikin gigi nyaris beradu. Niat nyelesaiin novel keduaku, terkalahkan. Bantal dan guling, lebih menggoda ketimbang laptop dan setumpuk revisian dari penerbitku. Bukan ide bijaksana sebenarnya, memilih menyepi di villa yang ada di kawasan Cipanas, Garut ini. Karena ide yang diharapkan mengalir lancar, malah sebaliknya. Bawaannya pengen makan dan tidur… Males banget! Apalagi sehabis magrib, jalanan sudah sepi. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi.
            Tek…tek…tek… Astaga. Nyaris lupa, ada tamu. Tadinya kuberharap, tamu itu berubah pikiran. Lantas pergi. Eh, tahunya masih mengetuk pintu juga. Kaget. Asli! Dua bocah cilik, berambut plontos, wajah tirus dan pucat lengkap dengan kaos lusuh sudah ada di depan mataku, begitu pintu kubuka.
            “Malam,  kak…” tegur bocah yang memiliki tompel di dagu kirinya itu. “Maaf, kami ganggu. Mau numpang ke kamar kecil…Boleh?”
Glek. Jantungnya berdebar kencang. Nggak biasanya, perasaanku nggak enak begini. Malam-malam di tempat asing, kedatangan dua bocah cilik, tak jelas asal usulnya. Bulu kudukku meremang. Apalagi kuingat, malam ini malam Jum’at. Apes bener, kalau sampai aku nemuin yang beginian…
“Kak, boleh? Nenek kami saja yang numpang ke belakang kok. Kami nggak ikutan. Kasihan nenek…”
Nenek? Baru kusadar, dua bocah ini tidak sendiri. Tak jauh dari mereka berdiri, seorang wanita tua dengan rambut memutih digelung tak beraturan, berselendang warna hijau tua duduk di kursi teras. Kasihan. Iba juga, ngelihat malam-malam begini mereka masih keluyuran di luar. Rumahnya masih jauh kali ya?
Aku nggak sempat bertanya banyak. Nenek itu kuantarkan ke kamar kecil, tepat di sebelah kamarku. Lantas, kubalik ke depan sambil membawakan sekaleng biskuit. Lumayan. Siapa tahu, bocah-bocah itu lapar.
Blas! Tak ada siapa-siapa di depan. Kedua anak laki-laki itu kemana? Pulang nggak bilang-bilang…Kasihan sekali, sang nenek ditinggalkan begitu saja. Setengah bersungut, aku balik ke kamar mandi. Maksudnya ingin memanggil nenek itu, kali saja sudah selesai. Tapi kok, pintu kamar mandi masih terkunci dari dalam. Satu, dua ketukan…beliau tak menjawab juga. Aduh. Jangan-jangan terjatuh, pingsan di kamar kecil?
Panik. Aku buru-buru mengambil linggis di bawah gudang belakang, buat ngejebol pintu. Niat belum dilaksanakan, pintu kamar mandi sudah setengah terbuka. Dan…nenek itu tidak ada! Kucari-cari di teras depan pun, beliau sudah tidak ada. Jantungku kembali berdetak kencang. Keringat mengucur deras. Meski udara begitu dingin membekukan, tapi ketakutan yang amat sangat terasa mencekik, membuat tulang-tulangku seperti dilolosi. Lemas. Tak bertenaga.
Dua bocah plontos dengan nenek-nenek? Astaga. Kubasuh wajahku dengan air di kamar mandi. Nggak boleh takut, batinku. Andai mereka bermaksud jahat, pasti sejak awal aku sudah dikerjain. Nyatanya mereka hanya numpang kamar kecil…Itu saja.  Untung saja, udara dingin dan mata berat ini membuatku langsung terlelap. Lupa dengan kejadian yang baru saja kualami.
*****
Kebiasaan. Pak Bayu, tukang kebun villa ini selalu meletakkan barang-barang tidak kembali pada tempatnya. Gemas. Setengah menggerutu, aku merapikan sapu lidi dengan gunting pemotong rumput yang digeletakkan di teras. Kulihat, beberapa potongan kayu, bekas bongkaran gudang belakang juga teronggok begitu saja. Nyaris tadi sewaktu mau masuk rumah, aku jatuh benda-benda itu.
            “Maaf, kak…Saya bantuin boleh?” Seraut wajah pucat itu, sudah ada tepat di depanku, tanpa kusadari kapan dia datang. Tubuhku spontan terhuyung ke belakang, karena kaget. Kedua tanganku bergetar hebat. Bocah itu… ya, bocah berambut plontos dengan tompel di dagu kirinya.
“Ka…ka…kamuuu!”
