Minggu, 10 April 2011

TEROR PEMUJA LEAK



Jujur saja. Aku suka ketakutan sendiri, setiap kali berada dalam rumah yang baru sebulan aku tinggali. Meski sejak kecil, keluarga besarku mengajarkan anak-anaknya untuk tidak pernah takut hantu dan sejenisnya, termasuk cuek dengan takhayul toh bulu kuduk ini suka berdiri. Biasanya jelang magrib, Mbak Nur yang bekerja merapikan rumah sudah pulang. Terpaksa aku sendirian, menunggu Mas Fahri pulang kantor.
Aku tidak habis pikir, mengapa laki-laki yang menikahiku setahun yang lalu itu menyukai rumah ini. Katanya, pertamakali dia menginjakkan kaki di rumah berasitektur Bali itu, dia langsung jatuh cinta. Bahkan mati-matian, dia berusaha meyakinkan aku untuk menjual rumah lama kami, lantas pindah ke sini. Memang sih, lebih luas. Kami bisa menghabiskan waktu dengan duduk di teras belakang rumah, sambil memandang sepasang patung penari  yang ada di depan kolam ikan.
“Ngapain takut, Ta… Nggak ada apa-apa. Paling itu perasaanmu saja. Jangan dilebih-lebihkan,” tegur Mas Fahri sore itu, ketika mendengar pengaduanku lagi.
“Ngomong sih gampang, mas…Tapi kita yang mengalaminya yang tidak enak. Bayangkan saja, tiap abis magrib bulu kudukku sering berdiri. Rasanya ada seseorang suka mengamati aku diam-diam, ketika aku sedang menyiapkan makan malam di dapur atau memeriksa pekerjaan kantor di teras belakang.”
“Tapi nggak ada siapa-siapa kan?”
“Masa nunggu aku ketemuan beneran dengan orang itu mas? Kamu nggak mengkhawatirkan istrimu  ini? Kamu menunggu, suatu hari menemukan aku tergeletak karena mati ketakutan?”
Mas Fahri tergelak, mendengar nada suaraku mulai parau. Tanda aku, marah. Ya, bayangin saja. Kita benar-benar takut, eh…orang yang kita harapkan bisa melindungi malah cuek.
“Sudahlah sayang, buang jauh-jauh rasa takutmu itu. Percaya deh, nggak akan ada apa-apa. Mungkin belum terbiasa saja. Namanya juga rumah baru…”
Ya, sudahlah. Berdebat dengan cowok yang pandai menentramkan hatiku itu, tidak ada gunanya. Kami berdua memang nyaris bertolak belakang. Aku tipe orang yang gampang panik, suka ceplas ceplos dan meledak-ledak. Seringkali kata hatiku mengalahkan logika. Sementara Mas Fahri sabar banget. Dia selalu mengutamakan bukti dan logika, daripada feeling.
Sore ini, tenagaku seperti terkuras habis. Gara-gara Mbak Nur tidak masuk, terpaksa semua pekerjaan rumah tangga kukerjakan sendiri, sepulang dari kantor. Memasak, mencuci semua perabot, pakaian, sampai merapikan rumah. Fffuihh! Ternyata nggak mudah…Capek banget!
Sambil membaca koran edisi hari ini di teras belakang, kuselonjorkan kaki di atas kursi. Segelas coklat susu dan sepiring pisang goreng, tergeletak begitu saja di meja. Benar-benar kuingin santai, setelah pusing seharian…
Bbbrr…Astaga! Aroma cendana itu lagi…Tiba-tiba udara dingin terasa meniup tengkukku. Baru kusadar, suasana sore ini benar-benar sunyi. Nggak ada suara musik dari CD player yang biasa kuputar di ruang keluarga. Keheningan begitu menggigit. Tiba-tiba sekilas mataku menangkap bayangan seseorang di dekat kolam. Aduh, kenapa perasaanku jadi nggak enak begini ya?
Plung! Seakan ada sebuah benda yang dilemparkan dalam air kolam. Suaranya jelas banget…tapi tidak ada siapa-siapa. Ah, mungkin saja itu suara kodok atau ikan yang melompat di kolam. Aku berusaha mengusir ketakutanku yang datang tiba-tiba. Padahal, bulu kudukku jelas-jelas berdiri. Aroma cendana makin santer tercium.
Tanpa kusadari, telapak tangan ini sudah basah oleh keringat. Jantungku terasa berdebar makin cepat, apalagi ketika kusadar…pintu yang menghubungkan teras belakang dengan ruang keluarga tiba-tiba tertutup!
“Aduh, Mas Fahri ya…Jangan becanda dong, mas!” tegurku, setengah berteriak. Pasti cowok itu bermaksud menggodaku. Kecurigaanku ini beralasan, karena waktu perploncoan di kampus kami dulu, dia pernah menakut-nakutiku sampai aku pingsan ketakutan.
Tak ada jawaban. Sepi. Kulirik sekelilingku lagi…Ya ampun…Perasaanku mengatakan, dua patung penari itu sepertinya memperhatikan aku dari tadi! Matanya seakan melotot dengan mulut menyeringai, lidahnya menjulur pantang dengan gigi-gigi bertaring…astaga! Rasanya aku melihat wajah patung itu makin menyerupai manusia beneran, tetapi mulutnya mengerikan.
Kakiku lemas. Kuingin lari, tetapi rasanya badan ini terpaku erat di kursi. Persendian lemas. Keringat membanjir. Detak jantungku pun seakan berdetak makin kencang dan tidak beraturan.
