Selasa, 03 Januari 2012
Sabtu, 24 Desember 2011
JINGLE BELLS
Jingle bells…jingle bells…Jingle all
the way… Jelas Christmas, mall-mall, hotel, tempat hiburan pasti meriah dengan
pernak pernik serba Natal. Christmas
Three, lampion warna-warni, nggak ketinggalan pas deketan Natal, ada Santa
Claus dan Piet Hitam bagi-bagi permen ke pengunjung mall…Mmm, siapa sih mereka?
Beneran ya, mereka asalnya dari kutub dan biasa naik kereta salju??
Santa
Claus
Sosok santa yang dalam
dongeng, begitu dekat dengan anak-anak, karena identik dengan bagi-bagi hadiah
dan gula-gula tiap malam Natal ini, happening dengan panggilan Sinterklaas di Indonesia. Asalnya dari bahasa Belanda.
Tetapi, Santa Claus juga punya sebutan lain;
Saint Nicholas, Father Christmas atau Kris Kringle atau Santa yang
sederhana. Umumnya sih, beliau tampil
dengan mantel merah dengan bulu-bulu putih, sabuk kulit warna hitam, sepatu
boot dan topi senada dengan warna bajunya. Ciri khas lainnya: janggutnya yang
putih, tebal hingga hampir menutupi sebagian dagunya.
Kostum Sinterklaas yang
kini populer dengan mantel merahnya itu,
dikenal sejak awal abad 19 di Amerika Serikat dan Canada, lewat karya
kartunis Thomas Nast diikuti dengan kemunculannya di sejumlah acara televisi,
film dan buku. Kalo ngikutin legendanya
sih, Santa Claus tinggal di kutub Utara sekitar tahun 1820-an. Beliau biasa
berkeliling dengan mengendarai kereta salju yang ditarik rusa terbang. Tahun
1934-an, kita kenal lagu Santa Claus is
Coming To Town, buat menggambarkan sosok Santa yang jauh-jauh dari kutub
datang menemui anak-anak di berbagai belahan dunia buat membagikan hadiah
Natal. Beliau akan masuk ke rumah-rumah melalui cerobong asap, tepat tengah
malam, lantas mengisi kaos kaki yang digantung anak-anak di dekat tungku
perapian dengan hadiah.
Sebelum warna merah
menjadi ciri khasnya Santa Claus, warna hijau juga pernah dipakai menjadi
kostum andalannya British Father Christmas atau Bapak Natal-nya masyarakat yang
tinggal di British. Soalnya mereka
ngebayangin pohon-pohon pinus yang ditutupi salju ketika musim dingin tiba. Kita bisa dengerin storinya di lagu A Christmas
Carol..
Grinch
Tokoh dalam fiksi yang
diciptakan oleh Dr. Seuss ini dikenal sebagai sosok protagonis sekitar tahun
1957 dalam buku dongeng, How the Grinch Stole Christmas. Konon sosoknya berlawanan dengan Sinterklaas
yang mencintai anak-anak dan suka bagi-bagi hadiah, karena dia benci perayaan
Natal, kado, keramaian dan cerianya anak-anak.
Sosoknya digambarkan seperti makhluk berwarna hijau dengan mata kuning
mengenakan mantel merah ala Santa Claus dan tinggalnya di dekat Whoville. Dia pengen sekali, mencuri kado Natal yang
akan dibagikan Santa buat anak-anak.
Versi filmnya, Grinch
mempunyai kekuatan super. Waktu kecil, dia sudah bisa mengangkat pohon Natal di
atas kepalanya, lantas dilemparin gitu aja.. trus mengukir dinding batu dengan
kedua tangannya. Giliran sudah dewasa, dia bisa ngangkat kereta salju lengkap
seisi-isinya… Tahun 2000, Grinch pun mulai
diangkat di layar lebar dengan sutradara Ron Howard. Jim Carey yang jadi sosok
Grinch-nya terbilang sukses. Bahkan menyusul dibikin video games-nya dan
sequel-nya.
Piet
Hitam
Kalo ngelihat ada sosok
cowok dengan wajah hitam gelap, rambut kriwil, lantas membawa karung kosong dan
tongkat, nah…itu sih bukan pemulung. Tapi Piet Hitam atau Zwarte Piet bahasa
Belanda-nya yang biasa nemenin Sinterklaas kalo bagi-bagi hadiah. Sosoknya
emang agak serem, makanya ada ortu yang manfaatin ini buat nakutin anaknya.
Katanya kalo nakal, bakal dihukum dan dimasukin dalam karung. Padahal dikaitkan
sama dongeng rakyat Belanda dan belia,
Piet Hitam ini teman Saint Nicholas yang perayaan kemunculannya tiap tanggal 5 di Belanda dan 6 Desember di Belgia.
Biasanya mereka bagi-bagi permen dan hadiah, untuk anak-anak.
Jan Schenkman yang
awalnya menulis cerita tentang Saint Nicholas dengan pelayannya, Piet Hitam
tahun 1845. Dia menggambarkan sosok Piet ini sebagai cowok berkulit hitam,
karena asalnya dari Afrika. Tapi waktu itu belum diberi nama. Akhirnya tahun
1950-an, sosoknya sempat dinamain Pieter, Zwarte Pieten. Sampai akhirnya
ditetapkan awal abad 20, namanya Zwarte Piet.
Eggnog
Sejenis menu yang bahan
dasarnya susu, gula, telur yang dikocok, lantas campurannya bisa non alkohol,
atau alkohol, seperti brandy, rum, atau whisky. Awalnya populer di Amerika dan
Kanada buat merayakan musim dingin, seperti acara Thanksgiving, Natal dan Tahun
Baru. Eggnog bisa menjadi campuran
makanan dan minuman, termasuk kopi dan teh. Selain bisa dijadiin custard, bahan
dasarnya ice cream. Awal namanya sendiri
berasal dari kata egg and grog, campuran telur dengan minuman yang dibuat dari
rum. Minuman ini populer di kalangan
bangsawan Britania. Karena dulu kan harga susu dan telor mahal, belum lagi
mereka musti memiliki lemari pendingin pribadi.
Tanaman hemi parasit
yang masuk dalam keluarga Santalales, biasanya tumbuh nyelip di antara cabang
pohon atau perdu. Banyak jenisnya, seperti
Viscum album yang tumbuh di
daratan Eropa dan Britania Raya. Kalau
jenis Phorandendrom serotinum biasa banyak di Amerika Utara. Jelang Natal, mistletoe digunakan buat hiasan Natal.
Biasanya dipasang di pintu. Pernah ada kepercayaan kuno, kalao seorang cowok
dan cewek ketemuan di bawah Mistletoe yang
tengah tergantung, mereka musti berciuman. Wow! Bahaya tuh!
Sering dalam film-film
Natal, ada gantungan kaos kaki di dekat tungku api atau di dinding dalam rumah,
dekat kamar misalnya. Sebutannya kaos
kaki Natal atau Christmas Stocking.
Anak-anak masih percaya, kalau mereka nice, Santa akan datang tengah
malam pas Natal, lantas menaruh hadiah di masing-masing kaos kaki mereka.
Memang bener sih, biasanya pagi-pagi mereka akan berlarian ngecek kaos kakinya
dan ternyata, udah ada isiannya… Yah, sebenarnya bukan Sinterklaas sih yang
beliin tuh barang-barang. Ortu kita juga…
Kadang kita juga bisa request sama Sinterklaas dengan nulis barang yang
kita inginkan di secarik kertas, trus masukin ke kaos kaki. Ntar ortu kita juga
yang baca dan beliin hehehhe..
Konon, jaman dahulu
kala tinggal seorang lelaki miskin dan 3 anak perempuan yang cantik. Dia nggak punya uang, buat menikahkan
anak-anaknya. Makanya dia khawatir, gimana nasib anak-anaknya, kalau dia
meninggal. Santa Clauss kebetulan lewat, ketika dia mendengar cerita ini dari
penduduk desa. Santa mau bantu, tapi laki-laki miskin itu tidak mau menerima
sumbangan. Makanya, Sinterklaas melakukannya secara diam-dia. Dia menunggu
malam tiba, lantas masuk dalam cerobong asap, sambil membawa tiga tas yang
berisi koin emas. Masing-masing anak ceweknya dia kasih satu. Santa bingung, mau meletakkan hadiahnya di
mana. Pas dia melihat kaos kaki yang
lagi dijemur, digantung oleh cewek-cewek ini… Maka Santa pun meletakkan
hadiahnya ke dalam kaos kaki itu…Esoknya, begitu cewek-cewek itu bangun, mereka
mendapati kaos kakinya sudah berisi tas yang ada koin emasnya…Mereka bertiga
bisa menikah dan bahagia selamanya.