“Ya, saya kak…Masih ingat? Kemarin nganterin nenek, numpang ke kamar kecil bareng Aryo, kakak saya. Kenalin saya Arya,” kata bocah itu, sambil menggenggam tanganku. Dingin. Refleks, buru-buru kulepaskan genggamannya. Bocah itu mengeryitkan dahi. Heran.
“Kakak nggak suka ya, berteman sama kami? Orang kampung?”
Ya ampun…kaget juga aku mendengar pernyataan bocah sekecil ini. Padahal bukan maksudku meremehkan statusnya, tapi sungguh…hatiku masih takut. Amat sangat takut…
“Bener kata Aryo…Orang kota sombong. Nggak suka ngebantuin orang kampung seperti kita…” kata bocah itu lirih. Mata bulatnya berkaca-kaca. Astaga. Apa yang sudah aku lakukan? Melukai hati bocah tak berdosa ini, hanya karena ketakutan berlebihan?
“Maaf, Arya. Maafin kakak…Kamu sih, suka muncul tiba-tiba. Ngagetin kakak, tahu?” sahutku, coba bercanda. Ngobrol dengan bocah ini, ternyata menyenangkan. Aryo yang menyusul belakangan juga seru. Meski jujur saja, hati kecilku masih sering berdebar tidak jelas. Aroma melati itu langsung menusuk indra penciumanku, tiap aku berdekatan dengan mereka. Belum lagi, udara di sekelilingku tiba-tiba terasa lebih dingin dari biasanya. Sampai-sampai bulu kuduk ini berdiri.
“Aryo, kapan-kapan ajak kakak main ke rumah kamu ya? Nggak jauh dari sini kan?” tanyaku, sore itu. Bocah berkulit sawo matang itu menggeleng, berat. Heran. Nggak Aryo, nggak Arya… Keduanya selalu kelihatan bete dan malas, tiap kali aku menyinggung tempat tinggal mereka.
*********
Malam Minggu, kelabu. Nggak ada pacar, apalagi teman…Sendirian lagi, aku menghabiskan waktu di villa. Padahal siang tadi, Radit tunanganku bilang mau datang. Tiba-tiba saja, dia sms batal. Karena harus menemani mamanya yang sakit. Ya, sudahlah. Toh aku bisa ngebut, menyelesaikan tugas utamaku…novel kedua. Sengaja, sore ini kupindahkan semua pekerjaanku di ruang tamu. Biar nggak tergoda, tidur.
Tek…tek…tek…! Tamu lagi? Gggrhh…Padahal moodku lagi bagus. Tiga halaman baru saja kuselesaikan…
“Siapa?” Pintu kubuka. Aryo dan Arya! Dua bocah itu termangu, berdiri di depanku. Mirip tentara tengah berbaris, menunggu perintah sang komandan. Senyumku langsung mengembang…Malam-malam, tumben nih anak-anak main?
“Maaf Kak Rini… Nenek mau numpang ke kamar kecil. Boleh ya?” Aku mengusap mata ini yang terasa gatal, tiba-tiba. Nenek? Bener saja. Tidak jauh dari Aryo dan Arya, nenek tua yang pernah numpang ke kamar mandiku itu,  berdiri tertunduk. Selendang yang dia kenakan, menutupi sebagian wajahnya yang sudah keriput, termakan usia.
“Oh iya..iya…boleh. Masuk nek…silahkan… Aryo dan Arya tunggu di depan atau masuk juga? “ kataku, sambil membuka pintu lebar-lebar. Wanita tua itu setengah terhuyung, masuk ke belakang. Arah kamar kecil. 
“Nggak ikutan masuk, kak…Di sini saja,” sahut Arya, sambil menggaruk-garuk kepala plontosnya. Aroma melati itu kembali tercium. Bulu kudukku meremang tiba-tiba. Duh Tuhan, kenapa tangan bocah ini begitu dingin ketika kugenggam? Baru kusadar, cukup lama nenek itu kutinggalkan di kamar kecil. Siapa tahu dia membutuhkan bantuanku…
“Nek…Sudah belum?” tanyaku, sambil mengetuk pintu kamar mandi. Nggak ada sahutan. Sepi. Bahkan suara air kran yang tadi kunyalakan, sebelum nenek itu masuk pun sudah dimatikan. Ketukan ketiga, masih sama. Sepi. Akhirnya kucoba membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci… Kosong!
Entah kenapa, jantungku berdetak begitu kencang. Perasaan nggak enak, menyergapku tiba-tiba...Mungkin aku saja yang nggak nyadar, wanita tua itu sudah keluar kamar mandi dari tadi.