“Tolong…tolong, jangan ganggu saya….” Suaraku terpatah-patah, parau. Pusing. Sekujur tubuh seperti lunglai tak bertenaga. Dua patung penari itu….ampun! Bergerak ke arahku. Aku berusaha bangkit sekuat tenaga, lantas berlari masuk ke dalam rumah. Lagi-lagi, aku terhalang pintu yang menghubungkan teras belakang dengan ruang keluarga. Masa pintu itu terkunci sih?
Keringatku membanjir. Mataku sudah pedih kena tetesan keringat yang tak bisa kubendung lagi. Pandangan mengabur, tak jelas…apakah benar yang kulihat. Patung itu benar-benar berjalan, mendekatiku. Dekat…semakin dekat…
Sekuat tenaga, tanganku berusaha mendorong pintu yang terkunci, sekuat tenaga. Tak kuperdulikan lagi, tangan dan kakiku sakit menendang pintu yang terbuat dari jati itu…Hingga tiba-tiba pintu terbuka. Seseorang telah membukanya dari dalam! Ampun, bayangan hitam itu seperti begitu dekat denganku…Tanpa berpikir panjang, kuterjang saja sosok tak jelas di depanku itu, sebelum akhirnya aku pingsan…
****
Kuta,  siang ini memang panas sekali. Meski sudah menggunakan lotion buat melindungi kulit dari teriknya matahari, tapi bisa kupastikan besok-besok kulitku sudah belang lagi. Tanda terbakar. Sepiring nasi campur khas Bali lengkap dengan juice jeruk kesukaanku, sudah tandas kuhabiskan. Mas Fahri belum juga muncul…
Capek juga, duduk-duduk sendiri di kafe ini tanpa ada teman ngobrol. Tapi daripada aku ditinggalin di rumah sendirian, lebih baik aku mencari udara segar di sini. Yup! Sejak kejadian Mas Fahri menemukan aku pingsan di rumah, laki-laki itu lebih berhati-hati. Andai tidak ada teman di rumah, seperti Mbak Nur atau teman kantor yang main ke rumah, pasti dia mengajakku ikutan. Misalnya dia meeting di satu lokasi, aku bisa menunggu dia di kafe dekat tempat dia bekerja.
Siang ini, dia mengajak aku makan siang di kafe ini. Lokasinya memang dekat dengan kantorku, jadi nggak ada kesulitan buatku ke sini. Masalahnya hampir sejak aku menunggu, Mas Fahri tidak muncul juga. BBm dariku pun tidak dia balas…Huh! Padahal seingatku, dia selalu menepati janji…
“Menunggu seseorang nak?” tegur seorang perempuan separuh baya, mengejutkan aku. Kutebak usianya sekitar 50 tahun-an, tapi dandanannya funky sekali. Baju hitam, berumbai-rumbai, full colour dengan kalung dan gelang berderet dari batu-batuan. Garis matanya dia pertegas dengan eye liner, sementara eye shadownya warna terakota. Mmm, ingatanku langsung ke dongeng nenek sihir tempo dulu…
“Jangan bandingkan saya dengan dongeng nenek sihir ya nak? Ibu hanya bisa membaca peruntungan seseorang…”
Deg! Jantungku mau copot. Kok dia bisa membaca isi pikiranku sih? Jangan-jangan…
“Ah, tenang saja…Saya tidak bermaksud jahat sama kamu kok, nak. Tenang saja. Sebaliknya saya berniat baik. Ingin menolong….”
“Menolong? Ibu…maaf, saya panggil Ibu saja ya… Maksud Ibu?” tanyaku terbata-bata. Tanpa disuruh, wanita itu menarik kursi di sampingku, lantas duduk. Aroma melati menusuk penciumanku seketika…Ampun…Sudah tahu, aku paling phobia bau bunga-bunga-an…
“Maaf, kamu nggak suka ya dengan parfum saya?”
Ampunnn! Badanku lemas…Rasanya semua isi otakku, dia tahu.
“Sudahlah, nak. Nggak perlu ketakutan begitu…Ibu hanya ingin membantumu… Panggil saja saya ibu atau nenek, sesuka kamu. Tapi saya belum tua-tua amat kan…” Dia terkekeh, berusaha mengajakku bercanda. Aku menjadi malu sendiri, menyadari sejak tadi kelihatan begitu tegang.
“Ya, Bu…Ibu masih muda, belum pantas dipanggil nenek…”
“Betulll… Kamu memang pandai menjaga hati orang lain. Nggak suka menyakiti sesama, makanya saya ingin membantu kamu…”
“Saya masih bingung…Maksud ibu apa? Dibantu apa?”
Wanita itu menatap mataku dalam-dalam. Tangannya yang mulai keriput itu menggenggam tanganku. Dingin Lantas dia menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala…
“Kamu dalam bahaya, nak…Lebih baik, kamu tinggalkan rumah kamu sekarang. Paling lambat dua purnama dari sekarang. Sementara hindari kebiasaan memancing kehadirannya dengan benda-benda kesukaannya…Ibu mengingatkan saja. Bayangan gelap itu sudah bisa terbaca.”
Aku menggeleng-gelengkan kepala, nggak tahu apa maksud wanita ini. Kehadirannya? Dia siapa? Aku suka memancing kehadirannya? Aduh…
“Lebih baik, secepatnya…Ya, secepatnya. Hindari mengusik kediamannya. Nanti kamu kena tulah juga nak..meski kamu sebenarnya tidak bersalah. Saya kasihan sama kamu…”
“Maksud ibu? Rumah saya tidak bagus saya tinggali? Siapa yang merasa diusik? Kenapa saya dianggap memancing dia muncul?”