Gingerbread
Sejenis cookies yang
terbuat dari terigu, jahe, madu, dan gula.
Ginger bread awalnya diperkenalkan di daratan Eropa tahun 992 oleh
Gregory Makar yang tinggal di Bondaroy, Perancis. Dia tinggal di sana hampir 7
tahun lamanya dan selama itu, dia membuat sendiri cookies ini, hingga abad 13
akhirnya diperkenalkan di Swedia oleh imigran asal Jerman.
Kalo bentuknya semula sangat sederhana, tidak menggoda untuk dimakan,
kini makin beragam. Karena bentuk dan hiasannya yang terbuat dari gula, lucu-lucu,
sesuai musimnya. Khusus buat Natal, pasti ada lukisan boneka salju, Santa,
mistletoe etc…
Berbagai negara, punya
gingerbread andalan. Seperti Belanda dan Belgia yang menyebut ginger bread-nya
Peperkoekor Ontbijtkoek. Biasanya disajikan saat sarapan pagi, bentuknya
berlapis dan dimakan dengan margarin
yang sudah disediakan di atasnya. Kalo
di Polandia namanya Pierniki. Salah satunya yang terkenal, Torunski Piernik
yang cara memasaknya masih menggunakan tungku tradisional. Sementara sejak tahun 1991, masyarakat
Norwegia biasa menyediakan ginger bread sebelum Natal. Namanya
Pepperkakebyen.
Pernah nonton film
Santa Claus yang lagi naik kereta salju, trus ditarik 8 ekor rusa? Rusa-rusa
ini punya nama lho! Dasher, Dancer, Prancer, Vixen, Comet, Cupit, Donder, dan
Blitzen. Kabarnya nama-nama itu
diperoleh dari puisi yang dibuat tahun 1807 oleh Mayor Henry Livingston, Jr
dengan judul Kunjungan St. Nicholas. Sedangkan nama Donner dan Blitzen sempat
diubah menjadi Dunder dan Blixem oleh Clement Clarke Moore.
Umat Kristiani suka
menyebutnya Pohon Terang, yup…soalnya kan biasa dihias dengan lampion, lampu
warna warna yang kalau malam indah banget nyalanya. Awalnya sih hanya sebagai
simbol buat menyambut Natal, biasa dipajang dalam rumah. Kalau mau aslinya sih,
bisa langsung hias pohon cemara sendiri di halaman … Biasanya orang Amrik,
bela-belain beli pohon aslinya lho..Tapi ntar Natal berikutnya, mereka ganti baru…
Biasanya puncak cemara/pohon terangnya dipasang satu
bintang besar atau boneka malaekat. Trus ntar kado-kado yang mau tukeran,
diletakkan di bawah pohon. Pas malam Natalnya, abis makan malam atau ke gereja,
saling tukeran kado antar keluarga, teman dekat, dan buka sama-sama. Seru ya..
Jumat, 23 Desember 2011
Rabu, 21 Desember 2011
Senin, 19 Desember 2011
Senin, 12 Desember 2011
Tangisan Bayi Tengah Malam
Tangis
bayi??! Berulangkali aku berusaha menajamkan indra pendengaranku, tapi
benar-benar bukan halusinasi. Apa yang barusan kudengar, suara bayi menangis.
Lirih. Tersenggal-senggal, seperti kehausan, lapar atau malah kesulitan
bernafas? Nggak. Kali saja, memang bayi itu lapar. Jatahnya sang ibu, buat
menyusui. Hingga beberapa menit, tangis itu belum juga reda. Malah makin jelas,
hingga membuat tidurku gelisah. Nggak bisa tenang…
Beginilah
resikonya, tinggal rumah petak, di mana dinding satu dengan lainnya
berdempetan. Suara bayi menangis saja begitu jelas kedengeran, apalagi kalau
tetangga berantem… Walahhh, bisa semalaman aku nggak tidur. Apalagi tetangga
sebelah rumah nih, Bang Jafar dan Mpok Rohaya, pasangan betawi asli yang sejak
menikah dan pindah ke rumah itu, mirip kucing dan anjing. Hobinya berantem
mlulu. Nggak pernah akur. Masih mending, suaranya bisa ditahan. Giliran ribut,
tetangga dari ujung ke ujung sampai tau. Bukan rahasia lagi…
Untuk kesekian kalinya, aku ganti
posisi tidur. Hadap tembok, balik lagi. Sama saja. Mata susah dipejamkan. Kalau
pun mata ini mengatup, pikiran lari kemana-mana. Tangis bayi itu bikin stress.
Heran. Sudah beberapa hari ini, tiap lewat magrib, apalagi tengah malam sering
kedengaran. Padahal tetangga kan nggak ada yang punya bayi. Rata-rata anaknya
sudah sekolah. Kalau pun ada pasangan muda, mereka belum dikaruniai anak.
Bbbrrrr!
Bulu romaku mendadak berdiri. Tengkuk terasa dingin. Malam ini seperti nggak
ada tanda-tanda kehidupan di kampung tempatku tinggal. Semuanya sudah masuk
dalam rumah masing-masing. Hujan sejak sore, bikin adem dan enak buat tidur
cepat. Beda denganku yang malah sulit memejamkan mata.
Gemerisik
daun di luar sana, terdengar jelas. Maklum, persis di belakang jendela kamar
kan ada rimbunan pohon bambu yang kalau tertiup angin menimbulkan suara
gemerisik. Sudah lama aku pengen memotongnya, menebang habis tuh pohon. Geli
dengernya. Lagi-lagi Bang Jafar yang sok tau mitos dan sebangsanya itu bilang,
nggak boleh. Ntar penunggu pohon itu marah. Aneh. Hari gini masih percaya
supranatural gitu. Kalau aku sih, nggak peduli. Mana ada, pohon ditungguin….
Oeeekkkkk…oooeeekkk…
bener. Suara bayi itu lagi? Bulu kudukku makin meremang, seiring dengan
gemerisik bambu yang suaranya menggiriskan hati. Aku merapatkan sarung yang
kupakai buat selimut. Tapi sama saja. Dingin yang mendirikan bulu roma itu
terasa…Sampai-sampai, perasaanku mengatakan aku tidak sendiri di dalam
kamar…Astagaaaa!
Aku
tangkupkan kedua telapak tanganku di wajah, sambil membaca doa. Nggak boleh,
percaya yang aneh-aneh. Aku masih beriman… batinku, sambil berusaha tidur.
Entah sampai pukul berapa, aku masih mendengar tangis bayi itu, sebelum
akhirnya mata ini benar-benar terpejam. Aku tertidur, kelelahan.
*****************
Rencana
ikutan kerja bakti di kampung, nyaris batal. Gara-gara Bima, teman sekantor
ngajakin nonton bola di GBK. Aneh-aneh saja tuh orang. Main bolanya jam berapa,
kita datangnya jam berapa…
“Pagian
dong, Im. Biar kita bisa dapat posisi strategis. Selain itu kan banyak yang
bisa dikecengin. Lucu-lucu lho yang nonton…” katanya, ketika menelponku
pagi-pagi. Padahal aku sudah mengenakan t-shirt, celana bermuda, dan sandal
jepit. Siap ngebantuin warga kampung bersih-bersih.
“Apanya
yang lucu? Ada ondel-ondel? Atau layar tancap??”
“Haiyyyahhh
kamu tuh, kayak aki-aki aja..Udah nggak up date.. Ya, cewek-ceweknya lah…
Pantesan aja sampe sekarang masih dapat predikat jomblo. Lha, ngumpul acara
beginian aja, kamu nggak pernah. Nyingkir duluan… Outbond orang kantor,
misalnya? Kamu malah pilih nungguin renovasi rumah,” kata Bima lagi, setengah
senewen.
“Ya
udahlah, ntar aku nyusul. Tapi masih ntar…kan acaranya masih sore. Sekarang mau
bantuin kerja bakti dulu. Jangan sampai aku dicap sombong lagi, nggak peduli
orang kampung…”
“Trusssss,
nasibku gimana??” Bisma kedengarannya kecewa.