“Makasih ya nak…” Dug! Astaga. Tuh nenek ternyata tengah berdiri di belakangku. Wajah pucatnya kelihatan lebih segar.  Syukurlah, beliau tidak apa-apa. Khawatir bener aku, andaikan wanita yang jalannya sempoyongan ini, jatuh di kamar mandi.
Tanpa menunggu jawabanku, wanita itu ngeloyor saja keluar. Aryo dan Arya yang masih menunggu di depan, hanya mengucap salam, lantas mengekor di belakang perempuan tua ini pergi. Kasihan juga. Setua itu keluyuran malam-malam. Seharusnya dia sudah menikmati masa tuanya di rumah, bersama anak dan cucunya.
Ingin aku bertanya, mengapa dia selalu ditemani Aryo dan Arya…Apakah si nenek nggak punya anak? Tapi selalu saja aku lupa, setiap nenek itu numpang ke kamar kecil. Soalnya beliau juga kelihatan malas bicara, paling hanya mengucap salam, lantas pergi.

********
Malam Jum’at Kliwon…Hih! Sebagian orang percaya, malam ini setan-setan berbagai wujud berpesta atau gentayangan. Sengaja, aku memilih diam di kamar dengan setumpuk CD, sepiring pisang goreng dan segelas kopi. Tujuannya, biar bisa fokus menyelesaikan novelku. Nyatanya? Pikiranku malah melayang ke mana-mana.
Bayangan Aryo dan Arya, muncul begitu saja. Mereka sebenarnya anak siapa dan tinggal di mana? Kok bisa-bisanya ngeluyur sampai ke villaku, tiap sehabis magrib?  Iseng, tanganku mencolok modem dan membuka situs internet. Beberapa artikel seram, kubaca. Astaga. Bego banget. Bukannya menenangkan hati, malah iseng cari yang beginian…Mitos tentang jin, kuntilanak, sampai tuyul…
Bulu kudukku berdiri. Dingin. Sweater yang kukenakan, seperti tidak ada gunanya. Aroma melati itu kembali tercium. Halusinasi lagi dah! Bujuk hati kecilku. Nyatanya bau itu tidak juga hilang, malah semakin terasa begitu dekat…
Bodohnya aku! Internet kumatikan. Laptop kututup. Setengah bersungut, aku naik ke atas kasur…Lebih baik tidur!
 Tek…tek…tek…. Tamu? Aku coba cuek, tak bergeming dari kasur. Tapi ketukannya makin keras dan jelas.
“Malam? Siapa ya?” kataku dengan nada tinggi.
Aryo dan Arya lagi… Dua bocah itu berdiri di depanku, begitu pintu kubuka. Mereka tidak sendiri. Seperti biasa, bersama nenek itu…Alasannya pun sama. Numpang ke kamar kecil.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Ingin marah, protes, karena ngerasa terganggu, tapi hati kecilku juga kasihan. Nolongin orang ke toilet saja kok pelit…pasti bakal diomelin mama, kalau beliau tahu.
Nenek berselendang lusuh itu pun berjalan terhuyung-huyung ke toilet. Tanpa perlu kuantar, tanpa perlu kutunjukkan tempatnya. Dia sudah hafal, seperti rumahnya sendiri.
Aku terduduk di meja, ruang tamu. Aryo dan Arya, kelihatan salah tingkah. Mereka berdiri saja sejak tadi di depan pintu. Kasihan juga. Kupegang tangan Aryo. Dingin. Wajah kedua bocah itu begitu pucat…
“Masuk yuk…duduk di dalam?”
Aryo menggeleng. Arya juga…Bulu kuduk ini kembali meremang. Dingin di sekitarku. Gemerisik batang bambu dan bugenvil yang ada di sekitar villa, terdengar begitu giris. Aku mencoba menghapus ketakutanku dengan mengutak-atik BB yang tadi kukantongi. Hingga detik berikutnya,  ketika pandanganku kembali ke depan. Aryo dan Arya sudah tidak ada! Malas banget deh, kalau sudah begini…Mereka main selonong saja, pulang. Nggak pamit. Mmm, sopan!
*******
Pagi yang sempurna. Segelas kopi, setangkup roti bakar dan omelet dengan mushroom sebagai sarapan pagiku. Rencananya, siang ini aku balik ke Jakarta. Cukup sudah, satu minggu berlibur sekaligus bekerja di villa ini…Sebenarnya, rencana awal dua sampai tiga minggu. Nyatanya, aku nggak betah…Bukannya banyak ide, malah semua pekerjaan tertunda…
Pak Trisna, sopir pribadiku yang baru saja datang langsung memasukkan barang-barang yang sudah kupacking sejak semalam, termasuk laptop, beberapa kardus buku dan CD. 