Wanita tua itu mengangguk-angguk. Tangannya dia tangkupkan di dada, sepertinya dia membaca mantra. Aneh banget ini orang…Aku jadi curiga. Jangan-jangan aku tertipu dengan orang gila…
“Jangan main-main, nak…Saya serius. Dua purnama saja waktumu, kalau mau selamat. Pergilah…Jangan di situ lagi. Dia tidak suka dengan kehadiran kamu…”
Nafasku tercekat. Benar. Kali ini kulihat wanita itu memang serius. Nggak main-main…Masalahnya, aku tidak tahu bagaimana caranya pindah dari rumah yang baru kami beli? Jelas tidak masuk akal, kalau aku ngotot minta pindah sama Mas Fahri hanya gara-gara mendengar ceracauan orang yang baru aku kenal.
Andaikan Mas Fahri ikutan mendengarkan omongan wanita itu…Huh!
*******
Obrolan dengan perempuan tua di kafe siang itu, nyaris aku lupakan. Dua hari ini Mas Fahri tugas ke Tabanan. Artinya, aku musti tidur sendiri. Mbak Nur sudah kubujukin menginap, tetap saja tidak mau. Ya, jelas saja. Anak-anaknya masih kecil.
Acara televisi malam, membosankan. Baru saja kumatikan. Lantas kuputar CD kesukaanku…Sambil menyelonjorkan kaki di sofa ruang keluarga, aku membaca sebuah novel yang baru kubeli kemarin.
Blar! Astaga…Nyaris aku melompat, kaget. Seakan ada orang yang menghempaskan pintu ruang belakang. Padahal kuyakin banget, sebelum magrib sudah kukunci rapat-rapat. Sejak kejadian aku pingsan, aku memang malas berlama-lama di teras belakang lagi kecuali Mas Fahri menemani.
Tubuhku bergetar. Kurasakan angin dingin meniup tengkukku. Aroma cendana itu jelas tercium Lampu hias yang tergantung di langit-langit rumah, kulihat bergoyang-goyang bersamaan dengan suara  CD playerku yang makin kencang volumenya. Kulihat seperti ada bayangan gelap berkelebat. Tapi ketika kuperhatiin lagi, tak ada siapa-siapa di sana…Kakiku gemetar, seperti tidak memijak lantai. Lantas suara lirih itu terdengar, suaranya begitu jauh tapi jelas…Seperti lolongan…
            Tubuhku serasa limbung. Tanah yang kupijak seakan bergoyang, diikuti semua perabot di rumah ini yang berubah menakutkan. Aku seperti terjebak dalam bangunan tempo dulu, kastil atau rumah tua yang kotor, gelap dan menakutkan. Suara rintihan dan lolongan itu makin jelas terdengar, bersamaan dengan terbukanya pintu belakang secara paksa…Astaga! Bukankah wujudnya itu seperti…. Lidahku kelu, tiba-tiba kuingat cerita masyarakat tentang adanya kuntilanak di tanah Jawa, sementara di Bali kita dengar ada leak yang sering digunakan untuk mencari pesugihan dan balas dendam.
            Ingin rasanya aku teriak, berlari atau melemparkan apa saja ke arahnya, untuk membela diri sendiri. Tapi badan serasa kaku, lidah kelu, tatapan mata memerah dengan lidah menjulur mengerikan itu semakin dekat..dekat dan….kurasa aku sudah terhempas dalam lubang yang sangat dalam. Gelap. Dingin. 
*******
            Tiga hari aku terpaksa menginap di rumah sakit, tanpa diketahui pasti apa jenis sakitku. Dokter yang meminta aku rawat inap pun, bingung. Semua hasil check up bagus, tetapi aku seringkali mengigau dan demam tinggi. Bayangan menakutkan, sosok perempuan dengan lidah terjulur itu selalu datang dalam mimpi. Bahkan rasanya, dia begitu nyata dan dekat, sampai-sampai  Mas Fahri berkonsultasi dengan seorang psikolog untuk meringankan bebanku.
Lewat debat panjang, akhirnya laki-laki yang aku cintai itu angkat tangan, menyerah. Dia setuju juga, kami pindah dari rumah yang nyaris membuatku gila itu. Sebagai pendatang, seharusnya kami memang sejak awal berhati-hati dan mendengarkan nasehat orang tua, sesepuh di daerah masing-masing. Karena belakangan aku ketahui lewat seorang ketua adat, kemungkinan besar makhluk yang aku anggap khayalan itu sebenarnya rangde atau rangda.
            Ingin rasanya aku menutup rapat-rapat cerita ini. Mengingatnya lagi, hanya membuatku dihantui mimpi buruk. Baru kutahu, rumah yang kami tinggali sebelumnya merupakan tempat tinggal sebuah keluarga yang eyang mereka, belajar ilmu leak. Konon penganut ilmu hitam ini harus makan 108 bayi. Semakin banyak bayi yang mereka korbankan, kesaktiannya makin hebat. Mereka tidak hanya bisa mencelakai musuh, tapi juga bisa mengobati orang sakit.  Saat seseorang tengah kemasukan ilmunya, sosoknya bisa berupa rangde. Wanita berambut panjang dengan mulut bertaring, lidah merah terjulur dan kuku-kukunya panjang. Rupanya eyang mereka masih tidak terima, meninggalkan rumah itu. Aku bersyukur…setidaknya, mimpi-mimpi menakutkan itu tidak datang lagi. Keluarga kecilku pun terselamatkan. Apalagi baru kutahu, aku tengah mengandung tiga minggu. Mungkin bawaan bayi…perasaanku lebih peka dari biasanya. (FT: berbagai sumber)

Sabtu, 09 April 2011

HANTU dalam BIOSKOP



            Nonton film! Itu jawabannya kalau aku ditanya, hobi keluarga kecilku. Hiburan paling menyenangkan, lumayan murah meriah. Bersama Mas Faiz, suamiku…kami bisa ngobrol banyak hal dari film yang ditonton. Uniknya bukan hanya film-film drama  saja yang dipilih, sesekali kami juga suka menonton film horor lokal dan import.