“Ya,
kalau sabar, tungguin. Kalau nggak, kamu kan bisa ajak tuh Danesh dan Fikri
datang pagian. Mereka kan juga mau nonton sore ini, rame-rame lagiiii…”
“Ya
udah, aku telpon mereka. Ntar jangan kelamaan ya kerja baktinya. Buruan telpon
aku lagi…” Bisma menutup telepon. Aku tersenyum lega. Dasar tuh anak, dia saja
yang nggak pernah gaul sama tetangga. Tinggalnya saja di apartemen. Beda sama
aku yang baru sanggupnya bayar kontrakan rumah petak di kampung.
Hueeekk!
Nyaris aku muntah, ketika membersihkan selokan di samping rumah. Sampah main
lempar begitu saja, selama ini. Mungkin anak-anak yang nggak diajarin,
bagaimana musti menjaga lingkungan. Bayangin saja. Selokan sudah padat,
tertimbun. Plastik kresek bekas belanjaan, daun, kertas, botol minuman, kaleng,
ampunnn. Masih untung, air selokan nggak luber. Belum musim hujan dan
kebanjiran. Coba kalau banjir, pasti sumber penyakit dan melebar ke mana-mana…
Aku
memang belum ada setahun tinggal di rumah petak ini, tapi rasanya sudah
bertahun-tahun. Ya, karena pusing melihat kondisi sekeliling rumah yang jorok.
Habis mau bagaimana lagi. Tahun ini aku harus super hemat, karena rencana tahun
depan sudah mengambil cicilan rumah. Sementara waktulah, aku bersakit-sakit
dulu…
“Mas…
sampahnya sudah bisa diangkut??” tanya Pak Jalil, tetangga depan rumah yang
kebagian jatah ngangkutin ke bak sampah besar, membuyarkan lamunanku. Dia
memang sehari-harinya bekerja di dinas kebersihan.
“Oh,
sudah Pak…Terima kasih… Saya sudah kumpulkan semuanya…” kataku, sambil membantu
dia menarik wadah dari bambu yang buat mengangkut semua kotoran dan sampah
tadi. Huueeekkk! Lagi-lagi aku hampir muntah. Untung masih bisa kutahan. Malu,
kalau dibilang mentang-mentang kerjanya kantoran, kerja bakti sedikit saja
sudah mabok.
Sekeranjang
besar sampah sudah diangkut, tapi aku masih menyapu halaman dengan sapu lidi,
dekat rimbunan pohon bambu itu. Beberapa kali, angin yang bertiup kencang
membuat sampah daun suka beterbangan. Sreeetttt! Pandanganku tertuju pada
gundukan tanah, tak jauh dari pohon bambu. Kelihatannya bekas diaduk-aduk.
Mungkin kucing atau anjing liar, menyimpan “harta karunnya” di situ? Kuingat
waktu kecil, binatang itu kan suka mencuri ikan, lantas menggali tanah dan
menyimpannya dulu di sana. Ntar giliran mereka lapar, mereka akan menggalinya
lagi dan makan harta curiannya. Mmm, iya gitu kali… Sudahlah, masa aku mau
merampas harta mereka. Kasihan. Lagian pasti jorok dan bau.
Aku
menyelesaikan kerja bakti pagi itu, dengan badan rontok. Rasanya persendian ini
copot, pegal semua. Terpaksa, kubatalkan janjiku nonton bola. Biar Bima
marah-marah dan ngomel nggak keruan. Soalnya kalau pun aku paksain, bisa-bisa
besok malah tidak ke kantor karena sakit.
Oeeekkk….oeeekkk!
Tangis bayi lagi? Astaga! Kulihat jam di dinding. Masih pukul sebelas malam.
Kepala ini berdenyut, pusing. Pegal seharian tadi masih terasa. Lumayan, bisa
tidur. Keterlaluan tuh orangtua yang membiarkan bayinya menangis malam-malam gini.
Mustinya langsung diberi susu atau dibujuk, agar bisa tidur. Kenapa suaranya
masih kenceng gitu? Apa tetangga lain nggak terganggu juga? Aku balik badan,
menutup telingaku dengan sarung. Bbbbrr.. Dingin. Tengkukku, terasa nggak enak.
Aduh, kenapa lagi iniii…
Mau
nggak mau, aku turun juga dari tempat tidur. Bayanganku, tetangga pasti ada
yang cuekin anaknya sampai nangis
begitu. Segera kuseduh segelas susu coklat, sebelum aku akhirnya duduk
di ruang tamu, sambil menyalakan televisi. Jrenggg! Ampun, tengah malam isinya
film horor pula. Kalau nggak, channel lainnya malah acara uji nyali. Apes
banget sih. Kuingat, malam ini bukan malam Jum’at. Ngapain juga televisi
kompakan memutar acara seram-seram sekarang?
Peeettt!!!!
Listrik mati! Gelap. Duuukk. Jantungku berdebar nggak keruan. Tangan ini
meraba-raba, berusaha mencari jalan buat ke dapur. Kuingat, masih ada beberapa
batang lilin. Tangis bayi itu masih terdengar, lirih dan menggiriskan hati.
Ketika aku akhirnya berhasil menemukan lilin dan menyalakannya dengan kompor
gas.. Ruang tengah, nggak gelap gulita lagi. Lega. Lamat-lamat, suara tangis
bayi itu pun menghilang. Kayaknya kapan-kapan aku musti tanyain ke tetangga
deh, siapa yang memiliki bayi dibiarkan kelaparan tiap malam.. Soalnya
benar-benar mengganggu. Migrainku selalu kambuh, kalau tengah malam tiba-tiba
terbangun dengar suara itu.
********
Laporan
kantor yang kubawa pulang ke rumah malam ini, benar-benar membuat kepalaku
pening. Banyak koreksian. Keterlaluan juga tuh Dwi yang main mengundurkan diri,
detik terakhir. Taunya, pekerjaan yang seharusnya sudah dia bereskan, malah
dialihkan ke aku. Celakanya lagi, aku baru nyadar, dia nggak teliti.
Acak-acakan… Banyak koreksian yang bakal membuatku terjaga sampai pagi. Soalnya
kalau kukerjakan di kantor, nggak bakal keburu…
Sreeekkkk…Sreeeekkk.
Langkah orang diseret, kembali kudengar. Begitu dekat dengan jendela kamarku.
Huhh! Siapa main mengendap-endap di deket jendela orang? Atau jangan-jangan
selama ini, aku punya tetangga yang punya kelainan? Sukanya ngintipin orang??
Waduhh!
Pusing
aku mikirinnya. Mau dicuekin, suara itu masih saja terdengar. Ranting-ranting
diinjak, lantas nggak lama, tangis bayi lagi. Aku mengacak-acak rambutku.
Kesal. Baru mau mulai konsentrasi kerja, ada saja gangguannya.
Jendela
kamar kubuka, … “Siapa ya???!”
Sepiiii.
Nggak ada siapa-siapa. Aku malah mendengar suaraku, kok kenceng banget. Soalnya
tetangga sudah menutup pintu rumah mereka rapat-rapat. Heran. Orang kota kok
jam segini sudah mengunci pintu semua. Kayak di desa.
Jendela
mau kututup kembali, ketika tiba-tiba kulihat… seorang anak kecil, berdiri
dengan kepala nunduk, dia menenteng sebuah boneka usang…Baju bocah itu nggak
terlalu jelek. Bagus malah.. Tapi dekil. Bocah perempuan itu juga bertelanjang
kaki, tubuhnya seperti belang-belang kena lumpur atau debu..
“Heiii…kamu
siapa? Ngapain di situ?” Bocah itu tidak menoleh, tidak bergeming di tempat dia
berdiri. Bulu kudukku meremang. Perasaanku nggak enak. Tapi nggak mungkinlah,
anak ini kan manusia juga… Paling dia abis dimarahin orangtuanya, trus ngambek
dan berdiri di situ…dekat jendela rumahku.
“Rumah
kamu mana? Pulang gihhh…Udah malam…Ntar masuk angin di situ…” Dia diam saja.
Nggak gerak. Angin yang bertiup, menyibak rambutnya yang ikal, berombak,
menutupi sebagian wajahnya… Dueeerrr!!! Wajahnya seperti ada gurat luka
memanjang, merah…Berdarah!!!
Aku
melongo. Kaget. Nggak bisa ngomong apa-apa, pas cewek itu perlahan-lahan
mendongakkan kepalanya. Wajahnya langsung terlihat begitu jelas, … wajah
perempuan yang pipinya terdapat luka memanjang dan menganga lebar, masih ada
darah merembes dari situ!