“Pak Trisna…semua kardus sudah dimasukkan mobil? Nggak ada yang kelupaan?” tanyaku, ketika melihat bapak separuh baya yang sudah mengabdi lama di keluargaku itu, kelihatan santai, duduk di bawah pohon sambil merokok.
“Sudah mbak…Semua ruangan saya check, sudah nggak ada kardus tertinggal,” katanya, sambil melanjutkan kebiasaannya. Merokok. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Kalau sudah kecanduan rokok, ya gitu deh…
Suapanku terakhir, belum selesai, ketika tiba-tiba kulihat Pak Trisna datang tergopoh-gopoh di depanku.
“Ada yang mau ketemu sama mbak…” katanya. Nggak perlu kutanya siapa, karena di belakang Pak Trisna, ada Aryo dan Arya. Dua bocah itu…Kenapa aku sampai lupa pamitan ya? Tapi bukankah mereka juga tidak pernah mau mengakui, dimana tinggalnya?
“Kak Rini, mau pulang ya? Jangan kapok balik ke sini ya?” Aryo mencium punggung tanganku. Terharu aku dibuatnya. Aroma melati itu kembali menusuk indra penciumanku… Dingin tangan bocah itu…
“Nggak…Nggak kapok…Kenapa musti malas balik? Kakak suka ada kalian yang menemani. Meski kadang nyebelin, kalau sudah ngajakin neneknya main. Nggak pamitan, main kabur…”
Aryo dan Arya saling pandang. Wajah keduanya tiba-tiba pucat pasi, seperti orang yang tengah diadili.
“Maafin kami, kak…Kami terpaksa, karena kami takut dimarahin Nenek Ijah kalau nggak nganterin ke rumahnya kembali…Tapi kakak tidak digangguin kan?”
Rumahnya? Aku tersentak, kaget. Kenapa dia bilang, villa ini rumah nenek yang mereka sebut Nenek Ijah itu?
“Nenek Ijah dulu bekerja sebagai pembantu di villa ini, sebelum akhirnya terjadi perampokan. Seluruh penghuni selamat,  tetapi Nenek Ijah ditemukan tewas dengan luka di sekujur tubuhnya. Beliau masih suka memperlihatkan diri di sekitar dusun ini, Kak, termasuk sama kami berdua. Karena dulu kami berdua sering diberi jajanan oleh Nek Ijah, tiap main ke sini. Sekarang, Nenek suka minta dianterin pulang ke villa…”
Tubuhku bergetar, hebat. Mataku terasa berkunang-kunang. Selama ini yang mereka anterin, nebeng ke kamar kecil itu Nenek Ijah? Korban pembunuhan sadis? Buru-buru kuselesaikan sarapanku. Habis berpamitan dengan dua bocah ini, aku pun balik ke Jakarta. Selamat tinggal Nek Ijah…Aku akan berpikir dua kali untuk balik ke villa ini lagi….
*******
Energiku benar-benar terkuras. Tapi lega, sampai juga di kamar kesayanganku. Beberapa kardus sudah kubongkar, sebelum kardus terakhir. Tiba-tiba, tatapanku nanar. Sebuah selendang kumal, tak jelas lagi warna dan motifnya kutemukan. Selendang Nenek Ijah! (ft: berbagai sumber)

NYANYIAN JENAR


         
            Pusing. Indra penciumanku merasakan bau anyir yang menusuk hidung. Benar-benar membuat isi perut seperti diaduk-aduk. Heran. Setahuku, siang tadi seluruh sudut rumah sudah kubersihkan. Nggak ada sampah, bangkai tikus atau sejenisnya. Tapi kenapa aroma tidak sedap itu kini begitu mengganggu? Meski mata terasa begitu berat, kupaksakan juga turun dari tempat tidur buat mencari penyebab bau yang makin menggila ini.
            Deg! Wanita itu… Entah darimana datangnya, tiba-tiba tepat di depanku berdiri wanita separuh baya. Tatapannya nanar, tanpa ekspresi. Satu hal yang membuatku menggigil ketakutan…wajahnya!  Paras cantik itu bermandi darah. Merah… Anyir. Belum lagi luka menganga di kening. Sepertinya, darah itu menyembur tak henti dari sana. Lemas. Kaki ini seperti tidak berpijak pada tempatnya. Sekelilingku berputar begitu cepat, terasa memusingkan…padahal perempuan itu tidak bergeming dari tempatnya. Dia hanya menatapku dalam diam. 
            “Siapa kamu? Ngapain  di sini?” tanyaku dengan suara bergetar. Meski jujur, aku sendiri tidak mengharapkan dia akan menjawab pertanyaanku. Ketakutan itu benar-benar seperti membunuhku, hingga tulang-tulang persendian ini terasa kaku.