Seru juga, membandingkan karya anak negeri dengan luar. Kami suka berdebat, soal kepiawaian penulis ceritanya membuat ending dari satu tayangan. Karakter yang diperankan bintang utamanya yang kadang over atau sebaliknya, sangat sempurna dan berbagai trik pendukung, seperti: music director, lightingnya… Banyak. Intinya, tidak ada istilah bosan bagi kami mengupas setiap film yang ditonton.  
            “Bener kan tebakanku. Udah kelihatan kok, siapa dalang dibalik itu semua… Gerak geriknya saja kebaca. Masa kamu nggak nyadar?” jelas Mas Faiz, sambil menggenggam tanganku saat keluar dari gedung bioskop.
“Heran ya…Padahal dari awal cerita, tindak tanduknya sama sekali tidak mencurigakan. Mana mungkin sih, sosok perempuan yang halus tutur katanya itu, ternyata pembunuh serial berdarah dingin? Bagus banget ya, aktingnya!”
“Ah, kamu… Bagus gimana? Mudah ketebak kok… Kamu saja selalu menilai seseorang dengan perasaan, tanpa logika.”
“Eit, kok gitu? Mentang-mentang aku perempuan, dibilang suka nggak pakai akal sehat?” protesku dengan nada tinggi. Mas Faiz mengacak-acak rambutku, lantas merengkuh bahuku penuh cinta. “Nggak lah…gitu saja marah…”
“Lha yang bener mas… “
“Iya…iya… Sudahlah, namanya juga kita diskusi soal tayangan tadi. Jangan dibawa serius ah!” Mas Faiz mengingatkan. Bener juga sih. Aku gampang emosi, kalau sudah diajak berdiskusi. Ntar juga nyeselnya belakangan. Biasanya aku nyadar sendiri…tapi tanpa minta maaf, mas Faiz duluan yang selalu mencairkan suasana.
Laki-laki yang melamarku dua tahun yang lalu itu, pengertiannya memang luar biasa. Meski beberapa kali kami gagal memperoleh keturunan, karena rahimku lemah, dia tidak pernah menunjukkan kekesalan atau kekecewaannya.
“Sabar, sayang…Belum waktunya saja. Nanti pasti kita diberi yang terbaik. Nggak perlu buru-buru panik. Ikhlas dan pasrah. Lagipula, kita masih muda kok. Sekarang saja aku masih ngerasa seperti lagi pacaran dengan kamu…” bisiknya sore itu, saat aku baru saja keluar dari rumah sakit karena pendarahan.
Kesabaran pria berambut ikal dengan alis tebal dan tatapannya yang tajam itu, membuat mama dan papa merelakan putri semata wayangnya menikah, lantas diboyong keluar kota. Sungguh, aku pun tidak pernah merasakan kesepian, meski awalnya terbiasa tinggal bersama orang tua. Ada saja kegiatan yang kami lakuin berdua. Minggu ini, berburu barang antik ke pasar, minggu depan nongkrong di kafe favorit kami, minggu berikutnya nonton atau nyobain tempat makan baru.
“Aku janji tidak akan pernah membiarkan kamu bersedih atau kesepian…” bisik Mas Faiz tiap malam, sebelum kami tertidur lelap. Janjinya memang dia buktikan. Tak pernah kami berdebat panjang, sampai ribut atau ngambek-ngambekkan. Kalau aku sudah lepas kontrol, dia biasanya bisa mengademkan suasana.
“Husss! Kok ngelamun! Mikirin logika tadi ya? Hahahaha…” mas Faiz tergelak, melihatku tergagap-gagap. Ya ampun, kok malah ngelamunin masa lalu. Jangan-jangan dia tahu, aku mikirin kebaikannya huuuh…Wajahku menghangat. Untung dia tidak sadar, wajahku sudah merah dadu karena malu.
*****
Minggu ini memang minggu yang melelahkan. Banyak pekerjaan di kantor, sampai-sampai membuat mas Faiz pulang larut. Kadang dia juga membawa setumpuk berkas. Tengah malam, ketika kuterbangun…kulihat dia masih berkutat dengan laptopnya. Kasihan…Sementara aku sendiri yang bertugas mengurus rumah, tidak banyak bisa membantunya. Paling menyediakan secangkir kopi jahe kegemarannya.
“Banyak banget kerjaannya ya mas…Ntar sakit lho, lembur terus…” tegurku malam itu, ketika dia baru selesai mandi. Kulihat wajahnya pucat, tak sesegar biasanya.
“Tenang saja, malam ini terakhir kok. Proposal proyek perusahaan sudah disetujui dan beres. Besok kita bisa jalan bareng lagi…”
“Beneran? Nggak kecapekan? Malah ingetnya jalan…”
“Nggak…nggak capek. Bener! Justru kalau diam saja di rumah, malah pegel. Lebih baik kita nonton yuk besok…Pulang kerja, kamu sudah siap ya? Kulihat tadi ada beberapa film baru, kamu pilih saja...”
Asyiikk! Memang sudah dua minggu ini, kami tidak nonton film. Sudah lama juga, kita tidak debat soal film seperti biasa. 