“Kamuuuu???”
Gadis cilik itu nggak menjawab, dia langsung balik badan dan menghilang dalam
kegelapan. Aku tertegun, bengong dan shock berdiri di tempat itu, entah berapa
lama…Baru nyadar, pas handphoneku bunyi… Bisma.
Kejadian
malam itu, nggak kuceritakan pada siapa pun, terutama Bisma. Bisa saja, temanku
itu malah menganggapku gila. Mana ada sih, malam-malam bocah cewek keluyuran,
trus wajahnya berdarah-darah? Belum lagi ceritaku soal suara bayi..Pasti
ujung-ujungnya aku disuruh pindah apartemen. Lebih aman, nyaman.
********
Minggu
pagi kali ini, aku sempatkan diri buat olahraga. Lari keliling rumah kontrakan,
lantas senam sekedarnya di depan rumah. Kulihat Mpok Rohaya dan Bang Jafar,
lagi beres-beres halaman.
“Pagiiiii….”
Sapaku. Bang Jafar dan Mpok Rohaya kaget.
Mereka saling pandang, pas ngeliat aku sudah mengenakan baju
olahraga…Mpok Rohaya, masuk ke dalam, sementara Bang Jafar ngeliatin aku dari
ujung kaki sampai ujung kepala.
“Oh
iya,….udah lama nggak olahraga, bang….” Cowok itu mengangguk-angguk, lantas
meneruskan pekerjaannya, merapikan halaman…
“Hebat,
mas saya perhatiin rajin banget. Kerja sampai malam, pagi-pagi olahraga..”
“Ya, kebutuhan Bang. Pengennya sih, pulang cepet.
Tapi selalu ada saja lemburan kantor..Herannya di sini warga sore-sore udah
ngunci pintu ya Bang. Padahal kan belum lama bener. Sepiii jadinya…”
Abang
Jafar tiba-tiba menghentikan pekerjaannya. Dia terduduk, mengusap keringat yang
membanjir, sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu…
“Kenapa
Bang? Sakit?” Aku jadi bingung.. Bang Jafar menggeleng. Dia nunjuk aku, supaya
ikut duduk di sampingnya….
“Abang
udah lama mau negor kamu, sebaiknya jangan pulang malam. Minimal kalau lembur
di rumah, kunci pintu rapat-rapat….”
“Ohhhh….rawan
todongan atau maling, Bang?”
“Bukannnn…
Pernah kejadian, seorang warna di sini nggak nyadar dirinya hamil. Sampai lima
bulan! Dia main pijat, kerik saja….akhirnya tuh bayi keluar… Seluruh warga
sampai panik, kami berusaha nahan bayinya nggak sampai jatuh…Soalnya kan masih
kelilit tali pusar…”
Glekkkkkk.
Bulu kudukku meremang. Aku sampai nggak bergerak, susah bernafas, denger cerita
Bang Jafar….
“Trus
ibunya tuh bayi??? Bayinya???”
“Ibunya
selamat, warga sini bawa ke rumah sakit. Tapi bayinya nggak bisa diselamatkan.
Dia dimakamkan di sini juga…Yah namanya orang nggak mampu, dimakamkan di
pekarangan..Sejak kejadian itu, warga suka merasa melihat anak kecil jalan sendirian…atau
mereka denger tangis bayi…Makanya rumah selalu dikunci rapat-rapat, padahal
belum terlalu malam. Mereka takut, bawa sial…”
Aku
mengangguk-angguk. Paham sekarang, kenapa warga di sini suka mengurung diri
sore-sore.. “Keluarga bayi itu tinggal di mana Bang? Saya kenal mereka?”
Bang
Jafar menggeleng. Dia melihat ke sekeliling rumah, lantas menatapku
dalam-dalam, seperti mau menceritakan sesuatu yang sangat rahasia dan penting….
“Mereka
sudah pindah. Kabarnya ibu kandung
perempuan yang keguguran itu, memintanya balik ke rumah mereka…Asal mas tau
saja… Dulumereka tinggal di samping rumah mas… dan jenasah bayi itu dimakamkan
di dekat jendela mas, tepat dibawah pohon bambu. Tapi nggak dikasih
nisan…sekedarnya gitu…”
Wussss! Badanku langsung terasa
enteng. Kepalaku berkunang-kunang. Jadi?? (Ft: Berbagai Sumber)
Natal Terakhir Natalie
Lagu Jingle Bells samar-samar kudengar. Senang. Meski
aku tidak merayakannya, tapi mendengar lagu-lagu yang diputar Natalie
belakangan ini, membuat perasaan ikutan ceria. Nggak terasa, sebentar lagi
sudah Natal dan Tahun Baru…Astagaaa… Baru kuingat, masih banyak catatan yang
belum berhasil aku selesaikan tahun ini. Musti harus lebih baik tahun
depan…Lagipula, umur makin nambah, artinya tanggungjawab makin besar. Dan sisa
waktu kita pun di dunia ini makin terbatas.
Biasa,
tinggal di kost-kostan, kita merayakan berbagai hari raya bersama. Jelang
Ramadhan misalnya. Genk si Putri yang suka bikin kue, sering ngumpul di rumah.
Rame-rame nyiapin parcel buat dijual. Beberapa kali pengajian dan acara buka
bersama, diadakan di kost. Lantas pas Lebaran, sepiiii… semua mudik. Bahkan
yang non muslim pun ikutan pulang…Biasa, tinggal aku yang tersisa. Maklum
pekerjaanku di sebuah rumah sakit swasta membuatku nggak bisa cuti lama. Ntar
gimana dong, kalau ada orang sakit mau berobat?
Giliran
perayaan Nyepi, kami di rumah pun menahan diri. Nggak bikin keributan, seperti
biasanya. Bagi yang suka putar CD kenceng, kali ini stop dulu. Buat menghormati
Gangga dan Wastu, sesama penghuni kost yang beragama Hindu. Ntar giliran mau
Natal, seperti sekarang ini…kami ikutan rame, bantuin Natalie menyiapkan parcel
buat anak-anak panti asuhan yang sering dia bantu. Atau, nemenin dia cari
pernak-pernik di mall…
Lonceng
berdentang, lagu-lagu yang ceria, hiasan dari kertas, balon, pita yang dominan
warna hijau, merah dan putih, belakangan sudah menghiasi tiap mall. Biasa.
Jelang Natal dan Tahun Baru… jadi hiburan tersendiri bagi kami. Maklum, tiap
hari di rumah, di depan televisi saja kan bosan…
“Sy,
ntar temenin aku pesan kue ya..buat oleh-oleh aku pulang nanti..” pinta
Natalie, ketika aku tengah membereskan tumpukan majalah di ruang tengah.
Anak-anak kost memang suka slebor. Kalau sudah membaca, lupa dah ngembaliin ke
tempat semula.
“Kapan
kamu pulang, Nat? Wah, kesepian lagi nih akunya… Kan anak-anak juga pada pulang
semua. Kebetulan rame-rame dapat cuti
tahunan dari kantor masing-masing. Aku aja jadi penjaga rumah…”
Natalie
ketawa, melihat wajah senduku. Dia mencubit pipi chubyku, lantas
menggoyang-goyangkan badanku kayak lagi mainin bonekanya saja. Salah satu
kebiasaan Natalie, suka menganggapku adik kecil, sekaligus boneka
kesayangannya…
“Tenang
aja, ntar kan ada aku nemenin kamu…. Aku nggak akan biarin kamu sendiri,
apalagi sampe kesepian…Jagain terus dehhhh….”
“Gampang
deh, ngomongnya. Ntar liburan Natal kan kamu mudik juga…So??? Gimana mau
nemenin dan jagaiiinnnn…”
Natalie
terkekeh, melihat aku menghentakkan kaki, seperti anak kecil kalau lagi
ngambek. Yah, hanya sama dia saja aku suka kelewat kolokan. Padahal aku sudah
bekerja… Udah gede.
“Ya,
abis aku pulang ke rumah, aku kan balik ke sini lagi….”
“Artinyaaa….
Selama kamu pulang, aku sendiriiiiii!!!!”
Natalie
menepuk-nepuk kepalanya sendiri. “Ya, gitu deh.. Maksudnya begitu… Sama juga
boong ya? Hahahahaha….” Dia ngakak, lantas mengacak rambutku. Asal.