            Wanita itu tidak juga bergeming dari tempatnya. Meski darah membanjir, hingga kurasakan kakiku menyentuh cairan yang hangat, kental dan menjijikkan…Darah di mana-mana! Nggak, nggak boleh pingsan. Pasti semua yang kulihat ini hanya mimpi…halusinasi!   Belum sempat kusadar apa yang tengah kualami, tiba-tiba saja wajah wanita itu sudah berada tepat di depanku. Ya… entah bagaimana caranya, tahu-tahu dia berada begitu dekat denganku. Sampai-sampai wajahnya nyaris menempel dengan wajahku! Matanya…mata itu seperti menyimpan dendam dan luka begitu dalam.
            “Ka…kamuuuu?!” Detik berikutnya, aku benar-benar ambruk. Pingsan!
********
            Kejadian malam itu, sengaja tidak kuceritakan kepada siapa pun. Takut, halusinasi saja. Ntar bukannya ditolongin, malah diketawain. Tahu sendiri Mas Wisnu, dia sangat antipati dengan namanya hantu, penampakan, atau apa pun itu. Laki-laki yang belum genap setahun ini menikahiku itu, memang selalu berpikir jauh lebih bijaksana daripadaku. Mungkin karena usianya jauh lebih tua dariku. Kami beda 15 tahun.  Aku menerimanya sebagai suami, karena kulihat kesungguhan dan perhatiannya luar biasa. Meski statusnya duda, waktu melamarku. Istri pertamanya meninggal dunia,  ketika rumahnya disantroni perampok.
            Mengaku tidak ingin terlalu dalam memendam kesedihan, Mas Wisnu pun menempati rumah baru. Katanya setiap tinggal di rumah lama, dia terbayang-bayang kejadian mengerikan itu. Makanya, laki-laki bertubuh atletis yang doyan nge-gym itu berencana menjual rumah lama.
Heran. Meski berulangkali diiklankan, bangunan itu nggak laku-laku. Mungkin karena posisinya kurang strategis, tapi harga yang diminta Mas Wisnu tinggi. Sempat juga dikontrakkan…tapi baru beberapa minggu, penghuninya pindah. Nggak masuk akal. Mereka rela dipotong sekian prosen, sebagai ganti rugi karena tidak menepati surat perjanjian kontrak, daripada disuruh bertahan tinggal di sana.
            “Gampang-gampang susah, ngejual atau ngontrakin rumah hari gini. Sayang juga kalau banting harga,” curhat Mas Wisnu, ketika kami masih pacaran. Cuma butuh waktu tiga bulan saja, kami resmi pacaran. Lantas penyuka motor gede dan olahraga tae kwondo itu pun melamarku. Meski jauh sebelumnya, kami sudah saling dekat layaknya seorang sahabat.
            Inget banget, ekspresi mama waktu Mas Wisnu datang ke rumah. Beliau sama sekali tidak menduga, kedekatan kami selama ini serius mau dibawa ke jenjang pelaminan mengingat usia laki-laki itu terlalu jauh. Seumuran dengan adik bungsu mama, Oomku yang tinggal di Makassar. Belum lagi statusnya duda… Baru setengah tahun ditinggal mati Mbak Jenar istri pertamanya, sudah berani menikah lagi. Tapi ya…namanya cinta. Aku tidak perduli dengan tanggapan negatif orang lain, termasuk penilaian miring dari mama dan keluarga besarnya.
            Pernikahan pun digelar, tanpa resepsi besar-besaran. Sederhana saja. Lantas, kami tinggal di rumah baru yang sudah Mas Wisnu beli sebelum melamarku. Berhubung rumah tengah direnovasi,  aku pun tidak menolak waktu diajak pindah sementara ke rumah lama. Resiko. Capek dan repot sedikit, it’s okey. Mumpung kami belum punya momongan…
            Eit nggak tahunya, capek banget ngebenahin seisi rumah lama. Padahal sudah dibantuin Bik Inah, pembantu kami. Baru selesai bebenah, sore. Kebetulan Mas Wisnu hari pertama kami pindah, tugas ke luar kota. Terpaksa kutidur sendirian, karena Bik Inah tidak menginap.  Ya gitu deh, mungkin karena kecapekan malam itu aku seperti melihat sosok perempuan bermandikan darah. Padahal kuyakin, nggak ada siapa-siapa bisa masuk dalam rumah, karena semua pintu terkunci rapat.
**********
            Gending Jawa? Kutajamkan pendengaranku. Bener. Nggak salah! Ada suara wanita seperti lagi nyinden, atau nembang lagu Jawa. Suaranya lirih, merdu banget. Ah, perasaan tadi nggak nyalain televisi. Lagipula jam segini, siapa orang yang iseng dengerin radio?