****
Horor?! Aku senyum-senyum sendiri. Tanpa menunggu mas Faiz mengulang pertanyaannya, kujawab tantangan laki-laki itu.
“Oke! Siapa takut mas…Kelihatannya juga nggak serem-serem amat…” kataku, sambil mengamati poster film yang akan kami tonton. Kebetulan, malam Jum’at pula. Ada-ada saja, suamiku itu. Dia pikir aku anak kecil yang gampang ditakut-takuti?
“Bener ya…Jangan teriak, lantas bersembunyi di belakang bahuku?”
“Yaaaa… nggak lah! Jangan-jangan, mas takut sendiri ya? Ntar pulangnya kebawa mimpi, tidur sambil teriak-teriak?” ledekku ganti. Dia tertawa, melihat ekspresiku. Diacaknya rambutku seperti biasa, penuh sayang sambil mengajakku mengantri tiket masuk di bioskop favorit kami, di daerah Jakarta Pusat.
Benar juga…Film horor Thailand terkenal mengerikan. Efeknya bagus banget, sampai kita yang nonton merasakan ketegangan yang tiada akhir.  Jujur, beberapa kali kuharus menggigit bibir atau menahan nafas, karena tegang. Pengen banget memeluk mas Faiz di sampingku, lantas bersandar di bahunya yang bidang. Tapi gengsi ah…dia tidak boleh tahu, aku ketakutan…
“Siska, aku ke kamar kecil dulu ya…Kamu tunggu di sini saja. Nggak apa-apa kan?” bisik mas Faiz tiba-tiba. Glek. Kulihat bangku di samping kanan dan kiriku kosong…Hanya kami berdua di deretan ini…
“Sis?”
“Oh iya…iya…sana deh mas. Nggak apa-apa…” bisikku, takut mengganggu penonton yang lain.
“Bener, nggak takut?”
Kali ini kucubit pinggang cowok itu, hingga membuatnya nyaris berteriak kaget. Aku melotot gemas, dia tersenyum nakal. Dasar…
Satu menit, dua menit...Mas Faiz belum juga kembali. Perasaan baru ditinggal keluar sebentar saja, kok aku sudah gelisah begini ya. Tengkukku terasa dingin. Tanpa sadar, konsentrasiku buyar. Adegan demi adegan di depan mata, menguras energi. Rasanya keberanianku mulai terusik…Apalagi kurasa aku tidak lagi duduk sendiri di deretan bangku ini!
Yess! Kulihat lima kursi dari tempat aku duduk, seseorang tengah duduk di sana. Laki-laki atau perempuan? Aku berusaha mempertajam penglihatanku, di tengah kegelapan …Oh, laki-laki…dan…Astaga! Dia menoleh, sadar kalau aku memperhatikannya!
Deg! Jantungku rasanya mau copot. Wajahku memerah, karena malu. Untung, kondisi dalam gedung bioskop gelap. Ya…aku malu. Pasti laki-laki itu menyangka, aku cewek gampangan, duduk sendirian, lantas memperhatikan cowok lain lagi.
Kutarik nafas dalam-dalam. Ah, nggak. Moga dia tidak beranggapan negatif. Lagipula wajar aku memperhatikan dia, karena sejak tadi dia tidak ada di sana. Kenapa film sudah nyaris setengah jalan, dia baru datang? Kulirik lagi laki-laki itu sekilas…Yah! Dia sudah tidak ada! Kenapa begitu cepat dia pindah…Apakah dia terganggu denganku tadi?
Jantungku berdebar tidak keruan. Heran, ngapain aku memikirkan penonton lain. Lagipula, film yang tengah kutonton semakin menegangkan. Sayang, kulewatkan begitu saja…
“Mas Faiz…lama bener sih, ke toiletnya?!” protesku, begitu mas Faiz muncul dan kembali duduk di sampingku. Dasar. Bukannya minta maaf, suamiku itu hanya senyum dan menempelkan jari telunjuknya di mulut. Artinya aku musti diam, jangan berisik…
Benar juga, ntar penonton lain terganggu. Lagipula nggak penting ngebahas itu. Akting pemain film Thailand yang kami tonton memang bagus banget. Sayang, detailnya dilewatkan. Kugenggam tangan mas Faiz…Dingin banget. Ffuihh, ac di ruangan ini memang makin malam, semakin membekukan. Lebih baik kusembunyikan tanganku di balik pasmina yang kukenakan. Lumayan, hangat.
Bip…bip! Handphoneku bergetar, tanda ada sms masuk. Kuraba-raba isi tasku, sampai kutemukan Hp dan sekilas kubaca. Takut ada kabar penting dari rumah…Isinya …
Siska, maaf kamu lamaan menunggu di dalam ya…Tadi waktu ke toilet, Pak Pandu atasanku menanyakan beberapa point penting dalam proposalku. Kuharus ambil copy proposal di mobil sekarang. Nggak apa-apa ya…sabar sebentar.
Duh! Jantungku mau copot. Nafasku terasa begitu berat. Kuingat banget beberapa menit, bahkan detik yang lalu kulihat mas Faiz sudah duduk kembali di sampingku. Meski dia tidak bicara sepatah kata pun, meski genggaman tangannya begitu dingin…Lantas, laki-laki di sampingku ini siapa? Perlahan-lahan, kukumpulkan keberanianku untuk menoleh ke samping… Tak ada siapa-siapa! Jadi selama beberapa menit tadi, aku duduk dengan siapa? (Ft: berbagai sumber)

WANITA PENJAGA SEKOLAH



            Langit gelap, sejak siang tadi. Tetapi tidak ada tanda-tanda hujan akan datang…Beberapa hari belakangan ini, udara di sekitar kompleks tempat aku tinggal memang  super panas. Mungkin masuk musim pancaroba. Masih lumayan, kalau lagi mengajar…aku bisa ngadem di ruang tata usaha atau kelas. Bayangin saja siang bolong begini di rumah kontrakan yang belum ada ac…Waduh, seakan berada dalam ruang sauna.