“Ah
hanya seminggu ini juga…Nggak ngaruh! Lagian giliran kamu sibuk kerja, aku juga
suka dikacangin. Dilupain….Akunya nyantai tuh, ngeliat kamu wara wiri sibuk
sendiri..”
Bener
juga. Aku senyum sendiri. Giliran jadwal tugasku lagi padat-padatnya, aku mirip
manusia yang tinggal di dunianya sendiri. Nggak ngeliat ada orang lain. Kalau
nggak di kamar seharian, di ruang tengah, tapi masih dengan buku catatan yang
numpuk.
Entah
kenapa, kepulangan Natalie kali ini terasa berat sekali bagiku. Selain aku lagi
banyak masalah di kantor, butuh teman curhat, aku juga mulai merasa ada ikatan
batin antara kita berdua. Dia sudah seperti kakakku sendiri. Sahabat, saudara….
Lengkap.
Nggak
ada penghuni kost yang seloyal dia… Ketika aku sakit, seharian ngurusin.
Giliran aku stress, dia pendengar dan penasehat yang baik. Pas aku lagi
bingung, musti ambil keputusan, dia yang maju duluan. Bantuin…
“Jangan
lama-lama ya baliknya…” kataku, sambil memilih-milih kue yang mau dibeli
Natalie buat oleh-oleh. Dia geleng-geleng.
“Bawel
ya… Janji! Sumpah! Gue pasti balik lagi nemenin kamu…” katanya lagi, sambil memasukkan beberapa
kotak kue dalam tas belanjaannya. Perhatiannya kini tertuju pada deretan boneka
yang ukurannya serba mini. Boneka Santa Claus, Piet Hitam, sampai boneka salju
yang putih itu lengkap dengan topi merah panjangnya dan tongkat. Lucu-lucu…
“Lucu
ya…Bisa buat oleh-oleh keponakan!” katanya, sambil memilih beberapa boneka.
Lantas dia ambil boneka Piet Hitam.
“Tau
nggak, waktu kecil aku suka takut sama Piet Hitam. Soalnya kata mama, dia biasa
menangkap anak-anak nakal yang malas belajar, suka bandel, hahahaha….” Aku
geleng-geleng kepala, ngeliat dia memainkan boneka itu bersamaan dengan boneka
Santa Claus…
“Trus
aku juga percaya kalau kita pengen sesuatu, taruh catatan di sepatu trus kasih
rumput. Ntar Santa Claus yang beliin… Bener, permintaanku sering dikabulkan.
Kalau pagi bangun pas Christmass, selalu ada barang lucu untukku di sepatu…
Baru aku tahu, pas udah gede, semua hadiah itu kan papa dan mamaku juga yang
beliin. Kocak ya….”
“Kamu
sekarang, masih suka lakuin ritual itu?”
“Ya…keponakanku
yang masih kecil-kecil banyak. Aku suka melihat binar bahagia di mata mereka,
ketika menemukan hadiah di sepatu mereka.”
“Seru
juga ya… Ntar kapan-kapan aku juga ah, taroh rumput trus minta mobil sama Santa
Claus…” Doengg! Natalie menjitakku, sambil tertawa terbahak-bahak.
“Mintanya
jangan yang mahal-mahal donggg. Kasihan Santanya, nggak cukup uang dia….”
Kami
berangkulan berdua, timpuk-timpukan boneka, kayak anak kecil, sampai akhirnya
disamperin sama yang punya toko.
“Jadi
mau beli yang mana bonekanya mbak??” Natalie menatapku, aku juga angkat bahu.
Kita ketawa bareng….Dasar.
**************
Siang
ini, aku baru membereskan isi lemari pakaian. Lumayan. Libur seharian, bisa
kugunakan buat bebenah. Lagipula, kost sepi. Anak-anak masih jalan ke mall.
Kayaknya hari ini juga Natalie janji pulang. Senin besok, dia kan balik kerja. Ingat itu, buru-buru aku mengeluarkan
perlengkapanku membuat kue. Cewek itu suka banget brownies bikinanku. Katanya
beda sama yang di toko…
Ah,
kumasakin sebentar. Masih ada waktu. Sambil bikin kue, aku putar CD lagu
miliknya yang dia pinjemin ke aku, sebelum dia mudik. Pilihannya oke juga…
lagu-lagu Indonesia jadul. Tapi liriknya bagus-bagus, kayak lagunya KLa Project
yang didaur ulang ini…
Beres!
Browniesku sudah kupotong-potong. Sebagian kusajikan buat anak kost, sebagian
lagi sengaja aku simpan buat Natalie. Jam di dinding berdentang, sudah lewat
pukul tujuh malam. Anak-anak kost masih belum pada pulang, ketika tiba-tiba
kurasa tengkukku dingin… Ampun! Aku lupa menutup korden kamar. Pantas saja,
angin yang bertiup kencang bikin tengkuk ini terasa dingin…
“Ngelamun…
Jangan di kamar mlulu dong!” Suara itu? Aku mendongakkan kepala, melihat siapa
yang muncul di pintu. Natalie.
“Ehhhh
sudah balikkkk…. Kok sore amat… Biasanya kamu suka balik kost, siang-siang.
Trus sorenya udah molorrr…”
Natalie
menghempaskan dirinya di tempat tidurku. Matanya pucat, sayu. Kantung matanya
tebal. Kayaknya dia habis menangis. Nggak ceria seperti biasa…
“Kamu
kenapa? Sakit? Ada yang dipikirin…”
Aku
menggenggam tangannya, dingin. Tatapannya membuatku iba. Kenapa nih anak..
Masih homesick pasti. Abis mudik lama, biasanya masih berat ninggalin mama
papanya di rumah..
“Masih
kangen banget sama mama dan papa…” Dia bengong. Matanya berkaca-kaca…” Kenapa
ya, aku selalu nggak punya pilihan. Aku
nggak bisa memilih tinggal di sini, selama liburan nemenin kamu… Aku juga nggak
bisa memilih, tinggal di rumah selamanya nemenin mama dan papa yang makin tua…”
“Oh
kamu kepikiran mereka? Ya, sabar Nat. Tiap orang punya tugas
masing-masing. Ntar juga kalau kamu
sudah sibuk lagi, kamu pasti bisa senyum lagi..”
“Masih
ada waktu? Masih bisa aku bikin orang yang aku sayang bahagia?” tanyanya sambil
menunduk. Kupegang bahunya. Kugenggam tangannya yang dingin..
“Udah
jangan pikir macem-macem… Masih ada waktu pasti…” kataku. Dia berdiri,
meninggalkan aku sendiri tanpa bicara apa-apa. Aku pun nggak berusaha mengejarnya.
Mungkin dia masih capek. Biar dia ganti pakaian dulu, ntar juga balik nyamperin
seperti biasa.
Tebakanku
salah. Hingga waktunya tidur, Natalie tidak muncul ke kamarku. Mungkin dia
kecapekan. Kamarnya terkunci. Padahal biasanya, dia nggak pernah mengunci
kamar, sehingga aku bisa langsung masuk.
Pagi-pagi
aku sudah dijemput Sasha , sahabatku waktu SMP yang ngajak reunian, sepedaan
bareng temen-temen di bundaran HI. Sampai siang, baru aku pulang kelelahan.
Ketika kulihat, Raisha yang kukenal sebagai sepupu Natalie yang kuliah di
Jakarta juga, tengah membereskan barang-barang Natalie di kamar. Lho, Natalie
kemana? Kok kayak mau pindahan kost aja…
“Sha,
kok beres-beres? Natalie mau pindah ke mana? Semalam dia nggak cerita apa-apa?”
Raisya
tertegun menatapku. Kantung matanya tebal dan hitam, sama dengan Natalie.
Seperti kelamaan menangis dan kurang tidur. Dia memelukku, lantas menangis.
Bingung aku.. Nih anak, kenapa lagi…
“Kamu
dimarahin Natalie? Kamu disuruh-suruh beresin ini? Kenapa sih? Cerita dong…”
“Natalie
sudah pergi, Sy… Waktu mudik kemarin, kendaraannya tabrakan di tol. Dia
meninggal di tempat… Kami semua sibuk di rumahnya, sampai semua urusan
pemakaman berakhir. Nggak sempat kabarin kost, karena kami juga tau kost kan
kosong. Waktu kami telpon, pas nggak ada yang angkat. Hari ini saya dimintain
tolong keluarganya, ambil semua barang Natalie yang masih tersisa. Mereka belum
bisa datang sendiri kemari, karena masih berduka…”
Aku
terhenyak, jatuh terjajar di kursi yang biasa digunakan Natalie kalau lagi
dandan. Semalam aku bicara sama siapa???