            Bulu kudukku tiba-tiba merinding. Dingin tengkuk ini, seperti ada es yang ditiupkan di belakang telinga. Aroma anyir, berpadu dengan bau busuk yang menyengat, mendadak menyesakkan indra penciumanku. Nyaris terbatuk-batuk dan muntah aku dibuatnya…Gila! Bau apalagi ini?
            Buru-buru kuambil tissue, lantas sambil menutup hidung kukeluar dari kamar. Mungkin Bik Inah lupa buang sampah, hingga gundukan sampah yang ada di tempat sampah dapur, baunya ke mana-mana? 
            Lirih suara wanita yang menyanyikan tembang Jawa itu, kini terdengar makin jelas, bersamaan dengan bau busuk di mana-mana. Sampai-sampai aku dibuat sesak nafas, karena mualnya. Duh, nggak enaknya tinggal sendiri. Dua hari ini, Mas Wisnu kok belum pulang juga…batinku mengaduh.
            Bersamaan dengan terbukanya pintu ruang tengah yang menghubungkan dengan dapur kubuka, tiba-tiba…Astaga! Wanita itu…Wanita bermandi darah dengan tatapan dingin itu sudah berada tepat di depanku. Dia tidak bergeming sama sekali, hanya tatapannya saja tajam, menusuk…Darah mengucur dari keningnya yang setengah berlubang. Menjijikkan. Perut ini rasanya teraduk-aduk, ingin muntah. Tapi ketakutanku jauh lebih besar dibanding rasa jijik dan mual….
            “Siapa kamu? Pergiiiii!” ujarku, setengah berbisik. Kerongkongan rasanya kering. Suara ini parau, meski aku berusaha teriak sebisanya.  Wanita itu tak bergeming dari tempatnya. Dia hanya berdiri dan diam, seperti menunggu…Sebelum aku sempat berteriak, tiba-tiba… deg! Wajah wanita itu sudah tepat di depanku, hanya sekian sentimeter saja jaraknya dengan mukaku! Brukkk! Kujatuh pingsan.
********
            Sumpah! Aku nggak mau dianggap kolokan, penakut, atau sejenisnya…tapi menghadapi gangguan selama dua malam berturut-turut begini, nggak tahan juga. Mas Wisnu yang baru datang dari luar kota, langsung kuberondong dengan ceritaku.
Gemes. Bener kan dugaanku? Bukannya dia prihatin, tapi malah setengah menertawakanku. Alasannya halusinasiku saja…karena nggak pernah sendirian tinggal di rumah. Memang sih, aku tidak pernah seumur-umur tinggal sendiri dalam rumah. Pasti ada keluarga atau pembantu, sampai menikah pun begitu. Kebetulan saja, karena pindah sementara ke rumah lama, pembantu kami nggak bisa menginap lagi seperti dulu.
            Mungkin juga karena kecapekan, sekaligus ketakutan nggak jelas, badanku meriang. Panas tinggi, meski sudah diberi obat penurun panas. Kasihan juga Mas Wisnu…baru datang,  bukannya aku ladenin malah sebaliknya. Dokter yang memeriksaku mengatakan, demam biasa. Kecapekan dan tensi darah drop.  Secara aku juga suka makan telat… Ya, jadi deh. Mmm, bener kali. Halusinasiku akibat kecapekan dan meriang.
            Tahu hasil test laboratorium, aku nggak kena tipes, demam berdarah atau penyakit menakutkan lainnya, Mas Wisnu bisa bernafas lega. Maklum, proyek barunya di Surabaya nggak bisa ditinggalkan. Akhir-akhir ini, dia harus bolak balik ngecek ke sana, hingga aku pun tinggal sendiri lagi.
            “Yakin, kamu nggak apa-apa kutinggal?” tanya laki-laki bermata elang dan berkulit sawo matang itu, serius. Aku menggeleng, sambil senyum. Kasihan juga, kalau dia musti mikirin kepentinganku. Padahal usahanya juga masa depan keluarga kami juga…
            Dugaanku keliru. Suhu tubuh yang tadinya turun, begitu ditinggal Mas Wisnu langsung naik lagi. Panas. Badan rasanya terbakar di atas bara. Malam itu, aku belum juga bisa tertidur pulas, ketika lamat-lamat tembang Jawa terdengar begitu dekat di telinga.