Syukur, satu bulan yang lalu aku diterima bekerja di sebuah sekolah swasta di kota kelahiranku Semarang. Sebuah lembaga pendidikan cukup elite dan disegani di kota lumpia ini, sampai-sampai seluruh ruangannya sudah menggunakan AC. Yah, meskipun bangunannya tua banget... Arsitekturnya bergaya Belanda dengan banyak jendela dan pintu tinggi, bergerendel. Konon, sekolah itu pernah menjadi sekolah noni-noni Belanda jaman penjajahan.
            Fuihh! Lagi-lagi beberapa siswa tidak menyelesaikan tugasnya dengan sempurna. Keringat mulai membanjir di keningku. Masih saja, kepanasan. Padahal aku sudah memilih mengerjakan koreksian di teras, depan rumah. Satu, dua siswa, terpaksa kuberi nilai jelek. Mau bagaimana lagi? Mereka tidak berusaha maksimal menjawab semua pertanyaan yang kuajukan. Padahal kan…buku panduannya banyak. Mereka bisa usaha, mencarinya di perpustakaan. 
            “Kelihatannya bete banget dari tadi? Banyak koreksian ya?” tegur Lisa teman satu kontrakan, mengejutkan. Akibat terlalu serius, sampai-sampai aku tidak memperhatikan kehadirannya. Perempuan bertubuh langsing dengan wajah imut, oriental itu mengingatkanku pada penyanyi Mei Chan, personel Duo Maia. Matanya sipit dengan lesung pipit dan hidung bangir. Imut banget.  Dulu dia teman satu jurusan, tetapi beda angkatan. Kebetulan banget, kami akhirnya ketemuan lagi di kota ini, bahkan mengontrak rumah yang sama.
            “Hus! Ntar disamber jin…Ngelamun!”  tegur Lisa, lagi…
            “Dasar, ngagetin… Iya, nih…peer anak-anak. Banyak yang bikin senewen. Ngerjainnya nggak total sih, banyak soal yang mustinya gampang mereka selesaikan dengan jawaban ala kadarnya. “
            “Jangan ngomel…Ntar cepet tua lho…Tapi kamu betah kan kerja di sana? Gimana…ada guru cowok yang ganteng dan masih single nggak? Kenalin dong…”
            Dasar tuh, temanku ini memang suka iseng. Ngomonginnya nggak jauh dari cowok. Padahal aku terkenal tomboy di kampus dulu. Temanku cowok semua, tetapi tidak satu pun dari mereka yang akhirnya serius menjadikanku pacar.
            “Udahlah kelaut saja kalau ngomongin cowok. Nggak ada yang ganteng. Ada single, tapi bapak-bapak…Usianya sudah hampir kepala lima. Mau? Ntar besok ya, kutanyain nomer teleponnya atau biar dia yang hubungi kamu…” ledekku sambil membereskan berkas-berkas pekerjaan rumah.
            “Lho kok udahan? Terganggu ya?”
            “Nggak kok…Memang sudah selesai. Gimana kantor kamu…kenapa nggak cari cowok di perusahaan kamu, kan malah banyak relasi?”
            “Ha…ha..ha…Hen, mereka nggak ada yang masuk kriteria…Eh, tapi ada lho salah satu orang di kantorku yang anaknya sekolah di tempat kamu bekerja.”
            “Trus, apa hubungannya denganku? Kan aku nanya cowok buat kamu?”
            Lisa manyun. Lantas menggembungkan pipinya, seperti kebiasaan dia kalau lagi kumat isengnya…
            “Bukan itu maksudku…Nggak sengaja saja, kutahu belakangan anaknya masih duduk di kelas dua SMP, sekolah kamu. Gara-garanya Pak Sandhy, teman kantorku itu mendadak ditelpon pihak sekolah. Katanya anaknya kesurupan di sekolah…”
            Mataku terbelalak, heran. Kesurupan? Kok aku tidak tahu menahu soal kejadian itu? Meski aku termasuk guru yang cuek, tidak suka ngerumpi atau ngumpul lama-lama dengan staf pengajar  yang lain, bukan berarti aku tidak tahu kabar seheboh itu kan?
            “Kejadiannya barusan?” tanyaku, penasaran.
            “Nggak sih, udah lama. Mungkin kamu belum bekerja di sana…Cuma aku tahunya belakangan, karena selama ini aku tidak begitu dekat dengan Pak Sandhy.”
            “Ooo….”
            “Bundarrrr!” ledeknya, iseng. “Lagian diceritain serius, malah komennya hanya oooo, saja. Kamu nggak curiga tuh, gedung sekolah kamu ada apa-apanya? “
            “Ada murid-murid, guru, alat belajar mengajar…”
            “Hih, nggak lucu!”
            Aku tergelak, melihat Lisa kelihatan gemes banget.