Misteri 11 Januari
Kebaya warna merah jambu itu masih tergeletak di
tempat semula, kardus warna coklat bermotif batik. Nggak ada yang berani
memindahkan atau mengambil dan membawanya pulang. Meski semua orang yang
melihatnya pasti tau, itu baju mahal. Bahannya sangat halus, motifnya indah
dengan jahitan sempurna. Pasti, perempuan yang mengenakannya akan terlihat
makin cantik. Masalahnya, kebaya itu menjadi salah satu barang bukti tewasnya
seorang pesinden lokal yang belum lama ini ditemukan, meninggal di kamar
kontrakannya dengan kepala memar. Dugaan sementara, dia terpeleset, kepalanya
jatuh menghantam meja hingga mengalami pendarahan di otak.
Barang-barang
di kamarnya, masih rapi. Tumpukan kain,
selendang dan saputangan yang masih
harum, tertata rapi di dalam keranjang plastik. Tempat baju-baju yang baru
selesai disetrika. Beberapa kebaya juga masih ada dalam gantungan. Sementara
satu buah kebaya merah jambu itu yang kelihatannya baru, alias belum pernah
dipakai, masih terbungkus plastik dan diletakkan dalam kardus coklat bermotif
batik. Nggak ada tanda-tanda kekerasan di dalam kamar, selain lantai yang lengket
bekas gel rambut yang konon diduga sebagai penyebab Srintil, panggilan akrab
sinden itu terpeleset dan meninggal karena luka dalam.
Paling
nggak enak ya begini ini… memiliki usaha kamar kost-kostan yang penghuninya
kondang. Soalnya, baru meninggal saja sudah digosipkan macam-macam.
Berulangkali aku musti menolak wartawan yang datang, ingin wawancara aku,
maupun anak kost lainnya. Nggak etislah, menurutku Srintil yang tinggal di
kamar paling ujung, dekat tangga yang menuju lantai dua, rumahku ini, dibilang
simpanannya pejabat. Makanya dia dibunuh oleh istri tuanya yang cemburu. Lain
lagi cerita wartawan yang dari tabloid hiburan. Dia mengatakan, Srintil
memiliki banyak saingan. Wajar kalau salah satu di antara kompetiternya itu,
sakit hati. Lantas menggunakan berbagai cara buat menyingkirkannya.
Gila.
Hari gini, semua orang membahas orang meninggal saja dengan berbagai versi.
Hiperbola. Berlebihan, menurutku. Karena setauku, wanita yang berasal dari
Purwakarta itu tidak memiliki musuh.
Srintil, pribadi menyenangkan. Periang, santun, tidak suka ngegosip,
ringan tangan, dan gampang membaur dalam lingkungan mana pun.
Ingat
banget, waktu dia baru satu bulan datang ke kost, dia nggak segan ikut membantu
Bik Atun, pembantu kost merapikan dapur. Kadang Srintil menemaniku berkebun, membuang
ilalang dan daun-daun kering. Sesekali dia beri kami kejutan dengan gorengan
pisang dan sukunnya yang enak. Entah, apa bumbunya. Tapi kalau dia yang bikin,
pasti rasanya beda. Kata Srintil, mungkin karena menggorengnya memakai cinta.
Duhhh…nih, anak…selalu saja bisa membuat kami, seisi rumah senyum.
Meski
perempuan, dia sangat mandiri. Sampai-sampai, mengutak-atik motornya yang
ngadat atau mengangkat belanjaan segitu banyak, dia lakukan sendiri. Pernah,
dia minta ijin aku, mau mengubah tata letak kamar, sekaligus warna cat
dindingnya. Aku sih mengiyakan, karena kupikir malah bagus. Nggak perlu rehab
dengan biaya sendiri. Pasti juga Srintil nggak akan repot, dia tinggal panggil
tukang.
Tebakanku
meleset. Srintil ngerjain semuanya sendiri. Dua hari aku tidur di rumah mama,
sehingga sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di kost-kostan. Siang itu,
waktu kumasuk rumah, kedengaran suara berisik dari arah kamar Srintil.
Gubrakkkkk! Klontangggg… Astagaaa. Apaan itu? Buru-buru kusamperin ke arah
suara itu berasal, takutnya ada maling atau jangan-jangan Bik Atun yang lagi
beres-beres trus jatuh. Dan…astagaaa… Aku nggak bisa menahan tawa, tapi juga
kasihan begitu melihat ekspresi Srintil yang tengkurap di lantai, tertimpa
tangga, sementara badannya berlumuran cat. Rupanya dia ancang-ancang naik
tangga, mau ngecat kamar. Tapi entah gimana, dia terpeleset, tangganya
ngejatuhin dia lengkap dengan kaleng cat yang dia gantungin…
“Yahhh,
mbak Jasmin. Kok malah saya diketawain??” Katanya polos. Ya, gimana nggak mau
ketawa, ngelihat posisinya kocak abis. Buru-buru aku letakkan belanjaanku,
lantas kubantuin dia bangun. Kamar yang katanya mau diperbaiki dan dipercantik,
malah porak-poranda nggak keruan. Akhirnya, dia menyerah juga. Kami memanggil
tukang, buat mengecat kamar dan membantu memindahkan perabot kamar, seperti
yang diinginkan Srintil.
“Maksud
saya ngerjain sendiri kan lebih kreatif mbak… Hasilnya, bisa
dimacem-macemin. Nggak kaku, seperti
kerjaannya tukang,” katanya ngeles, waktu kulihat kamar dia akhirnya rapi
kembali.
“Kreatif,
kalau badan kamu biru semua, gara-gara jatuh dan ketimpa barang-barang gimana? Masih
untung cuma benjol, kalau patah kaki, kesleo, gegar otak, kan bahaya…Seluruh
warga Purwakarta bisa demo ke sini, nuntut mbak musti bertanggungjawab sebagai
pemilik kost.”
“Walahhh,
jangan lebai gitu dong mbak…Masa sampai gegar otak segala, serem ahhh,” katanya
sambil menggelendot, manja di pundakku. Srintil memang sudah seperti adik
kandungku sendiri. Secara aku juga lahir sebagai anak tunggal, lantas dikasih
wewenang mama buat ngurusin kost, sementara mama tinggal di rumahnya
menjalankan usaha catering.
Srintil
sendiri yang kutau, dia bungsu dari 4 bersaudara. Beda usianya dengan
kakak-kakaknya lumayan jauh, katanya sih tadinya orang tuanya yang pengusaha
kripik itu sudah tidak ingin punya momongan lagi. Srintil ini hasil kecolongan.
Makanya, dia manja banget. Pas di kost, ketemunya aku yang suka kesepian,
karena nggak ada saudara. Ya, klop.
Satu
hal lagi yang kukagumi dari dia, soal suara. Suaranya memang bagus, bahkan
boleh dibilang nggak kalah dengan penyanyi yang biasa muncul di televisi. Hanya
soal keberuntungan saja, dia kalah. Makanya dia memilih menjadi sinden, khusus
buat acara pernikahan, hajatan.
“Susah
ya mbak, cari uang di Jakarta. Musti pinter-pinter lihat celahnya, selain itu
juga ngati-ati. Soalnya mencari orang yang tulus mau memberi kita pekerjaan
halal, juga makin sedikit,” keluhnya, sore itu ketika kami sedang ngobrol di
teras, sambil makan singkong goreng bikinan Bik Atun.
“Ya,
kerja apa pun nggak perlu malu kok, Sri. Yang penting, halal dan kamu juga
tulus, senang ngejalaninnya…” kataku, sambil memperhatikan dia membetulkan
kancing kebayanya yang copot.
“Ntar
kalau Sri terkenal, hidup sudah jauh kecukupan, nggak bakal lupain mbak deh.
Kita masih bisa ngobrol bareng kan mbak…Trus jalan-jalan ke tempat bagus, nanti
aku yang traktirrr hihihihi….”