            Ampun! Jangan lagi deh, batinku. Nggak mungkin gangguan itu datang lagi. Halusinasi! Kucoba cuek, tetap bersembunyi di balik selimut. Meski jujur saja, kakiku gemetaran. Detak jantung seperti terdengar jelas, karena ketakutan. Tiba-tiba suara ketukan itu terdengar, sepertinya ada tamu? Kucoba tajamkan pendengaranku. Bener. Ada orang mengetuk pintu…Mmm, siapa malam-malam begini bertamu. Atau jangan-jangan mama nengokin? Mama memang pernah sms, bilang kangen dan pengen nengokin aku.
            Ffuuuih! Kuturun juga dari tempat tidur, sambil menyambar jaket di kursi. Dinginnya malam ini, beda dari biasa. Mungkin karena aku sakit dan demam tinggi. Rasanya dinginnya membekukan, sampai ke tulang-tulang.
            “Siapa ya?” Langkahku terhenti di depan pintu, ketika gorden kaca jendela sudah kusibak…Tak ada siapa-siapa di luar sana. Sengaja, aku tidak membuka pintu dulu, karena takut tamunya orang asing. 
            Sepi. Tak ada jawaban. Tak ada siapa-siapa. Huh! Iseng. Demam, pikiran jadi kacau gini, batinku kesal sambil balik badan. Ampuuunn! Tepat di belakangku, wajah wanita bermandi darah itu ….dia…dia benar-benar begitu dekat dengan wajahku. Sampai-sampai hembusan nafasnya terdengar dan terasa begitu jelas, meniup pori-pori wajahku!
            “Ka…kaaaa…kammmuuuu!” Persendianku lemas seketika. Rasanya mau ambruk, tapi berusaha kutahan. Nggak boleh pingsan! Ntar dia berbuat jahat…Nggak boleh! Batinku, sambil menahan berat tubuhku sendiri di kursi yang ada di sampingku. Wanita itu tidak bergeming dari tempatnya. Tatapan nanarnya itu menghujam, dingin. Sementara luka di keningnya, tak henti mengucurkan darah. Merah….merah di mana-mana….tiba-tiba, kurasakan tanganku begitu dingin dan lengket. Waktu kuperhatikan lagi, jemariku sudah penuh darah. Darah!!!
*******
            Entah, sudah berapa lama aku pingsan. Herannya, mama Mas Wisnu malah mengira aku tertidur di sofa ruang tamu. Soalnya beliau yang kebetulan memiliki kunci rumah, melihatku tertidur begitu pulas di sana.
            “Ma…kapan datang? Kok aku nggak denger?” tanyaku, sambil buru-buru merapikan rambutku yang berantakan. Malu. Ketahuan mertua, jam segini masih tertidur di sofa pula…
            “Pagi tadi, tapi mampir dulu ke rumah bude kamu. Jemput Mia…” kata mama, sambil menyodorkan susu coklat hangat. Ampun. Malu. Masa mertua malah nyediain minum buat menantunya…
            “Mama denger kamu sakit…Ya, nggak apa-apa…mama saja yang bikinin minum dan tuh ada sarapan di meja makan. Mandi dulu sana…” kata mama, seakan tahu apa yang tengah kupikirkan.
            Mama rupanya tidak datang sendiri. Dia membawa Mia yang dulu pernah bekerja di rumah yang kami tinggali sekarang.
            “Mama kasihan, meskipun ada Bik Inah yang ngeberesin rumah tapi kan nggak nginap. Kalau malam, pas suamimu tugas luar kota, pasti kesepian. Makanya mama bawa Mia balik ke sini. Dia lumayan lama bekerja di sini, waktu almarhum Jenar itri pertama Wisnu masih ada,” kata mama, sebelum pamit pulang.
            Asyik juga, sebenarnya. Ada Mia, ada teman. Aku bersyukur, memiliki mertua sayang dan perhatian. Beliau juga tidak pernah membanding-bandingkan aku dengan Mbak Jenar, menantu pertamanya itu. Meski dari status, kami juga beda jauh. Kudengar Mbak Jenar masih berdarah biru alias bangsawan dan anak pengusaha terpandang. Keberhasilan bisnis Mas Wisnu sekarang pun, kata mama berkat bantuan modal dari keluarga Mbak Jenar.  Sayang saja, 10 tahun perkawinan, mereka tidak dikaruniai anak sampai peristiwa naas itu terjadi.
*********
            Kondisi badanku yang mulai membaik, minggu ini sejak kedatangan Mia, ternyata tidak bertahan lama. Gara-gara nekad menerobos hujan, sepulang dari mall, badanku demam lagi. Untung Mia tahu banget, apa saja yang kubutuhkan. Hingga aku tidak perlu repot, turun dari tempat tidur. Secangkir susu coklat hangat dan roti bakar, sudah dia sajikan di meja, samping tempat tidur sebagai makan malamku. Bener-bener, mirip orang sakit parah. Aku malas beringsut dari kasur…
            Setengah tertidur, tiba-tiba kudengar tembang Jawa itu lagi. Ah, mimpi kali? Tapi kenapa suaranya makin terdengar jelas dan begitu dekat? Badanku menggigil. Antara takut dan demam…Sungguh, aku tak sanggup membayangkan andai sosok wanita bermandi darah itu muncul lagi.Lagipula, dia bakal muncul di mana? Dapur? Ruang tamu? Atau jangan-jangan dia bakal nyamperin ke kamar?