            “Ntar ya…amit-amit saja sih, moga nggak kejadian sama kamu. Soalnya sejak dulu, aku melihat bangunan sekolah itu perasaanku nggak enak. Kesannya gelap, kusam, angker…Hiiii… Memang kamu lupa, tempat itu dulu sekolahnya noni-noni Belanda…”
            “Kalau noni Belanda sekolah di sana, memangnya kenapa? Mereka manusia juga kan? Bukan sekolah hewan atau tuyul kan?” tegasku, tanpa bisa menahan senyum. Kulihat Lisa kelihatan serius dengan ucapannya kali ini. Dia tidak menerima candaanku begitu saja…, buktinya habis ngobrol panjang lebar, Lisa memilih masuk dan baru keluar kamar esok paginya.
****
            Minggu ini, tugas berat sudah menantiku. Ujian sudah diambang pintu. Murid-murid butuh materi tambahan dan banyak latihan. Gimana kalau nilai mereka jeblok? Aku tidak mau dianggap guru yang tidak bertanggungjawab. Makanya kubela-belain beri pelajaran tambahan, bagi mereka yang nilainya pas-pasan.  Untung, pihak sekolah mendukung. Mereka memperbolehkan aku menggunakan ruang kelas lengkap dengan fasilitasnya sampai sore.
            “Bu…pulangnya jangan kemalaman ya? Kami takuttt…” pinta Nikita,  sore itu disambut anggukan teman-temannya yang lain, ketika aku mulai pelajaran.
            “Kamu nggak ada yang jemput ya?”
            “Nggak, Bu…. Soal jemputan, gampang. Kami juga sering pulang barengan, karena searah rumahnya. Masalahnya…” omongan Sesha, cewek yang duduk di samping Nikita terhenti…
            “Hantuuuuu…..” sambung Marko, bernada meledek…hingga mau tidak mau, membuatku senyum
            “Hari gini ngomongin hantu…Nggak ada! Sudahlah, kalian fokus belajar. Ingin cepat pulang kan?”
            Untung, murid-muridku tahu benar kewajibannya. Nyatanya beberapa soal yang kuterangkan, mereka bisa mencernanya dengan cepat. Aku pun bisa bernafas lega, melihat mereka bergegas pulang dengan wajah cerah.
            “Ibu mau pulang bareng kami?” ajak Nikita, ketika melewati bangku tempat aku duduk. Aku menggeleng…
            “Terima kasih, Nik.. Ibu masih mau memeriksa beberapa catatan dan ulangan tadi siang…”
            “Yakin, Bu? “ Aku mengangguk, yakin. Bocah-bocah itu memang sebenarnya baik. Tinggal bagaimana kita sebagai orangtua dan guru membimbing mereka.
            Huuh! Balik lagi ke berkas-berkas yang menggunung di depan mata. Lumayan, bila aku bisa menyelesaikannya sekarang. Belum terlalu larut kok…Ntar sampai rumah, aku kan tinggal mandi dan istirahat…
            Blam! Dug! Aduh, suara apa itu? Nyaris aku melompat dari tempat aku duduk, ketika suara pintu yang dibanting itu terdengar jelas. Arah suaranya sih dari ruang sebelah. Mungkinkah ada kelas tambahan lain? Bukankah, sejak siang tadi guru-guru mengatakan mereka akan pulang tepat waktu?
            Sretttt…Sreeettttt….Aku menajamkan pendengaranku. Sepertinya ada sesuatu yang diseret. Entah benda apa, tapi bunyinya makin lama makin jelas.  Arahnya pun pasti…menuju ke arah ruanganku! Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengusir perasaan gamang yang muncul tiba-tiba. Ah, mungkin penjaga sekolah lagi beres-beres.
            Sretttt…Sretttt… Suara itu lagi! Kali ini terdengar begitu jelas, seperti melewati pintu ruangan kelasku…Tapi dari jendela, tak ada bayangan siapa-siapa di sana. Tengkukku mendadak terasa dingin, seperti ada angin yang berhembus. Jantung pun berdetak makin kencang, seiring dengan aroma melati yang tercium. Ya ampun…Mungkin ini halusinasi, sampai ngelantur yang bukan-bukan…
            Derrr! Lampu mati! Ya Tuhan, kali ini jantungku benar-benar mau copot. Phobia gelap… Apalagi di tempat yang baru aku kenal. Aku berusaha meraih handphone di dalam tas, …saking gugupnya, lama banget kuraba-raba seisi tas, tidak kutemukan juga. Kurasakan dingin itu makin membekukan…Bulu kudukku meremang, bersamaan dengan suara benda yang diseret itu kembali terdengar…dan….
            Blarrr! Lampu menyala kembali… Seorang wanita yang kutebak usianya lebih dari separuh baya sudah ada tepat di depan aku duduk. Wajahnya pucat pasi. Rambutnya lurus tergerai, melewati bahu, hingga mengingatkanku pada sosok hantu-hantu Jepang yang sering kulihat di DVD.
            “Maaaa….maaa….maafffff, ibu siapa?” suaraku terdengar bergetar. Kerongkonganku seakan kering. Tubuhku lemas, seperti terpaku di tempatnya.
            “Pulang, sudah malam… Saya mau membersihkan tempat ini…” jawabnya, setengah berbisik. Suaranya begitu lirih dan dingin. Oh, mungkin saja dia istri petugas jaga di sini. Memang sebagai karyawan baru, aku belum mengenal semua Office Boy dan petugas sekolah ini…
            Hatiku sedikit tenang. Kumasukkan semua berkasku ke dalam tas, tidak lupa kuambil handphoneku yang ternyata terjatuh di kolong meja. Tapi ketika aku berdiri, wanita itu sudah tidak ada! Entah kenapa bulu kudukku kembali meremang…Ah, bodoh amat. Aku tidak mau terlalu lama di sini, nanti lampu mati lagi. Buru-buru kuberanjak dari dudukku dan kabur…Pulang!