Perempuan
ini memang polos, baik. Suka terharu aku, kalau dengar dia cerita. Gara-gara
takut membebani orangtuanya, dia memilih menerima pekerjaan sebagai penyanyi
kafe. Tapi nggak lama,…karena dia mengaku tidak suka tempat dia bekerja. Banyak
asap rokok dan bau minuman keras, bikin dia sering sesak nafas. Kini, dia
memilih bekerja sebagai sinden, khusus hajatan, kawinan. Ternyata rejeki memang
sudah Tuhan yang atur. Dia nggak pernah kekurangan pekerjaan. Bahkan makin
hari, jadwal manggungnya makin banyak. Sampai menolak-nolak, kalau jadwalnya
bentrok.
Rencananya
mau kuliah lagi pun, tertunda. Srintil
bahkan sudah bergabung dengan sebuah Event Organizer (EO) besar, yang
jadwalnya gila-gilaan. Lihat saja, kebayanya yang selama ini nggak lebih dari
lima buah saja, suka dia bolak balik pakai lagi, sekarang sudah dua almari.
Belum lagi pernik-perniknya. Selop cantik, asesoris anting, kalung, pelengkap
kebaya, sampai sanggul tambahan, buat dia tampil. Karena aslinya, rambut
Srintil hanya sebahu saja panjangnya.
Senang.
Bangga. Aku ikutan bahagia, melihat Srintil berhasil. Meski tidak jarang, aku
suka wanti-wanti supaya dia berhati-hati. Namanya manusia, ngeliat barang
cantik dan mulus seperti dia pasti tergoda. Apalagi Srintil dikaruniai kulit
putih, tubuh proporsional, mata bulat dengan bulu mata lentik, leher
jenjang, dan hidung bangir… Sempurna.
Giliran dia pakai kebaya, makin menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah, mmm…
andai aku laki-laki, pasti juga sudah naksir berat.
“Tenang.
Jangan khawatir, mbak. Aku juga lihat-lihat kok, kalau klien macem-macem. Nggak
pernah aku mau ikutan after party atau pesta yang diadakan abis acara
pernikahan di tempat dugem, malam-malam pula. Aku juga kan nggak tahan, asap
rokok, bau minuman…bisa muntah-muntah dan bengek aku, mbak…”
Lega,
aku mendengarnya. Hingga suatu hari, kulihat Srintil nggak ceria seperti biasa.
Wajahnya murung, bahkan beberapa kebaya yang biasa dia gantung rapi, masih
kelihatan berantakan di atas tempat tidur. Pintu kamarnya dia biarkan setengah
terbuka, makanya nggak sengaja aku melihat semua ini, hingga membuatku ingin
tahu, apa masalahnya…
“Sri,
kamu sakit? Kok pucat banget wajahnya…Bengong dari tadi, mbak perhatiin. Kamu
nggak nyadar kan, mbak di depan pintu lamaan?”
Sri
diam, dia masih termenung, seperti memikirkan sesuatu. Omonganku pun
kelihatannya nggak dia dengerin. Sampai akhirnya, aku duduk di sampingnya, dia
tergagap kaget…
“Mbak??
Kapan datangnya? Bukannya tadi mau nengokin mama mbak, trus nginap di sana?”
Mata
bulat itu berkaca-kaca. Kulihat, jemarinya yang lentik dan biasa menggunakan
cat kuku warna soft itu, menggenggam amplop surat. Kelihatannya, surat itu yang
membuatnya gelisah…
“Kabar
dari bapak ibu kamu? “
“Nggak
mbak…Ini hanya surat…” Suaranya menggantung. Aku memilih diam, nggak memaksa
kalau dia nggak mau cerita. Mungkin saja, masalahnya terlalu pribadi.
Jangan-jangan, dia mulai jatuh cinta nihhh..
“Ini
hanya surat dari temanku di Purwakarta. Dia mau ke Jakarta, nengokin aku…”
“Lha,
baguslah…Kenapa bingung? Mmm, teman spesial ya?”
“Ah,
mbak asal deh…Semua teman, spesial kok bagi Sri..” Wajahnya bersemu merah.
Nggak salah lagi, pasti ini kaitannya sama cowok. Soal cinta.
‘Trus,
kenapa? Biarin dia main ke sini…kenalin sama mbak, kali aja mbak bisa kasih
pandangan buat kamu…Mungkin juga dia suka sama kamu atau sebaliknya?? Hayooo…”
Srintil
senyum. Mendung di wajahnya, nggak kelihatan lagi. Meski matanya masih
menyiratkan, kebimbangan. “Dia sudah lama bilang, suka dan mau melamar Sri,
tapi akunya yang belum bisa. Masih ingin bekerja, masih ingin bergaul dan
mengenal banyak orang, mbak…”
Oooh,
itu ternyata masalahnya. Memang kalau di daerah, gadis seusia Sri itu sudah
layak menikah, berkeluarga. Biasanya, perempuan urusannya di dapur dan ngurusin
anak. Hari gini, adat seperti itu masih ada. Tapi Sri nggak mau mengalami nasib
sama dengan perempuan di kampungnya. Dia masih punya tekad, menyelesaikan
kuliah. Lantas bekerja kantoran…
*************
Masalah
Sri dengan teman lelakinya di desa dia, kelihatannya masih menggantung. Nggak
jelas. Soalnya laki-laki yang bernama Bondan itu, ketika datang ke kost juga
masih belum bisa menerima penolakan Sri, lengkap beserta alasannya. Mereka
memang teman main sejak kecil. Bahkan kedua orangtua mereka pernah bercanda,
ingin menjodohkan anak mereka. Mungkin karena itu pula, Bondan kepedean. Dia
merasa, Sri pasti akan menjadi miliknya.
Parahnya,
pria anak pengusaha furniture itu playboy kelas kakap. Suka menggandeng
perempuan, berganti-ganti. Sisi lain dia
juga posesif berat. Bondan nggak suka melihat Srintil menyanyi di depan banyak
laki-laki, trus terima sms atau bbm dari pria, apalagi terima bingkisan. Maklum
saja sebagai sinden acara hajatan, Sri sering memperoleh tips berupa uang,
kadang barang tanda terima kasih.
Pernah
kejadian, Sri menerima tamu seorang laki-laki yang sebenarnya seumuran dengan
ayahku almarhum. Beliau juga sangat santun, orang terhormat. Kedatangannya mau
tandatangan kontrak dengan Sri, buat acara pameran kesenian. Apa yang terjadi?
Bondan pas datang, nengokin Sri. Melihat tamunya itu, dia main hajar saja.
Kerah baju itu Bapak, dia tarik dan hampir wajah bapak yang separuh baya itu
kena bogem mentahnya. Sri sampai menjerit, ketakutan. Nggak puas itu saja,
Bondan menarik tangan Sri, menyuruhnya masuk dan jangan keluar lagi, sampai
Bapak itu pergi. Pulang.
Keterlaluan
memang. Nggak heran, kudengar dari Srintil dia minta putus sama tuh cowok,
meski Bondan nggak langsung mengiyakan. Tapi Sri selalu menghindarinya. Entah
telpon, bbm, sms, sampai kalau muncul ke kost pun, Sri nggak akan menampakkan
batang hidungnya.
Srintil
memang sinden primadona. Belakangan juga ada dua cowok yang menunjukkan
perhatian ekstra. Prabu dan Ihsan. Kedua-duanya bekerja di satu building yang
sama, tetapi lain perusahaan dan profesi. Entah gimana ceritanya, mereka bisa
mengenal Sri, hingga akhirnya suka muncul ke rumah.
Senang
aku melihat Prabu. Dia eksekutif muda, gayanya sangat laki-laki. Macho. Santun.
Etikanya ada. Selain itu, kehidupannya juga kulihat sudah mapan. Terbukti dari
dua mobil sedan yang sering dia pakai secara bergantian, waktu main ke rumah. Beda dengan Ihsan yang agak temperamen,
suaranya aja kenceng ketika bicara. Maklum, mungkin karena dia biasa memimpin
proyek di lapangan… Soal masa depan, dia juga pria mapan. Meski kadang slonong
boy, alias tata kramanya nggak ada. Suka urakan. Kata Sri, dulu memang Ihsan
anak jalanan yang insaf, terus kerja kantoran dan sukses.
Herannya,
Sri malah kelihatannya lebih suka sama Ihsan yang temperamen, slebor ini.
Alasannya sih, karena Ihsan mendapatkan semua miliknya sekarang itu dari hasil
keringat dia sendiri. Pekerja keras. Beda dengan Prabu yang bapaknya juga punya
posisi bagus di sebuah bank swasta. Jadi Prabu lahir dari keluarga yang punya
fasilitas lengkap.