            Keringat membanjir di dahi, kaki dan tanganku, bergetar hebat. Gemeretuk gigiku seakan beradu, bersaing dengan jantung yang berdebar nggak keruan. Terpaksa, daripada “dia” menghampiriku, kucari saja sumber suara itu berasal…
            Ampun! Nggak salah? Aku mengusap-usap mata, berusaha menajamkan penglihatan…Nyaris tak percaya, suara itu berasal dari Mia yang tengah menggoreng camilan di dapur. Perempuan yang kutebak usianya baru dua puluhan itu, kelihatan menikmati banget pekerjaannya sampai-sampai dia tidak sadar aku sudah berada di belakangnya.
            “Mia? Kamu suka nembang Jawa?” tanyaku, terheran-heran. Bukan masalah kebisaannya itu, tapi kenapa lagunya sama persis dengan tembang yang sering menghantuiku belakangan ini?
            Mia tersipu, malu. Sambil menyajikan camilan yang dia goreng, dia menarik kursi di sampingku…
            “Ya, mbak… Dulu waktu sama Mbak Jenar, kami suka nembang lagu ini sama-sama. Mbak Jenar malah yang ngajarin…kalau saya kan aslinya bukan dari Jawa. Tadinya nggak ngerti sama sekali,” kata perempuan berwajah bulat telur dengan rambut ikal sebahu itu, polos.
            “Kamu deket banget ya sama Mbak Jenar? Saya belum sempat kenal dengannya. Baik banget ya?” pancingku lagi. Jujur, aku juga penasaran. Karena selama ini cerita tentang sosok Jenar sendiri belum tahu banget. Maklum, takut bikin Mas Wisnu sedih, ingat luka lama.
            “Baikkk banget mbak…Meski saya orang kampung, nggak sekolahan…tapi Mbak Jenar rajin ngajarin masak, menjahit, sampai nembang. Kalau lagi sedih, karena berantem sama suaminya yang bolak-balik bilang mau menikah lagi, Mbak Jenar suka nembang sendiri di dapur. “
            “Oh, Mbak Jenar suka nembang lagu yang kamu nyanyiin itu?” Entah kenapa, perasaanku jadi nggak enak. Bener juga, rumah ini kan tempat wanita itu meninggal, dibunuh perampok? Mungkin saja, hantunya masih suka muncul? Hih!!
            “Kenapa mbak, kok pucat gitu?” tanya Mia, membuyarkan lamunanku. Konyol. Andai dia tahu, isi pikiranku pasti diketawain. Mana ada sih, hari gini hantu? Lagipula, aku kan nggak kenal dengan Jenar? Ngapain dia muncul di depanku…Tapi kenapa aku baru tahu, dulu Jenar dan Mas Wisnu suka berantem?  Mas Wisnu suka ngancam, mau nikah lagi? Sama siapa? Aku???
            “Kasihan ya mbak…Orang kalau baik, mati muda. Bapak tega banget…” Deg! Jantungku kembali berdetak kencang. Bapak? Perampok-perampok itu? Bukankah Mia juga ada di tempat kejadian ketika rumah ini dirampok? Hanya kudengar, dia berhasil selamat karena sembunyi di lemari dapur….
            “Perampoknya sudah bapak-bapak? Kamu sempat lihat orangnya?” tanyaku, hati-hati. Mia menggeleng. Matanya menatapku, tajam. Lantas melihat ke kanan dan kiri, seolah-olah takut ada yang bakal mendengarkan pembicaraan kami….
            “Bapak…Suami Mbak Jenar…Suami mbak…Karena sebenarnya, Mbak Jenar hanya pingsan, kepleset di dapur. Perampoknya kabur.  Nggak lama bapak datang, tau deh. Seperti orang bingung,  dia  hantam kepala Mbak Jenar dengan ulekan…Saya pura-pura nggak tahu…Takut mbak…takutttt.” 
            Gelap. Aku tidak bisa mendengar lagi apa yang dikatakan Mia. Bumi yang kupijak, seperti begitu dingin. Beku. Lantas bayangan wanita bersimbah darah itu muncul, mengejarku…Wanita idaman lain yang membuat dirinya mati mengenaskan! (ft: berbagai sumber)