******
            Hari ketiga aku memberikan pelajaran tambahan, reaksi guru-guru yang lain positif. Meski mereka sempat menyesalkan, kenapa aku nekad pulang larut sendirian. Kupikir ya…tinggal di kota kelahiranku sendiri yang jelas-jelas kutahu benar jalan-jalannya, ngapain takut? Andai bekerja di Jakarta, lantas pulang malam sendiri…Nah bolehlah kutakut, karena jalan-jalannya tidak hafal. Tingkat kejahatan juga sangat tinggi…
            “Bu, nggak mau pulang bareng kami?” tawar Mika, salah seorang muridku sore ini. Kulihat beberapa siswa juga masih menunggu di depan ruang kelas. Baiknya mereka…
            “Terima kasih ya…Ibu masih mau mengecek lagi, hasil ulangan tadi pagi. Masih sore kok, kalian jalan saja dulu….”
            Sore ini, niatku memang tidak berlama-lama di sekolah. Hanya memastikan hasil ulangan pagi tadi saja, lantas pulang. Tapi ya begitulah, kalau sudah keasyikan mengoreksi, aku jadi lupa waktu…
            Sreeettttt….Sreetttttt….. Suara itu lagi? Aku menajamkan telinga. Nggak salah. Aku benar-benar mendengar ada sesuatu yang diseret. Buru-buru kumasukkan semua barang-barangku ke dalam tas, lantas kutenteng keluar…Penasaran. Aku tidak boleh mengikuti kata hatiku yang takut…Andai kulihat betul, ternyata itu pekerjaan penjaga sekolah di sini kan pasti hatiku lebih tenang…
            Ya Tuhan! Lututku lemas. Seluruh persendian seakan mau copot. Bergetar, tubuhku seperti limbung dan mau jatuh, tapi tetap kubertahan…Meski dari jarak sekian ratus meter, tapi mataku belum rabun… dari lorong kelas, kulihat sosok wanita berambut panjang tergerai tengah duduk di lantai… Dia berjalan dengan menyeret tubuhnya, alias ngesot. Tak perlu menunggu komando, langsung aku mengambil langkah seribu…sampai-sampai, aku tidak pamit satpam di depan gedung sekolah…
            Beberapa kejadian janggal yang kualami itu, benar-benar membuat nyaliku ciut. Mungkinkah aku kebanyakan nonton film horor atau membaca cerita misteri di tabloid-tabloid? Gara-gara peristiwa itu, kuterima ajakan murid-murid untuk pulang bareng.
            “Nah, gitu dong Bu…pulang sama kita-kita….” komen Nikita girang, ketika sore itu aku pulang bersamanya.
            “Tapi tunggu sebentar di warung bakso depan sekolah ya Bu…Jemputan Niki agak telat…”
            “Boleh-boleh…Sekalian kita makan bakso dulu yuk…Udah lama ibu nggak nyantai begini. Mau kan?”
            Ngobrol dengan Niki, seru. Seperti nggak ada habis-habisnya bahan obrolan. Awalnya kuduga dia murid yang agak belagu, karena keluarganya memang berada dan di atas rata-rata. Nyatanya, dia sangat sederhana.
            “Tahu nggak, Bu…Niki salut sama keberanian Ibu. Selama ini, belum ada guru yang mau pulang larut, sendiri pula…” puji cewek itu, sambil menyuap potongan bakso.
            “Ah, biasa saja. Memangnya kenapa?” tanyaku curiga, karena tiba-tiba teringat beberapa kejadian yang membuatku nyaris mati ketakutan.
            “Sekolah kita kan populer, Bu…Dulu terkenal ada penampakan wanita yang suka berjalan ngesot. Kabarnya dia dulu meninggal, karena terjatuh dari tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua sekolah kita…Wanita itu petugas kebersihan. Gosip lain bilang, dia pekerja jaman Belanda dulu yang menderita sakit, tapi memaksakan diri bekerja hingga akhirnya ditemukan tewas mengenaskan di ruang pantry yang ada di ujung lorong, kelas…Entah, cerita mana yang bener, tapi kami semua tidak ada yang pernah berani mencoba melihatnya…”    
            Glek…Bakso di tenggorokanku, seperti nyangkut. Jantungku nyaris copot. Berarti…berarti aku memang melihat….Tangan dan badanku tiba-tiba terasa dingin. Bayangan wanita pucat pasi itu kembali tergambar jelas di benakku.
            “Jangan bercanda, Nik…Kamu nakut-nakutin ibu ya?”
            “Nggak lah…Bu…Niki juga denger dari senior-senior, kok. Bahkan pernah kejadian, seorang kakak kelas kesurupan, termasuk seorang petugas kantin yang baru bekerja satu minggu.   Gosipnya lagi…” Niki menarik nafas, gayanya sudah seperti penyiar infotainmen….
            “Gosipnya kenapa?” potongku, penasaran.
            “Ujung lorong itu memang tempat dia tinggal! Belakangan diketahui siswi yang kerasukan, baru saja membuang bungkus pembalut ke tempat sampah di ujung lorong itu. Dia juga tidak suka, masih ada suara berisik, apalagi jam dia istirahat….Makanya kami takut, kalau ibu kami tinggal sendiri sore-sore, kan ntar si dia terganggu…Saatnya kami pulang, kok ibu masih kerja di situ…”
            Duh!  Kali ini aku tidak mau dengar ceritanya lagi. Badanku lemas. Kuputuskan, pelajaran tambahan besok tidak terlalu lama, hingga kami semua bisa pulang lebih cepat. Ampunn...(Ft: berbagai sumber)