Minggu
pagi, kost sepi. Maklum liburan semesteran. Anak-anak kost di rumah ini,
kebanyakan masih kuliah. Makanya sekarang pada mudik, kecuali Srintil yang sudah bekerja. Kucari-cari Bik Atun
nggak ada di belakang. Baru kuingat, semalam kupesan banyak belanjaan. Mungkin
dia sudah berangkat ke pasar, takut kesiangan, ntar banyak barang habis.
Kulihat Sri belum juga bangun, padahal matahari sudah tinggi. Tumben nih, anak…
“Sriiii…udah
bangun belum? Udah siang lho, ntar rejekinya kabur…” kataku, sambil mengetuk
pintu kamarnya. Sepi. Nggak ada jawaban. Pintu kembali kuketuk, beberapa kali…
Sama. Kuintip dari lubang kunci, ada kunci tertempel dari dalam. Artinya, di
dalam ada orang dong… Kok Sri nggak bangun juga?
Penasaran,
aku ketuk pintu lagi, sambil memegang gerendel pintu. Lha, kok nggak terkunci?
Taunya, kunci dari dalam itu hanya disangkutin, tapi pintu nggak dikunci. “Sri,
mbak masuk ya…” kataku sekali lagi, sambil membuka pintu.
Jleeebbb!!
Jantungku mau copot. Kulihat Sri sudah terbujur dalam posisi tertelungkup di
lantai, tidak bergerak sama sekali. Buru-buru kuhampiri dia, kubalikkan
badannya… Wajahnya sudah pucat, membiru. Badannya dingin, kaku. Dahinya biru,
lebam, seperti habis menghantam sesuatu. Hidungnya keluar sedikit darah,
seperti orang mimisan. Aku panik. Tubuhku juga mungil. Ingin mengangkatnya ke
kasur, nggak kuat. Kusambar saja handphone dia yang masih tergeletak di atas
tempat tidur, lantas kuhubungi ambulance.
Shock.
Sri dinyatakan sudah meninggal beberapa
jam, sebelum aku temukan. Alasan sementara, pendarahan di dalam kepala, karena
benturan keras. Memang, dahinya lebam, biru dan benjol besar. Dugaan lain, dia
jatuh terbentur gara-gara terpeleset, ada bagian lantai yang licin seperti
bekas gel. Waktu dicocokin memang gel itu biasa dipakai Sri buat merapikan
rambutnya. Sisanya juga masih ada di meja rias…
Sungguh,
aku sangat terpukul. Sebagai orang yang ngerasa paling dekat dengannya selama
di Jakarta, seperti kakaknya sendiri… dan aku orang pertama yang menemukan dia
meninggal. Kenapa dia meninggalnya tragis begitu? Sri dimakamkan di kota
kelahirannya. Sedih. Sepi, kost ini rasanya. Meski semua penghuninya sudah
balik dari mudik, aku tetap merasa kehilangan.
****************
Sebelas Januari bertemu, menjalani kisah cinta ini
Naluri berkata engkaulah milikku. Bahagia selalu dimiliki. Bertahun
menjalani bersamamu. Kunyatakan bahwa
engkaulah jiwaku
Suara
itu sepertinya aku kenal? Lagu 11 Januari-nya Gigi dinyanyikan begitu sempurna,
tapi kesan yang menyanyikannya lagi sedih. Malam ini, aku tidak bisa tidur.
Bulu kudukku belakangan suka berdiri. Tengkuk dingin. Beberapa kali aku mencium
aroma parfum yang biasa dipakai Srintil atau lagunya Gigi itu dinyanyikan
dengan nada lirih… Hiiiihh! Kata orang, sebelum genap 40 hari meninggalnya
seseorang, dia masih ada di sekitar kita… Ah, aku nggak ingin parno. Takut sama
takhyul…
Tapi
bener, belum sempat aku memejamkan mata…telingaku kembali berdenging. Seperti
ada angin bertiup. Dingin. Lantas langkah kaki itu kedengeran begitu jelas,
lewat depan kamarku. Siapa lagi, anak kost tengah malah lewat kamarku. Secara
kamarku di ujung, bersebelahan dengan kamar Srintil. Kalau mau ke dapur kan
arah yang berlawanan.
Sreeekkk..sreeekkkk…
Langkah itu terdengar lagi, lantas menghilang, bersamaan dengan suara pintu
seperti ditutup. Blam! Pintu kamar sebelah??? Aku berjingkat, melompat dari
tempat tidur. Gila. Mana mungkin ada orang masuk ke kamar sebelah. Kuncinya kan
masih kusimpan. Nggak ada yang kuperbolehkan memindahkan barang-barang Srintil,
karena aku sendiri yang ingin merapikannya.
Gelisah.
Takut. Meski mau tidak mau aku musti memastikan, bukan perampok atau pencuri
yang masuk . Dueerrr! Pintu kamar Srintil berusaha kubuka, tapi…masih
terkunci. Trus siapa yang bisa membuka
dan menutupnya lagi? Penasaran, pintu kamar itu kubuka. Lampu kunyalakan.
Kosong! Nggak ada siapa-siapa. Aroma parfum Srintil kembali tercium, bulu
kudukku berdiri…Ya Tuhan, aku musti berani. Toh selama ini, aku nggak pernah
ngejahatin Sri.
Kulihat
baju kebaya Sri warna merah jambu yang masih baru dalam kardus kotak motif
batik itu, masih di tempatnya. Hanya, tutupnya terbuka? Perasaan aku nggak
pernah utak atik wadahnya. Aku duduk di meja rias Sri, memperhatikan
perlengkapan make up-nya, ketika tiba-tiba kudengar lagu itu kembali ada yang
menyanyikan. Lirih. Refleks aku melihat ke cermin di depanku. Dueerr! Lewat
cermin aku melihat, seorang perempuan mengenakan kebaya merah jambu berdiri
tepat di belakangku. Srintil!! Gelap. Aku sudah pingsan.
Pagi-pagi,
aku terbangun dengan badan mau patah. Tergeletak di lantai kamar Sri. Untung,
anak kost nggak ada yang tau. Kalau nggak bisa heboh gosip macam-macam
pula… Bayangan semalam, kuanggap
halusinasi. Hari itu juga kubereskan kamar Sri, sekalian biar ketakutanku yang
nggak beralasan menyingkir. Sebuah kalender meja di meja riasnya juga
kurapikan. Sempat kulihat, dia memberi lingkaran di angka 11, bulan Januari.
Mm, sebuah kebetulan? Lagu 11 Januari dengan lingkaran di tanggal 11 Januari
pula? Kuingat, dia nggak ulang tahun hari itu… Mungkin anggota keluarganya?
Sore
ini aku terhenyak kaget, ketika sejumlah petugas datang ke rumah. Lewat
keterangan mereka, baru kutahu Srintil meninggal bukan karena jatuh tanpa
sengaja. Tapi memang dibunuh. Prabu, laki-laki yang ingin menikahinya ternyata
psiko. Dia kecewa, ketika tau Sri diam-diam menerima ajakan Ihsan untuk menikah
11 Januari nanti. Hajatannya sangat sederhana, hanya akad saja.
Malam
itu, ketika aku terlelap, Prabu bertamu.
Sri mengusirnya dan masuk ke dalam. Ternyata Prabu mengikuti masuk. Sri yang
panik, karena seumur-umur tak pernah ada laki-laki diijinkan masuk ke kamarnya,
mendorong Prabu ke luar. Prabu emosi, dia balik mendorong Sri dengan kerasnya
sampai kepala cewek ini terbentur pinggir tempat tidur. Hingga akhirnya
pendarahan dan meninggal di tempat. Prabu kabur. Kasus ini sebenarnya nggak ada yang bakal
tau, kalau saja Prabu tidak dikejar bayangan Srintil yang menuntut
pertanggungjawabannya. Prabu sampai kebawa mimpi, bahkan seperti orang gila,
kemana saja ketakutan. Dia melihat stafnya di kantor pun, serasa melihat Sri…
Kasihan Srintil. Mimpinya bahagia di
tanggal 11 Januari tidak kesampaian. Sejak Prabu menjalani hukumannya, aku
nggak pernah terganggu lagi. Hingga malam ini, aku tengah menyeduh secangkir
kopi sambil menyalakan laptop…kudengar samar-samar, seseorang nembang dari
kamar sebelah. Lagu 11 Januari! (Ft: Berbagai Sumber)
Langganan:
Postingan (Atom)












